Kamis, 28 Oktober 2021

Petani Garam di Desa Rawaurip Cirebon Keluhkan ini kepada KSP

Populer

Nasabah BRI Cirebon Kartini Dapat Hadiah Mobil dari Panen Hadiah Simpedes

Cirebon,- Kantor Cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cirebon Kartini menggelar undian Panen Hadiah Simpedea (PHS) periode pertama tahun 2021....

Satreskrim Polresta Cirebon Amankan Delapan Pelaku Penganiayaan

Cirebon,- Jajaran Satreskrim Polresta Cirebon mengamankan delapan pelaku penganiayaan. Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang korban meninggal dunia dan dua korban...

Kecintaan Hariyani Prasetyaningtyas terhadap Dunia Perpustakaan Membuahkan Banyak Prestasi

Cirebon,- Kecintaan di bidang perpustakaan, dirasakan oleh Hariyani Prasetyaningtyas. Seorang librarian yang bekerja di BPK Penabur Cirebon sejak tahun...

BI Fast Payment Siap Diluncurkan, Biaya Transfer Antarbank Hanya Rp 2.500

Jakarta,- Pakai BI Fast Payment, transaksi antarbank untuk Rp 250 juta hanya dengan biaya Rp 2.500 per transaksi. Implementasi...

Inilah Tradisi Muludan Tiap Tahun Masyarakat Argasunya Kota Cirebon

Cirebon, — Ribuan santri dan warga ikut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Piderma, Sumur Loa, Kelurahan...

Cirebon,- Kepala Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia, Jendral (Pur) H. Moeldoko berdialog dengan petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jumat (8/10/2021). Para petani masih mengeluhkan adanya kebijakan impor garam.

Saat tanya jawab, salah satu petani garam Desa Rawaurip, Ismail Marzuki (34) mengeluhkan soal masalah impor garam. Menurut Ismail, sering kali pemerintah mengimpor garam ketika garam lokal melimpah, dengan alasan untuk memenuhi industri.

“Karena garam petani tidak bisa masuk industri, sebab NaCl-nya rendah. Padahal petani garam sangat mampu untuk menghasilkan garam dengan kualitas yang diminta industri, asalkan difasilitasi oleh pemerintah berupa alat produksinya yakni alat berupa plastik geomembran,” ujar Ismail.

Loading...
BACA YUK:  DPW Partai Nasdem Jabar Calonkan Eti Herawati sebagai Wali Kota Cirebon 2024

Jadi, kata Ismail, petani garam sangat mengharapkan dengan kedatangan KSP Moeldoko ke Desa Rawaurip memberikan bantuan berupa geomembran. Agar kualitas garam kita bisa lebih baik dan layak untuk industri.

Selain itu, pihaknya juga mengeluhkan soal harga, selama ini harga garam selalu anjlok karena harga yang menentukan para kartel. Sehingga petani sangat berharap pemerintah menjembatani agar hasil garam petani langsung diterima oleh pengusaha garam dan pemerintah juga menentukan kebijakan HET garam.

“Sebab selama ini belum ada HET garam. Sehingga harga dapat mudah dipermainkan oleh pasar maupun oknum lainnya,” ujar Ismail.

Harga garam, kata Ismail, pernah juga di bawah Rp 100 /kg. Ini membuat petani menangis. Sehingga, perlu ada kebijakan HET garam.

Untuk harga garam sekarang Rp. 500 /kg. Tetapi petani tengah kesulitan memproduksi garam. Sebab selain hujan sering kali turun di musim kemarau, juga air laut pasang selalu merendam lahan garam.

Selain itu, keluhan yang disampaikan kepada KSP terkait permasalahan abrasi. Sudah 2 tahun ini sebagian petani garam kita menangis. Sebab sebagian lahan garam mereka sering kali terendam air laut pasang, yang mengakibatkan petani tidak bisa mengolah lahan mereka.

BACA YUK:  Bantu Persediaan Darah PMI, Aston Cirebon Gelar Donor Darah

“Puluhan hektare lahan garam tak bisa digarap. Harapan kami tentu ada solusi dari pemerintah pusat untuk mengatasi terjadinya abrasi ini. Supaya petani garam bisa kembali menggarap lahan garam,” kata Ismail.

Kemudian soal ketakutan para petani garam di desa Rawaurip akan ancaman adanya industri yang menggerus lahan garam. Sebab, kata Ismail, selain secara RTRW kecamatan kami sudah ditetapkan sebagai zona industri juga buktinya sudah ada. Yakni pembangunan PLT I, II dan PLTG di tetangga desa kami yang menggerus puluhan hektare lahan garam.

Pihaknya berharap pemerintah pusat tetap mempertahankan kearifan lokal di sini. Yakni lahan garam tetap dipertahankan, karena 90 persen lebih mata pencaharian masyarakat sini adalah mengolah garam.

“Jika dibangun industri tentu hanya akan menjadi penonton karena keahlian kami hanya di bidang pengolahan garam,” pungkasnya. (AC212)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Lantik Tujuh Kepala Sekolah, Walikota Cirebon Pesan Lakukan Manajemen Pendidikan

Cirebon,- Wali Kota Cirebon, Drs. Nashrudin Azis melantik tujuh Kepala Sekolah (Kepsek) tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kota Cirebon....

Peringati Maulid Nabi, Masjid Al-Maksudhi Hadirkan Gus Miftah

Cirebon,- Masjid Al-Maksudhi yang berlokasi di Jalan Sultan Ageng Tirtayasa, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon menggelar pengajian, Selasa (26/10/2021) malam. Kegiatan ini berkolaborasi...

DPW Partai Nasdem Jabar Calonkan Eti Herawati sebagai Wali Kota Cirebon 2024

Cirebon,- DPW Partai Nasdem Jawa Barat menargetkan meraih dua kursi DPR RI, dua kursi DPR Provinsi, tujuh kursi DPRD Kota Cirebon pada pemilu 2024....

Kawasan Industri di Kota Cirebon Hanya 49,09 Hektar, Perlu Rencana Induk Pembangunan Industri Kota

Cirebon,- Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon menggelar Forum Group Discussion (FGD) terkait rencana pembangunan industri di Kota Cirebon....

More Articles Like This