Tutup Operasi Penanggulangan Bencana, PMI Harapkan Masyarakat Bangkit

Jakarta,– Sedikitnya 400 unit fasilitas publik dibangun Palang Merah Indonesia (PMI) dan Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) bersama Mitra Gerakan serta pihak swasta di daerah terdampak bencana gempa dan tsunami pada 2018 hingga 2022 di Sulawesi Tengah, Lombok, serta Banten dan Lampung. Sejumlah fasilitas publik yang dibangun selama masa tanggap darurat hingga pemulihan tersebut diserahkan pengelolaannya ke masyarakat serta pemerintah daerah.

Ketua Umum PMI Muhammad Jusuf Kalla (JK) berterima kasih kepada 2.611 relawan yang telah membantu dalam operasi tanggap darurat hingga pemulihan di wilayah tersebut. Selain melibatkan relawan, operasi kemanusiaan tersebut juga sukses berkat dukungan Mitra Gerakan dari dalam dan luar negeri. Tercatat, ada lebih dari 34 Mitra Gerakan internasional serta lebih dari 100 donatur individual, komunitas hingga perusahaan yang mendukung operasi kemanusiaan tersebut.

BACA YUK:  Ini Alasan Calon Pengantin Harus Datang ke En's Wedding Festival 2022 di Transmart Cipto

“PMI diberi mandat oleh pemerintah untuk terlibat dalam penanganan bencana. Namun, kami tidak bisa sendiri, dibutuhkan partisipasi dari pihak swasta, komunitas, hingga masyarakat dan relawan untuk membantu sesama,” jelasnya dalam Penutupan Operasi Penanggulangan Bencana Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, dan Selat Sunda, Senin 21 Maret 2022 di Markas Pusat PMI.

Selama 3 tahun lebih masa pemulihan, PMI bersama dengan IFRC dan Mitra Gerakan telah membangun 10 fasilitas kesehatan, 6 rumah ibadah, serta 6 markas PMI daerah terdampak bencana. PMI juga membangun 143 fasilitas kebersihan serta sumur bor di NTB, Sulawesi Tengah, dan Lampung-Banten. Selain itu, sedikitnya 50,5 kilometer pipa air yang rusak akibat bencana telah diperbaiki.

BACA YUK:  AquaEasy Lakukan Perjanjian Kemitraan dengan eFishery untuk Digitalisasi Industri Udang

“Melalui operasi ini kita memiliki banyak sekali pencapaian yang luar biasa. Kontribusi bersama dengan PMI serta Mitra Gerakan yang dimulai saat masa tanggap darurat hingga pemulihan serta upaya untuk meningkatkan kapasitas masyarakat menunjukkan kekuatan sebuah kolaborasi serta menjadi bagian dari IFRC,” ujar Jan Gelfand selaku Kepala Delegasi IFRC untuk Indonesia dan Timor Leste yang turut hadir dalam acara di Markas Pusat PMI (21/03).

Selain pembangunan fisik, PMI juga menyalurkan bantuan tunai untuk penyintas bencana NTB, Sulawesi Tengah, dan Lampung-Banten. Bantuan senilai Rp111 miliar lebih tersebut diberikan untuk memulihkan mata pencaharian penyintas bencana. Penerima bantuan ini tercatat mencapai 30 ribu keluarga.

BACA YUK:  Cicipi Hidangan Japanese Katsu Seaweed Curry Rice di Aston Bogor

Untuk menguatkan kesiapsiagaan bencana, PMI juga menggelar program pengurangan risiko bencana di 3 wilayah tersebut dengan membentuk 395 relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) PMI di Sulawesi Tengah dan 220 SIBAT di Banten yang telah menjangkau 50 ribu masyarakat. Masyarakat di wilayah tersebut diajak PMI untuk memahami kerawanan bencana, langkah aman saat terjadi, dan setelah bencana.

Menurut JK, penutupan operasi kemanusiaan ini menandai kesuksesan kolaborasi kemanusiaan antar pihak. Ia berharap, upaya bersama ini terus terjalin dalam menghadapi bencana-bencana lainnya.

“Dan yang paling penting, kami mengharapkan masyarakat penyintas bencana dapat kembali menjalani kehidupan normal serta bangkit dari musibah tersebut,” tukas JK.

 

(Dilihat: 69 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.