Hafal 30 Juz Al-Quran Meski Memiliki Keterbatasan Fisik

0
94

Cirebon,- Rizal, begitulah ia dipanggil. Laki-laki berusia 21 tahun itu duduk dengan tegap di atas kursi rodanya. Bersiap mengikuti Ujian Tahfidz Nasional yang diadakan di kantor PPPA Daarul Qur’an Cirebon. Ia akan menjadi salah satu perwakilan Cirebon untuk mengikuti Wisuda Tahfidz Nasional pada 26-29 April 2018 mendatang.

Dengan keterbatasan yang dimilikinya, Rizal mengikuti Ujian Tahfidz Nasional se-Ciayumajakuning, Subang, Tegal dan Brebes yang bukan hanya hafal 30 juz Al-Quran, namun juga hafal nomor ayat serta halaman Al-Quran.

Aston Hotel

“Saya tertarik menghafal Al-Quran setelah sering menonton video tutorial menghafal dari Ustaz Yusuf Mansur,” ungkap pria kelahiran Indramayu, 21 November 1997.

Begitu semangatnya Rizal belajar hingga mencoba mengulang membaca ayat Al-Quran sampai 20 kali. Merasa ketagihan karena mudah dalam menghafal, dia memutuskan menjadi santri di Rumah Tahfidz Al-Hidayah, Indramayu, sejak September 2015 lalu.

Dalam sehari, ia menghafal 1 sampai 2 halaman Al-Quran. 30 Juz telah dihafalnya dalam kurun waktu 2 tahun. Setelah menghafal bacaan ayat Al-Quran, Rizal langsung menghafalkan nomor surat, juz, dan juga halamannya. Ia tulis di kertas bacaan awal dari tiap-tiap nomor ayat yang Ia hafalkan.

Istana Kerang

Motivasi terbesar laki-laki bernama lengkap Fikri Abu Rizal dalam menghafal Al-Quran adalah secarik amplop dari almarhumah Ibundanya bernama Rohati. Tahun 2015 lalu, menjelang beberapa hari mengikuti ujian dan wisuda Juz ‘Amma, Ibunda Rizal meninggal dunia.

Dalam keadaan sangat berduka lantaran kehilangan Ibundanya, Rizal sempat tidak semangat mengikuti ujian dan wisuda Juz ‘Amma di Rumah Tahfidz Al-Hidayah Indramayu. Suatu ketika, dia sedang membuka lemari dan merapikan lipatan baju-bajunya. Ia terkejut karena menemukan secarik amplop berisi uang, di mana jumlahnya sesuai dengan kebutuhan biaya ujian dan wisuda Juz ‘Ammanya. Ternyata uang tersebut telah disiapkan jauh-jauh hari oleh almarhum ibundanya agar Rizal bisa mengikuti ujian dan wisuda tersebut. Dari kejadian itulah semangatnya berkibar kembali. Saat itu ia baru menghafal 15 juz.

Salah satu impian terbesar Rizal adalah ingin bisa berjalan. Dia cacat sejak lahir dan ingin sekali dapat berjalan layaknya orang lain yang pergi ke sana kemari dan bermain bebas. Alhamdulillah saat ini, Ia sedang menjalani terapi untuk bisa berjalan. Tak hanya itu, Rizal juga ingin suaranya bisa lebih baik, karena saat ini sedang ada masalah dengan kesehatan tenggorokannya.

Karena Ia tidak bermukim di rumah tahfidz, setiap hari Ayah Rizal bernama Royhan dengan siaga mengantar dan menjemput Rizal ke rumah tahfidz untuk belajar, terkadang Pamannya juga ikut membantu. “Saya lihat, orang yang normal itu butuh hiburan, butuh kesenangan. Bagi saya yang punya kekurangan, saya lebih memilih menghafal Al-Quran, karena bagi saya Al-Quran lah yang menghibur saya,” ujarnya.

Sebelumnya, Rizal pernah menjadi peserta Wisuda Akbar 2017 dimana hafalan surat Al-Fath-nya yang diuji. Setelah lulus dari MTS Pangabean, Indramayu. Ia memilih untuk tidak melanjutkan sekolah karena tidak mau merepotkan keluarga dan orang lain. Jalan yang Rizal pilih adalah menghafalkan AL-Quran untuk bisa membanggakan kedua orang tuanya, serta menyelamatkan orang tuanya di akhirat nanti.

“Kata Abi, menghafal Quran itu bisa buat thariqah, jalan saya biar dekat sama Allah,” Tutur Rizal dengan antusias. Rizal membiasakan diri untuk disiplin. Ia mewajibkan dirinya sendiri untuk tidak bermain dengan ponselnya sebelum jam 19.00 WIB. Rizal bercita-cita ingin jadi ulama, bukan ulama yang sekedar ceramah tetapi memperjuangkan Islam. Rizal ingin meluruskan persepsi yang salah tentang Islam dari masyarakat.

Bahkan, salah satu guru pembimbing Rizal di Rumah Tahfidz Al-Hidayah Indramayu, Hasanuddin mengungkapkan kebanggaannya kepada Rizal. Dia juga berharap akan lebih banyak lagi yang termotivasi dengan kisah yang dialami oleh Rizal. (AC560/rilis)