Sejak Kerajaan Pajajaran, Upacara Adat Seren Taun Rutin Digelar

0
48
Acara Seren Taun di Kuningan

Kuningan,- Setiap tahunnya, Upacara Adat Seren Taun di Cigugur, Kabupaten Kuningan selalu diselenggarakan. Upacara ini diselenggarakan setiap tahun di tanggal 22 Rayagung-bulan terakhir kalender Sunda.

Arti dari kata Seren Taun adalah pelepasan tahun, diadakan di akhir tahun dan mendekati pengujung awal Tahun Baru Saka.

Aston Hotel

Upacara Seren Taun dipusatkan di Pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, kediaman Pangeran Djatikusumah, yang didirikan tahun 1840.

Upacara ini juga dimaksudkan agar Tuhan memberikan perlindungan di musim tanam mendatang.

Ketua Yayasan Tri Mulya Tri Wikarma yang juga Ketua Pelaksana acara Seren Taun masyarakat Sunda Wiwitan Cigugur, Dewi Kanti mengatakan Upacara Adat Seren Taun sudah ada sejak ratusan tahun. Sejak Kerajaan Pajajaran hingga saat ini.

“ Masyarakat adat sunda Cigugur bertekad terus melestarikan dan melakukan upaya perlindungan terhadap hukum-hukum adat warisan dari para leluhurnya,” ujarnya, Senin (3/9/2019).

Dewi menjelaskan, seperti filosofi Prabu Niskala Wastu Kancana menyebutkan, pakena gawe rahayu pikeun heubeul jaya dina buana (berbuat baiklah agar lama jaya di dunia).

“Kebaikan sosial yang berdampak bagi masyarakat banyak itulah yang diajarkan dalam Tradisi Seren Taun,” ungkap Dewi.

Tampak Hadir, Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Moeldoko, Penjabat Gubernur Jawa Barat M. Iriawan, Bupati Kuningan, sesepuh dan tokoh adat setempat, serta sebagian besar penduduk desa di sekitar Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Penjabat Gubernur Jawa Barat, Mochamad Iriawan pun memuji tradisi Seren Taun yang tak putus diselenggarakan setiap tahun.

Selain itu, Iriawan menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Jokowi yang sangat memperhatikan warga Jawa Barat, terutama melalui berbagai pembangunan infrastruktur yang sangat bermanfaat untuk menyejahterakan rakyat.

“Perpanjangan tol dari Bandung-Majalaya-Garut-Tasikmalaya hingga Cilacap serta pengengembangan Bandara Cikembar di Sukabumi menjadi buktinya,” kata Iriawan.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Kuningan, Acep Purnama menyatakan di samping sebagai aset di bidang kepariwisataan, Seren Taun punya nilai tinggi bagi Kabupaten Kuningan yang sangat kaya warisan kebudayaan.

“Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke (kalau tak ada masa lalu, tak ada masa sekaarang),” kata Acep Purnama.

Acep juga menegaskan, Kecamatan Cigugur merupakan miniatur dari Indonesia. Beragam etnis suku dan agama ada di sini. Karena itu, perbedaan bukanlah sebuah hambatan, tapi sebuah khasanah, keindahan yang harus kita hormati.

Upacara adat Seren Taun yang di kaki Gunung Ciremai, Kuningan digelar dengan berbagai ritual nan kaya nilai budaya. Di antaranya prosesi Tari Buyung yang gerakannya menggambarkan penyelarasan manusia dengan alam.

Dalam tarian itu, manusia diajak untuk lebih dekat dengan alam dan mencintainya sebagai sahabat yang harus terus berjalan bersama.

Puncak upacara Seren Taun serupa festival. Arak-arakan masyarakat terdiri dari empat formasi barisan muda-mudi, ibu-ibu, bapak-bapak, dan rombongan atraksi kesenian yang membawa hasil panen dari empat penjuru Cigugur.

Barisan terdepan, membawa padi, buah-buahan, dan umbi-umbian yang diikuti oleh seorang pemuda membawa payung janur bersusun tiga.

Di belakangnya, ada 11 pemudi membawa padi bibit dipayungi para jejaka. Jumlahnya sebelas, melambangkan simbol saling mengasihi (welas asih).

Baris ketiga, terdapat rombongan ibu-ibu yang membawa padi di atas kepala (nyuhun); sedangkan baris keempat, rombongan bapak-bapak memikul padi dengan rengkong dan pikulan biasa. (AC212)