Kamis, 28 Oktober 2021

Tradisi Panjang Jimat Muncul Sejak Masa Pemerintahan Pangeran Cakrabuwana

Populer

Satreskrim Polresta Cirebon Amankan Delapan Pelaku Penganiayaan

Cirebon,- Jajaran Satreskrim Polresta Cirebon mengamankan delapan pelaku penganiayaan. Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang korban meninggal dunia dan dua korban...

Kecintaan Hariyani Prasetyaningtyas terhadap Dunia Perpustakaan Membuahkan Banyak Prestasi

Cirebon,- Kecintaan di bidang perpustakaan, dirasakan oleh Hariyani Prasetyaningtyas. Seorang librarian yang bekerja di BPK Penabur Cirebon sejak tahun...

BI Fast Payment Siap Diluncurkan, Biaya Transfer Antarbank Hanya Rp 2.500

Jakarta,- Pakai BI Fast Payment, transaksi antarbank untuk Rp 250 juta hanya dengan biaya Rp 2.500 per transaksi. Implementasi...

Inilah Tradisi Muludan Tiap Tahun Masyarakat Argasunya Kota Cirebon

Cirebon, — Ribuan santri dan warga ikut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Piderma, Sumur Loa, Kelurahan...

Arstone Gallery Cirebon Tawarkan Produk Marmer, Granit, Travertine, dan Onyx

Cirebon,- Arstone Gallery yang berlokasi di Jalan Pagongan No. 15 A (Samping Lengko Barno), Kota Cirebon menghadirkan pengalaman belanja...

Cirebon,- Tradisi Maulid Nabi Saw, merupakan tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islamisasi di nusantara. Tradisi ini muncul dan berkembang sejalan dengan peran dakwah Walisongo sejak abad ke-15.

Dalam upaya Islamisasi, para wali songo, termasuk Sunan Gunung Jati dalam dakwahnya menggunakan pendekatan sosiologi, antropologi, teologi dan pemahaman yang banyak memunculkan nilai-nilai dan ajaran dengan agama lokal (Hindu-Budha-Kapitayan).

Sehingga, terjadi sebuah proses akulturasi dan sinkretisasi budaya yang di dalamnya mengandung ajaran dan nilai-nilai Islam. Dalam perjalananya, tradisi Maulid Nabi Saw berkembang dan menyebar di Nusa- Jawa.

Loading...

Ratu Raja Arimbi Nurtina, selaku Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon mengatakan bahwa istilah penyebutan peringatan Maulid Nabi Saw sendiri bermacam-macam, bergantung pada daerah masing-masing.

“Di Keraton Cirebon, tradisi Maulid Nabi dikenal dengan beragam istilah, antara lain Pelalan, Sekatenan, Pelal Ageng, Muludan dan Panjang Jimat,” ujarnya kepada awak media di sela-sela Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kanoman Cirebon, Minggu (10/11/2019) malam.

BACA YUK:  Kisah dari Brebes : Mengharukan Pertemuan Ibu Kandung dan Anaknya , Setelah 40 Tahun Terpisah

Lanjut Ratu Arimbi, Tradisi ini sudah muncul dan berkembang sejak masa pemerintahan Pangeran Cakrabuwana, anak Prabu Siliwangi yang menjadi penguasa Cirebon sejak 1447-1479 M.

“Sejak masa Pangeran Cakrabuwana, tradisi ini diperingati lengkap dengan tradisi-tradisi yang dilakukan sebelumnya, yang dimulai sejak tanggal 1 Safar sampai pada puncaknya 12 Robiul Awal,” bebernya.

Tradisi ini, kata Ratu Arimbi, terus bertahan dan dilestarikan secara rutin ketika masa Sunan Gunung Jati (1479-1568 M), Fatahillah (1568-1570 M).

Kemudian, berlanjut pada mas Pangeran Mas Zainul ‘Arifin atau Panembahan Ratu I (1570-1649/50 M), masa Panembahan Girilaya (1650-1662), masa Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Tohpati (1662-1677/8 M) dan sampai pada masa pemerintahan Sultan Badridin Sultan Kanoman pertama hingga generasi sultan keduabelas sekarang, Sultan Raja Muhammad Emirudin, sebagai pewaris trah Sunan Gunung Jati dan pemangku tradisi Maulid Nabi Saw.

BACA YUK:  Nasabah BRI Cirebon Kartini Dapat Hadiah Mobil dari Panen Hadiah Simpedes

Malam puncak tradisi Maulid Nabi Saw di Keraton Kanoman, biasanya disebut dengan malam Pelal Ageng, atau biasa disebut Panjang Jimat.

Ratu Arimbi menjelaskan, Panjang Jimat adalah acara inti yang bermaksud memperingati kelahiran Gusti Rasulullah SAW pada malam 12 Rabiul Awal tahun Gajah (571 M) di Kota Mekah.

“Istilah Pelal Ageng artinya malam keutamaan yang besar yakni malam dimana Gusti Rosul lahir ke dunia. Sementara istilah Panjang Jimat berasal dari kata Panjang, yakni sebuah piring pusaka berbentuk bulat dan besar pemberian seorang Pertapa suci bernama Sanghyang Bango dari Gunung Surandil kepada Pangeran Cakrabuwana,” terangnya.

Sedangkan, istilah Jimat, menurut Ratu Arimbi, yakni sebuah benda apapun yang mempunyai nilai sejarah dan nilai pusaka yang harus dijaga.

Istilah Jimat sendiri hakikatnya adalah nasi yang sudah dimasak dengan cara dikupas satu-persatu setiap biji berasnya sebari melantunkan solawat kepada Nabi Saw oleh rombongan Bapak Sindangkasih.

Lalu kemudian, beras tersebut disucikan atau dipesusi di Sumur Bandung dengan diiringi lantunan solawat oleh rombongan Perawan Sunti yakni rombongan Perawan yang suci (menjaga wudlu) dari hadas kecil dan hadas besar.

“Nasi yang proses memasaknya diiringi solawat inilah yang disebut nasi jimat. Jimat yang dimaksud adalah bacaan solawat yang dipanjatkan kepada Baginda Gusti Kanjeng Rosulullah Saw,” ungkapnya.

“Karena solawat inilah yang menjadi sebab syafa’at umat manusia ketika tiba hari pembalasan nanti dan Nur Muhammad lah yang menjadi sebab terciptanya manusia dan alam smesta,” imbuhnya.

BACA YUK:  Edi Baredi Terpilih Menjadi Ketua Kadin Kabupaten Cirebon

Dengan kata lain, panjang Jimat adalah iring-iringan nasi jimat yang diletakan di atas piring panjang yang di dalamnya mengandung banyak keutaman (fadhilah).

“Sehingga malam itu disebut pelal ageng, yakni malam yang bersejarah dalam sejarah manusia dan alam semesta serta mengandung banyak keutamaan,” tutup Ratu Arimbi. (AC212)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Peringati Hari Sumpah Pemuda, Fun Tour de Bali dengan Bersepeda

Cirebon,- Enam orang penggemar sepeda melakukan perjalanan dengan bersepeda melalui kegiatan Fun Tour de Bali, Jakarta – Bandung –...

Lantik Tujuh Kepala Sekolah, Walikota Cirebon Pesan Lakukan Manajemen Pendidikan

Cirebon,- Wali Kota Cirebon, Drs. Nashrudin Azis melantik tujuh Kepala Sekolah (Kepsek) tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kota Cirebon. Pelantikan berlangsung di Ruang Adipura,...

DPW Partai Nasdem Jabar Calonkan Eti Herawati sebagai Wali Kota Cirebon 2024

Cirebon,- DPW Partai Nasdem Jawa Barat menargetkan meraih dua kursi DPR RI, dua kursi DPR Provinsi, tujuh kursi DPRD Kota Cirebon pada pemilu 2024....

UGJ Gelar Wisuda Sarjana dan Magister ke-60 dan 61 Tahun 2021

Cirebon,- Wisuda sarjana dan magister ke-60 dan 61 tahun 2021 Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon diselenggarakan di Hotel Swissbell Hotel Kota Cirebon, Selasa...

More Articles Like This