Sultan Sepuh XIV: Cirebon Memiliki Potensi yang Besar Untuk Dijadikan Desa Wisata

Cirebon,- Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan Cirebon, Sabtu (23/2/2019).

FGD tersebut mengambil tema Peran Penta Helix Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan Desa Wisata di Kabupaten Cirebon.

1. Memiliki Potensi yang Besar

Sultan Sepuh XIV, PRA. Arief Natadiningrat mengatakan Cirebon memiliki potensi yang sangat besar, hampir semua kerajinan ada di wilayah Cirebon ini, yang mungkin di daerah lain tidak ada, di Cirebon ada.

“Dan ini berpotensi menjadi desa wisata. Bahkan, beberapa desa di Cirebon ini mempunyai produk-produk unggulan,” ujarnya kepada About Cirebon.

Sehingga, kata Sultan, satu desa memiliki satu unggulan, seperti Desa Sedong punya mangga gedong gincu, Desa Sitiwinangun punya gerabah, Astapada punya kerang, Tegalwangi punya rotan, dan lain sebagainya.

BACA YUK:  Lestarikan Budaya Cirebon, Warung Mimi Sepuh Rutin Gelar Pentas Apresiasi Seni dan Budaya

“Itu banyak sekali, dan ini bisa dicreate menjadi desa wisata,” ungkap Sultan.

2. Menaikan Ekonomi masyarakat

Lanjut Sultan, sekarang tinggal bagaimana wisatawan itu bisa datang ke Cirebon untuk keliling ke potensi-potensi tersebut.

“Sehingga dengan begitu, bisa menaikan ekonomi masyarakat sekitar, karena UMK yang ada disitu akan berkembang,” terangnya.

“Pendapatan masyarakat juga bisa meningkat,” imbuh Sultan.

3. Peran Pemerintah

Sekarang, kata Sultan, yang perlu bagaimana kebijakan dari pemerintah untuk wisatawan bisa dihadiri. Yang pertama informasi, promosi, kemudian aksesibilitas, parkir, fasilitas toilet, dan lain sebagainya.

“Sehingga tumbuh menjadi desa wisata dan desa wisata ini bisa memeratakan pembangunan dan ekonomi,” jelasnya.

“Kalau wisata itu tumbuh, yang menerima dampaknya bukan saja pengusaha besar seperti hotel atau restaurant, tapi hingga pengusaha kecil, serta termasuk seniman,” kata Sultan.

BACA YUK:  Kapolres Cirebon Kota Prediksi Arus Mudik 28-30 April 2022

4. Desa Sitiwinangun

Sementara itu, Nurul Chamidah yang sedang mengambil S3 penyuluhan dan komunikasi pembangunan dan juga Dosen Ilmu Komunikasi UMC (Universitas Muhammadiya Cirebon) mengatakan bahwa Kuwu Desa Sitiwinangun pernah mengunjungi Fakultas Ilmu Sosial Politik UMC meminta kerja sama dengan akademisi untuk membina Desa wisata Sitiwinangun.

“Disitulah menjadi landasan utama saya, ketika pemimpinnya sudah memiliki niatan, maka biasanya masyarakat bisa mengikuti,” ujarnya.

“Dan kenapa saya memiliki Desa Sitiwinangun, dan yang paling utama adalah dari pemerintahnya sendiri atau tokoh pemimpinanya, itu akan menjadi salah satu fokus dan faktor keberhasilan dari pembangunan di desa,” imbuh Nurul.

BACA YUK:  Panjunan Disiapkan Menjadi Destinasi Kampung Arab

5. Keterlibatan Stakeholder 

Menurut Nurul, yang sedang saya teliti adalah penyuluhan dan komunikasi pembangunan dan dirinya lebih fokus terhadap pengembangan masyarakatnya.

Kata Nurul, masyarakatnya harus sadar dulu, mereka harus paham bahwa mereka memiliki potensi.

“Jadi, mereka harus sadar ingin berubah lebih baik. Ketika masyarakatnya sudah memiliki potensi, sudah sadar oleh kemampuannya maka, desa apapun bisa menjadi desa wisata,” ungkapnya.

Setiap wilayah menurut Nurul berbeda-beda, butuh pengembangan masyarakatnya, ada yang cepat ada juga yang lambat. Tetapi, cepat atau lambat ada juga yang mempengaruhi.

“Bagaimana keterlibatan dari stakeholder lain untuk bekerja sama, karena masyarakat tidak bisa tumbuh sendiri. Dia harus butuh bantuan dari stakeholder lainnya,” tandas Nurul. (AC212)

(Dilihat: 13 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.