Tinjau Rumah Ambruk di Cirebon, Anggota Komisi VIII DPR RI Evaluasi Perumahan Bersubsidi

Cirebon,- Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Selly Andriani Gantina mengunjungi rumah ambruk di Desa Kejuden, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Minggu (26/1/2020).

Rumah ambruk akibat hujan disertai angin kencang tersebut merusak tiga rumah di Perumahan Taman Pelangi, Desa Kejuden pada Jumat (24/1) petang lalu.

Dalam kunjungannya Selly mengucapkan keperihatinan untuk para korban rumah ambruk akibat hujan dengan angin kencang di wilayah Kabupaten Cirebon, khususnya Desa Kejuden. Dan pihaknya berharap kejadian ini adalah kejadian terakhir di Desa Kejuden dan Kabupaten Cirebon.

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada Kuwu, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Cirebon, bahwa ternyata keguyuban masyarakat di sini dirasakan masih sangat besar. Buktinya, pasca kejadian bencana kita bisa bersama-sama hadir disini untuk memberikan pertolongan pertama untuk para korban.

BACA YUK:  Pastikan Profesimu Dapat Diskon 50% di Paparazzi Barbershop, ini Daftarnya

“Yang menjadi perhatian saya adalah kejadian ini menjadi titik evaluasi saya, khususnya yang menjadi komplek perumahan yang ada di Desa Kejuden. Karena, komplek ini adalah komplek perumahan subsidi yang dijalankan dari Pemerintah Pusat,” ujar Selly saat ditemui usai meninjau rumah ambruk di Desa Kejuden, Kabupaten Cirebon.

Menurut Selly, seharusnya program subsidi ini bisa memberikan kesejahteraan dan kenyamanan untuk rakyatnya, tapi ternyata baru empat tahun menjelang lima tahun belum apa-apa rumahnya baru kena hujan saja sudah ambruk.

“Berarti harus ada evaluasi dan perhatian khusus dari pemerintah terkait standarisasi rumah bersubsidi untuk warga masyarakat dari menengah kebawah,” ungkapnya.

Dalam kejadian tersebut, yang menjadi catatan bagi pihaknya, bahwa BPBD Kabupaten Cirebon harus betul-betul sigap mengantisipasi kejadian yang terjadi di wilayah kita.

BACA YUK:  27 Tahun Grage Business Hotel Yogyakarta, Kini Semakin Eksis

“Alhamdulillah, Kabupaten Cirebon saat ini tidak mengalami bencana seperti tahun 2018 lalu, tetapi agak anehnya bencana banjir maupun angin ada di wilayah Cirebon bagian tengah.

“BPBD menjelaskan bahwa posisi kita yang memiliki 25 sungai besar dan kecil itu sudah mengalami sedimentasi yang sangat tinggi. Artinya, karena sedimentasi tinggi, pendangkalan, kemudian pada saat hujan besar curah air hujan ini tidak bisa terserap akhirnya melebar kemana-mana,” terangnya.

“Antisipasi ini yang memang harus ada koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi maupun daerah, agar kedepan kejadian seperti ini tidak menjadi sesuatu yang berulang di wilayah Kabupaten Cirebon,” imbuhnya.

Pihaknya meminta kepada Pemerintah Daerah di Kabupaten Cirebon sesegera mungkin menaikkan status dari BPBD Kabupaten Cirebon menjadi eselon 2. Karena, saat ini masih kelas B artinya setara dengan kantor, bahwa artinya Kepala BPBD ini sama dengan eselon 3.

BACA YUK:  Disbudpar Kota Cirebon Akan Buat Cirebon Corner di Stasiun Gambir

“Padahal, tugasnya hampir sama dengan dinas-dinas teknis lainnya, karena menyangkut dengan kemasyarakatan. Maka perhatian dan evaluasi ini yang perlu menjadi sorotan saya termasuk kepada pemerintah pusat, kemudian antisipasi untuk tanggap darurat bencana,” katanya.

Menurut Selly, rumah ambruk ini adalah contoh kecil, bahwa rumah roboh kalau ada penghuninya mau dibawa kemana. Maka, pihaknya akan meminta kepada BNBP pusat maupun kementerian sosial agar disiapkan rumah-rumah knockdown untuk tempat korban bencana sementara.

“Jangan hanya berbentuk terpal, kalau terpal ini kan sifatnya sementara sekali, padahal kita tahu kalau rumah roboh butuh waktu beberapa lama untuk membereskan. Maka rumah knockdown yang bisa lepas pakai ini bisa dijadikan salah satu materi manfaat untuk BPBD di daerah-daerah,” pungkasnya. (AC212)

(Dilihat: 5 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.