Ritual Pembacaan Babad Cirebon, Begini Perjalanan Sejarah Cirebon

Cirebon,- Perjalanan sejarah Cirebon menjadi titik inti berdirinya Cirebon sebagai daerah yang kaya akan sejarah dan budayanya.

Pada awalnya, sekitar awal abad 15 Cirebon masih bagian dari Kerajaan Pakuwan Pajajaran yang dikuasai oleh Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Prabu Guru Dewata Prana atau yang lazim disebut dengan Prabu Siliwangi.

Pada saat itu, di Cirebon terdapat Kerajaan Singhapura dengan penguasanya Ki Surawijaya Sakti, lalu digantikan oleh adiknya Ki Gedeng Tapa yang menjadi juru Labuhan Muara Jati yang tidak lain adalah ayah Nyai Subang Larang dari perkawinannya dengan Nyai Ratna Kranjang putri Ki Gedeng Kasmayan penguasa Cirebon Girang.

Pada tahun 1440 M / 1362 Saka, di wilayah selatan pesisir Cirebon yang sekarang disebut Kelurahan Lemahwungkuk, terdapat seorang Pertapa bernama Ki Danusela dengan istrinya Nyai Arum Sari, Ratna Riris (anaknya) dan sesepuh wilayah tersebut yang bernama Ki Sarnawi.

BACA YUK:  Inilah Pasangan Jaka Rara Utama Kota Cirebon 2022

Ratu Raja Arimbi Nurtina, Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon mengatakan pada awalnya, wilayah Lemahwungkuk itu masih sepi penduduk dan hanya didiami oleh beberapa orang saja.

“Wilayah Lemahwungkuk itu, pada perjalanannya menjadi ramai ketika Pangeran Walangsungsang putra Prabu Siliwangi membabad Alas Kebon Pesisir bersama Ki Danusela dengan menggunakan Golok Cabang pemberian dari seorang Pendeta Buda Parwa yang bernama Sanghyang Nago dari Gunung Singkup,” ujarnya usai pembacaan Babad Cirebon, Rabu (12/9/2018) malam.

Lanjut Ratu Arimbi, Cirebon sebagai pedukuhan yang dibuka oleh Ki Danusela (Ki Gedeng Alang-alang) pada Minggu Kliwon tepatnya pada 1 (satu) Suro 1367 Saka / 1445 M, bersama Pangeran Walangsungsang /Cakrabuwana membabad alas (Babakyaksa Sajarah) dengan membangun pemerintahan Pakuwuan dan mengangkat Ki Danusela sebagai Kuwu pertamanya bergelar Ki Gede Alang-Alang atas perintah Syekh Dahtul Kahfi.

BACA YUK:  Rangkaian HUT ke-44, RS Sumber Kasih Gelar Donor Darah

“Sementara, titik enol Babad Alas itu adalah wilayah Witana (Wi = Pembuka. Tana = Tana. disebut Tanah Pembuka) yang sekarang berada di dekat Bangsal Mande Mastaka (Tempat Bertahtanya Sultan Kanoman),” bebernya.

Dari situlah, kata Ratu Arimbi, kemudian Kesultanan Kanoman berkeyakinan bahwa Cirebon kini telah berusia 573 tahun, merujuk pada Babakyaksa Sajarah Pakuwuan Caruban yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuwana dan Ki Danusela.

“ Oleh karena itu, setiap tahunnya pada tanggal 1 Ram-Ji-Ji / Muharram (Sura) selalu diadakan Pembacaan Babad Cirebon di Keraton Kanoman Cirebon dan melaksanakan Kirab Agung dari Keraton Kanoman menuju Astana Gunung Jati ( Makbaroh Gusti Sinuwun Sunan Gunung Jati) di desa Gunung Jati, dan turut medale Kereta Paksi Naga Liman,” jelasnya.

BACA YUK:  Seagate Memperbesar Kapasitas Penyimpanan dengan Game Drive Berlisensi Resmi untuk Konsol PlayStation 5 dan PlayStation 4

Pada tahun ini, tanggal 1 Sura jatuh pada hari Selasa, 11 September 2018. Acara ritual Pembacaan Babad Cerbon dilaksanakan di Bangsal Witana dengan melakukan doa tawasul kepada leluhur.

Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan prosesi Pembacaan Babad Cerbon dengan didahului pembukaan, pembacaan ayat suci al-Qur’an, sambutan yang mulia Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin dan sambutan dari pemerintah setempat.

Usai acara tersebut, dilanjutkan dengan Pembacaan Babad Cerbon, setelah itu baru kemudian Kirab Agung menuju Astana Gunung Sembung dengan menggunakan Kereta Paksi Naga Liman. (AC212)

(Dilihat: 80 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.