Sayangi Paru-paru: Hindari Paparan Polutan dan Miliki Asuransi Kesehatan

Jakarta,- Dua tahun terakhir, kesehatan paru menjadi topik hangat seiring merebaknya virus covid-19. Virus ini  dapat mengganggu sistem pernafasan dengan tingkat keparahan yang berbeda pada penderitanya. Pasien yang sudah sembuh pun ada yang masih merasakan gejala covid dalam jangka waktu lama (long  covid) yang menyerang otak dan paru-paru. Mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit paru harus ekstra waspada terkena infeksi covid-19 karena berisiko memperparah penyakit paru yang ada dan  butuh penanganan medis.

Senior Manager Medical Underwriter Sequis dr Fridolin Seto Pandu mengatakan penyakit paru dapat  menyerang siapa saja. Terutama, mereka yang memiliki gaya hidup tidak sehat, seperti perokok aktif  juga bagi yang sering terpapar asap rokok, mudah terkena penyakit Bronchitis Kronis dan PPOK  (Penyakit Paru Obstruktif Kronik). Mereka yang aktivitasnya sering terpapar debu atau zat kimia dalam  waktu lama dapat mengalami iritasi dan peradangan pada paru karena debu dan zat kimia bisa masuk ke  saluran pernafasan sehingga menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Mereka yang tinggal  di daerah perkotaan rentan terpapar polusi udara dari emisi gas buang kendaraan, asap pembakaran  sampah, dan pabrik serta asap dan uap dari dapur.

“Jangan remehkan penyakit paru walau beberapa penyakit masih bisa disembuhkan, seperti infeksi  Bronchitis akut, Pneumonia, ISPA, TB. Tetapi, tingkat kesembuhan atau keparahan pasien dipengaruhi  oleh sistem imun, usia, dan keberadaan penyakit penyerta (komorbiditas). Ada juga penyakit paru yang sangat sedikit kemungkinannya untuk sembuh karena sudah terjadi dalam jangka panjang. Jenis pengobatan dan masa pengobatan tergantung tingkat kritisnya. Jika pun dapat sembuh kemungkinan  sudah terdapat penurunan dari fungsi paru tersebut. Seperti, PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronis) atau  kanker paru. Penyebab utama penyakit ini dapat berbeda-beda tapi umumnya terjadi karena merokok  dalam jangka waktu lama (tahunan) dan terpapar polusi udara menahun” sebut dr. Fridolin.

Cara Terbaik Menjaga Kesehatan Paru 

Cara terbaik menjaga kesehatan paru menurut dr. Fridolin adalah menghindari penyebab penyakit penyakit tersebut. “Jangan tidur di lantai tanpa alas, sebaiknya berhenti merokok, dan hindari asap  rokok serta paparan polutan lainnya. Baik juga jika tidak bepergian pada malam hari atau jika tidak dapat  dihindari maka gunakan pelindung yang aman, seperti pakaian lebih tebal atau jaket saat berkendara. Gunakan juga masker KN95 atau KF94 saat di ruang publik, “ sebutnya.

BACA YUK:  Selama Januari 2024, Satresnarkoba Polresta Cirebon Ungkap 14 Kasus Narkoba

Dr. Fridolin juga menyarankan masyarakat menjaga kebersihan udara di rumah dengan membersihkan  pendingin, jendela, ventilasi, dan memastikan sirkulasi udara di rumah tetap lancar. Kebersihan diri juga  penting diperhatikan, misalnya mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terutama sebelum,  sesudah makan, dan setelah buang air. Ia juga mengingatkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan imunitas sehingga perlu aktif bergerak, rutin berolahraga, dan menyeimbangkan waktu bekerja dengan  beristirahat, memperhatikan asupan gizi serta menghindari stres berlebih.

