Cegah Radikalismee, BNPT dan FKPT Jabar Gelar Seminar Literasi Digital “Saring Sebelum Sharing”

0
29

Cirebon,- Badan Nasional Penanggulanhan Terorisme (BNPT) dan Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat menggelar seminar Literasi Digital, Kamis (9/8/2018).

Kegiatan yang berlangsung di Luxton Hotel Cirebon, Jalan RA. Kartini, Kota Cirebon mengusung tema “Saring Sebelum Sharing” Listerasi Digital sebagai upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di masyarakat.

Aston Hotel

Machmud Mubarok, selaku Ketua Pelaksana Kegiatan dalam sambutannya mengatakan era digital saat ini informasi begitu sangat deras, bahkan diibaratkan seperti tsunami informasi. Sehingga, kita kesulitan untuk membedakan mana berita-berita yang benar dan mana berita yang hoax.

“Seperti kita tahu, Indonesia merupakan salah satu negara pengguna internet terbanyak. Setidaknya ada 132 juta pengguna internet di Indonesia, 60 persennya mengakses internet melalui telpon pintar,” ujarnya.

Di sisi lain, lanjut dia, yang menyedihkan adalah tingkat gemaran membaca masyarakat Indonesia sangat rendah. Hasil penelitian perpustakaan nasional tahun 2017, menunjukan tingkat kegemaran membaca hanya sekitar 36 persen.

“Ironisnya memang, kemajuan teknologi digital internet di era milenial ini ibarat pisau bermata dua, satu sisi bermanfaat namun disisi lain menjadi masalah tersendiri,” bebernya.

Dan yang pasti, menurutnya, akan berdampak juga secara lebih jauh lagi terhadap pembentukan karakter bangsa, terutama dengan masifnya sebuah informasi yang tidak tersaring.

“Hal tersebut menuntut peran masyarakat agar lebih cerdas memilih dan memilah informasi yang baik dan tepat guna,” jelasnya.

Oleh karena itulah, kata dia, Literasi Digital penting dipahami dan diperlukan sebagai pembelajaran strategis untuk pengembangan pendidikan, terutama di era cyber seperti sekarang ini.

Listerasi Digital sejatinya mendorong penduduk di dunia digital untuk lebih arif dalam menggunakan instrumen teknologi tersebut. Bahwa, ancaman di dunia digital saat ini tidak sedikit.

“Masifnya berita hoax, hingga informasi menyesatkan yang menggiring masyarakat ke arah tindakan-tindakan yang tidak terpuji, hingga maraknya identitas di jagat maya,” terangnya.

“Itulah tantangan untuk kita semua untuk segera bisa menyelesaikanya atau membenahinya,” tutup Machmud. (AC212)