Yeni Nuriyani, S. Pd, M. Pd : Jalani Hidup Secara Proporsional

0
205
Yeni Nuriyani, S. Pd, M. Pd

Cirebon,- Dalam menjalani kehidupan, harus dilakukan secara proporsional. Artinya, setiap hal memiliki porsinya masing-masing. Kata-kata inilah yang menjadi motivasi diri bagi Yeni Nuriyani, S. Pd, M, Pd, selaku Wakil Kepada Sekolah Bidang Kehumasan SMA Negeri 4 Kota Cirebon.

Pasca lulus kuliah di Universitas Sriwijaya Palembang jurusan Ilmu Fisika tahun 1997, Yeni menikah dengan anggota militer Kapten CPM Dadang Surahman, SE. Saat ini, rumah tangga mereka dikaruniai dua orang putera yang masih bersekolah di SMA dan di Universitas Telkom.

Aston Hotel

Yeni melanjutkan studi S2 nya dengan mengambil jurusan Psikologi Pendidikan dan menjadi guru Fisika di SMA Plus Negeri 17 Palembang. Namun, saat sang suami dipindahtugaskan di Cirebon tahun 2003, Yeni mengikuti jejak suami dan berkarir di Cirebon, sampai dengan saat ini.

Bagi kasat mata, tidak mudah menjalani peran ganda seperti berkarir sebagai Wakasek bidang Humas, sebagai istri dari Komandan Satuan Pelaksana Pemeliharaan Ketertiban (Dansatlak Hartib) Denpom 3/III Cirebon, dan juga menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi suami dan anak-anaknya. Namun saat dijalankan secara proporsional, semuanya mampu berjalan dengan baik, dan terbiasa dengan sendirinya.

“Sebelum memutuskan untuk menikah, saya sudah tau konsekuensinya sebagai istri prajurit dan Alhamdulillah usia pernikahan kami sudah menginjak 21 tahun di bulan April 2018 ini,” ungkapnya.

Memiliki kepala keluarga yang berlandaskan militer membuat wanita kelahiran Baturaja, 17 Januari 1970 ini semakin memahami porsi hidup. Bagaimana memperlakukan dirinya dalam berkarir, memposisikan dirinya sebagai ibu dari anak-anak, menjadikan dirinya istri yang baik bagi suami, serta mendidik kedua anaknya dengan baik. Perlu ketelatenan, dan kesabaran.

Mendidik anak ibarat membuat guci dari tanah liat. Bentuk dan karakter anak sangat didominasi dari bentukan pendidikan dan sistem nilai dalam keluarga. Terutama peran seorang ibu yang juga sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak. Sehingga masa depan mereka pun akan dipengaruhi oleh pola asuh dan pola pendidikan keluarga di samping pendidikan sekolah.

“Saya dibesarkan menjadi istri parjurit yang dituntut bekerja banyak, bukan banyak menuntut. Menjadi istri yang mandiri ketika suami sedang bertugas, dituntut terampil dalam banyak hal, sehingga seperti sekarang ini,” paparnya.

Baginya dan suami, kehidupan seorang anak itu merupakan perpaduan didikan dari kedua orang tuanya. Jika didikan keduanya baik, maka anak akan menjadi sosok yang baik, begitupun sebaliknya. Sehingga keduanya bekerja sama mendidik anak tidak dengan memaksa, melainkan dengan kasih sayang dan kepercayaan. (AC560)