Sedia Jaring Pengaman Finansial dengan Asuransi 

Meskipun kita sudah menjaga kesehatan dengan baik. Tetapi, banyak faktor luar yang masih dapat  mengganggu kerja sistem paru. Faktor luar ini tidak dapat kita kontrol. Misalnya saja, penyebaran polusi yang semakin tinggi sementara Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin sedikit. Sebut saja polusi di Jakarta  yang tengah ramai dibicarakan karena berada dalam posisi kualitas terburuk bahkan terlihat kasat mata.  Paparan polusi sangat cepat berdampak pada warga yang memiliki riwayat gangguan saluran pernafasan  dan kardiovaskuler.

Berhubung risiko gangguan kesehatan saat ini semakin tinggi maka Faculty Head Sequis Quality  Empowerment Yan Ardhianto, AWP, RFP, IPP menyarankan agar masyarakat melengkapi diri dan  keluarga dengan jaring pengaman berupa asuransi kesehatan dan penyakit kritis. Hal ini menurut Yan  karena jika masyarakat tidak punya asuransi kesehatan atau asuransi penyakit kritis kemudian terkena  risiko sakit maka harus menyediakan sejumlah uang dengan cepat dan nilainya bisa lebih besar dari  simpanan yang dimiliki. Mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan juga cenderung mendapatkan  pengobatan lebih lama karena harus menyelesaikan pembayaran biaya tindakan medis sebelum bisa  mendapat pengobatan selanjutnya.

“Manfaat asuransi kesehatan dan penyakit kritis pada dasarnya untuk melindungi aset dan kekayaan  agar tidak tergerus karena harus membiayai pengobatan medis. Apalagi, pengobatan penyakit kritis  bersifat jangka panjang dan berbiaya mahal. Dengan memiliki asuransi kesehatan maka biaya  pengobatan selama sesuai perjanjian pada polis akan ditanggung oleh perusahaan asuransi. Sangat baik  lagi jika asuransinya sudah dilengkapi kartu berobat cashless karena pasien dapat segera ditangani di  rumah sakit rekanan perusahaan asuransi. Sedangkan bagi mereka yang sudah memiliki asuransi  kesehatan dan tidak memiliki permasalahan dalam perencanaan keuangan, dapat menambah  perlindungan dengan asuransi penyakit kritis. Bilamana terkena penyakit kritis dan tidak bisa lagi  mencari nafkah maka Uang Pertanggungan dari asuransi penyakit kritis bisa digunakan untuk menggantikan penghasilan yang hilang,” sebut Yan.

BACA YUK:  Berbagi Berkah di Bulan Ramadan, Pemuda Pancasila Kota Cirebon Bagikan Takjil dan Buka Puasa Bersama

Pelajaran Berharga dari Pengalaman Ibu Felicia, nasabah Sequis  

Manfaat asuransi kesehatan nyata dirasakan oleh salah satu nasabah Sequis, Felicia, karyawan swasta  yang mengidap covid-19 pada Februari 2021. Ia dirawat selama 8 hari di RS Pondok Indah Puri Indah dan menghabiskan biaya sekitar Rp60 juta. Semua biaya pengobatan ditanggung seluruhnya oleh Sequis karena telah memiliki produk Sequis Q Infinite MedCare Rider X Booster (SQIMCX) Plan 0 sejak tahun  2020. Felicia pun merasakan layanan cashless Sequis yang membuat keluarganya terbantu saat  mengurus pengobatan sehingga dapat berjalan dengan cepat tanpa ada hambatan.

Sayangnya, tidak lama setelah sembuh dari covid-19, Felicia didiagnosis terkena infeksi paru pada  September 2021. Penyakitnya mulai ditangani serius di RS Medistra sejak Februari 2022 setelah rumah  sakit sebelumnya tidak mampu menangani penyakit yang dideritanya. Penyebab infeksi paru Felicia  adalah Aspergillus Fungi (jamur aspergilus) yang cukup umum ada di udara. Felicia dirawat sejak 31  Maret 2022 dan diberikan serangkaian obat-obatan yang biayanya cukup mahal. Ia mengisahkan antara lain ada 1 obat infus yang harganya Rp9,7 juta dan diberikan selama 2 minggu. Dokter juga melakukan  tes biopsy sampai bronchoscopy yang harus diperiksakan sampai ke laboratorium di luar rumah sakit.

“Kasus saya ini cukup unik dan langka sehingga membutuhkan proses pengobatan yang panjang. Bahkan  tim dokter yang menangani pun mencapai 10 orang. Saya merasa terbantu karena memiliki  perlindungan asuransi kesehatan dari Sequis sehingga biaya pengobatan tidak perlu saya tanggung  sendiri. Jika saya tidak memiliki SQIMCX, bisa jadi saya harus menjual mobil untuk biaya pengobatan.  Belajar dari kasus saya, sakit itu sangat mahal, jauh lebih mahal daripada membayarkan premi asuransi. Biaya pengobatan saya hingga tanggal 9 Juni 2022 sudah mencapai sekitar Rp750 juta dan hingga kini  pengobatan masih terus berjalan di salah satu rumah sakit di Malaysia. Jadi, jangan tunda memiliki  asuransi karena sakit betul-betul datang tanpa diduga,“ sebut Felicia.

Belajar dari pengalaman Felicia, nasabah Sequis yang harus menjalankan pengobatan yang mahal maka  Yan mengajak masyarakat untuk segera memiliki asuransi kesehatan selagi sehat. “Seringkali kesadaran  akan pentingnya asuransi kesehatan atau asuransi penyakit kritis baru muncul setelah merasakan  sulitnya memenuhi biaya pengobatan. Namun apa mau dikata jika sudah sakit akan sulit mendapatkan  asuransi,” imbuh Yan.

BACA YUK:  Jelang Idulfitri, Pemda Kota Cirebon Pastikan Stok Pangan Aman

Bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit paru bisa jadi masih boleh mengajukan asuransi tapi  dengan melengkapi syarat underwriting, yaitu dokumen-dokumen medis terkait penyakit parunya serta  hasil – hasil pemeriksaan yang dimiliki. Dokumen ini kemudian akan direview dan dianalisis oleh  perusahaan asuransi kesehatan. Bisa jadi calon nasabah diminta melakukan pemeriksaan, seperti  pemeriksaan fisik dan rontgen dada. Jika penyakitnya diperkirakan dapat memengaruhi fungsi paru  maka akan ditambahkan dengan pemeriksaan spirometri (uji fungsi paru). Bila hasil seleksi risiko tidak  memenuhi syarat maka perusahaan asuransi akan menolak pengajuan asuransi. Jika pengajuan polis  diterima, biasanya ada ketentuan syarat tertentu (sub standard) yakni premi yang lebih tinggi dari umumnya atau diberlakukan ketentuan pengecualian (exception), yaitu perusahaan tidak menanggung  penyakit yang sudah diderita sebelumnya.

“Asuransi bermanfaat untuk membantu kita mengelola kondisi finansial bila terjadi risiko sakit. Apalagi,  sejak pandemi, risiko sakit dan kematian menjadi sangat tinggi. Saat ini pun sudah banyak masyarakat  yang kembali bekerja normal tapi dengan kewaspadaan tinggi karena munculnya subvarian BA.4 dan  BA.5, sehingga sangat bijaksana jika kita segera melengkapi diri dengan asuransi kesehatan,“ sebut Yan.  Ia menutup paparannya dengan menyampaikan komitmen Sequis dalam melakukan pembayaran klaim.

Pembayaran Klaim dan Manfaat yang dibayarkan Sequis sepanjang tahun 2021 mencapai Rp2,9 triliun. Sedangkan hingga Mei 2022 (year-on year), Sequis Life tetap menjalankan komitmennya dengan  membayar Klaim dan Manfaat sebesar lebih dari Rp672,4 miliar. Sejak awal pandemi sampai Mei 2022,  telah dibayar juga Total Klaim Kesehatan terkait covid-19 sebesar lebih dari Rp150 miliar untuk lebih  dari 14 ribu kasus. Khusus produk Sequis Q Infinite MedCare Rider yang telah banyak membantu  nasabah Sequis dalam pengobatan penyakit kritis, hingga Mei 2022 pembayaran klaim kesehatan dari  produk ini telah mencapai Rp51, 6 miliar untuk sekitar 3.000 kasus. (*)

 

Bagikan:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *