Tradisi Dugdag di Keraton Kasepuhan Cirebon, Penanda Masuknya Bulan Ramadan

Cirebon,- Memasuki bulan Ramadan, setiap daerah pasti memiliki tradisinya masing-masing. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Keraton Kasepuhan Cirebon.

1. Penanda Memasuki Bulan Ramadan

Di Keraton Kasepuhan Cirebon, tradisi untuk menandakan masuknya bulan Ramadan yakni dengan tradisi Dugdag. Tradisi ini masih terus dilakukan setiap tahunnya ketika ingin memasuki bulan Ramadan di Keraton Kasepuhan.

Sultan Sepuh XIV, P.R.A. Arief Natadiningrat mengatakan pada setiap akhir bulan Syaban di Keraton Kasepuhan Cirebon selalu melaksanakan tradisi Dugdag.

“Tradisi Dugdag ini adalah pemukulan bedug secara bertalu-talu, artinya menandakan bahwa nanti malam sudah memasuki bulan Ramadan dan sudah melaksanakan Salat Sunnah Tarawih,” ujarnya kepada awak media, Minggu (5/5/2019).

BACA YUK:  Pemda Kota Cirebon Kembali Berangkatkan Bantuan Untuk Korban Gempa di Cianjur

2. Makna Tradisi Dugdag

Pelaksanaan tradisi Dugdag yang dilaksanakan selepas sholat ashar tersebut memiliki makna, yang pertama kata Sultan, kita menyambut gembira di bulan Ramadan sesuai dengan sabda Rasulallah SAW, bahwa kalau memasuki bulan Ramadan harus dengan hati gembira.

“Harus menyambut dengan gembira, yang Insyaallah tentunya akan dibalas dengan pahala dan surga,” terangnya.

Yang kedua, makna dari tradisi Dugdag ini untuk memberitahukan kepada khalayak ramai.

“Jadi tradisi ini memang tidak ada di Madinah atau di Mekkah, tetapi tradisi ini ada di Indonesia,” jelasnya.

BACA YUK:  Penyelesaian Konflik Keraton Kasepuhan di Balaikota Cirebon Deadlock

Para Wali Songo pada waktu itu, lanjut Sultan, memanfaatkan waditra atau bedug ini untuk kegiatan-kegiatan ritual Islam, seperti untuk menandakan waktu salat lima waktu, pada saat Idul Fitri dan Idul Adha, dan untuk memberitahukan memasuki bulan Ramadan.

Kemudian yang ketiga, kata Sultan, makna dari tradisi Dugdag ini adalah kita bisa bersilaturahmi diantara para wargi, abdi dalem, dan juga masyarakat Magersari di dalam acara ini.

“Mudah-mudahan dengan silaturahmi ini kita diberikan keberkahan,” harap Sultan.

3. Sudah Ratusan Tahun

BACA YUK:  Menakar Efek Awan Gelap Ekonomi Global di Indonesia

Waditra atau bedug, menurut Sultan, sebelum masuknya Islam, alat tersebut sudah ada terlebih dahulu.

“Jadi, pada waktu itu wali songo yang ada di Pulau Jawa ini mengakomodir semua seni, budaya, adat, dan tradisi yang ada, kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan ritual agama Islam,” bebernya.

“Sehingga, tradisi Dugdag sudah ada hampir ratusan tahun yang lalu dan sampai saat ini tradisi Dugdag masih dijalankan,” tandasnya. (AC212)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *