SMA Muhammadiyah Tasikmalaya Studi Banding PKWU ke SMAN 4 Cirebon

0
98
Studi Banding SMA Muhammadiyah Tasikmalaya ke SMAN 4 Cirebon

Cirebon,- Mendidik anak-anak menjadi wirausaha muda sejak dini terus dikembangkan oleh SMA Negeri 4 Kota Cirebon. Dua tahun belakangan ini, siswa kelas X sudah banyak menjadi direktur/CEO perusahaan di Prakarya dan Kewirausahaan SMA Negeri 4 Kota Cirebon.

Banyaknya pengalaman yang dimiliki, menjadikan para guru dan pembimbing PKWU dari SMA Muhammadiyah 1 Tasikmalaya mengadakan studi banding ke SMA Negeri 4 Kota Cirebon. Tentu saja hal ini disambut baik oleh Kepala SMA Negeri 4 beserta jajarannya.

“Bagi SMA Muhammadiyah 1 Tasikmalaya, kegiatan ini baru pertama kali diikuti pelatihannya di Bandung beberapa waktu lalu, dan saat di sana ada pembimbing PKWU dari Cirebon yaitu bu Yeni yang sudah berjalan 2 tahun di sekolahnya, lalu saya mulai berkeinginan melakukan studi banding ke Cirebon,” papar Kepala SMA Muhammadiyah Tasikmalaya, Ena Mulyana, S. Pd., MM., kepada About Cirebon.

Aston Hotel

Dalam kegiatan studi banding tersebut, Ena Mulyana beserta rekan-rekannya menyaksikan langsung presentasi dari para CEO dan Direktur perusahaan di PKWU SMA Negeri 4. Semua dijelaskan mulai dari pembentukan tim, perencanaan anggaran, pelaksanaan, pemasaran, hingga pada pembuatan laporan.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 4 Kota Cirebon, Dr. H. Suroso, M. Pd., MM., mengaku senang dan bangga kepada peserta didiknya yang mau menekuni wirausaha. Dengan mengikuti kegiatan ini, pihak sekolah juga secara tidak langsung mendidik siswa agar pandai membagi waktu, mengelola keuangan dengan baik, dan juga menyiapkan mental enterpreneurship saat dewasa nanti.

“Waktu awal pembentukan PKWU ini dari 320 siswa dibagi kedalam 40 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan modal Rp1 juta untuk mengembangkan usahanya. Ada yang di bidang makanan, aksesoris, oleh-oleh, fashion, dan lainnya,” jelasnya.

Namun dari ke-40 kelompok ini tidak semuanya berjalan dengan baik. Artinya ada beberapa kelompok yang modalnya tidak berputar, managementnya kurang baik, dan lain sebagainya. Namun Suroso memakluminya sebagai pembelajaran bagi anak-anak. Tapi dibalik itu semua, banyak pula yang penjualannya mencapai omzet berlipat-lipat dari modal awal.

“Melihat semangat para siswa PKWU, kami berinisiatif membuka Kantin Putih Abu sebagai tempat praktek mereka berjualan dengan tempat yang representatif dan juga nyaman,” tambahnya.

Pembina PKWU SMA Negeri 4, Yeni Nuriyani, M. Pd., mengatakan memang tidak mudah menumbuhkan jiwa wirausaha pada usia anak SMA kelas X, tapi berkat dukungan dan semangat para guru, sehingga anak-anak tertarik untuk mengikutinya.

Para CEO atau Direktur bersama stafnya selain memasarkan secara offline di Kantin Putih Abu, mereka juga menerima pemesanan online atau COD. Bahkan yang sudah memesan ada pula dari Bali, Bandung, dan kota besar lainnya. (AC560).

Bagikan:
Signup for the newsletter