Serabi dan Gorengan Teman Setia Nenek Diah Selama 32 Tahun

0
155
Nenek Diah berjualan serabi di Gang Kegiren (Depan Hotel Priangan) Jalan Siliwangi Kota Cirebon

Cirebon,- Pagi buta sekitar pukul 03.00 dini hari, Nenek Diah (74 tahun) sudah bersiap mengaduk dan mengolah bahan untuk berjualan. Serabi hangat beserta gorengan, setia menemaninya selama 32 tahun sebagai ladang rezeki.

Bersama suaminya, Kakek Tarman (75 tahun), Nenek Diah diantar dari rumahnya di Gang Kegiren menuju Jalan Siliwangi Kota Cirebon. Lapak berjualannya berlokasi persis Gang Kegiren (Depan Hotel Priangan).

Aston Hotel

“Sebelum Subuh membuat adonan serabi sama gorengan, setelah salat Subuh mengangkut barang-barang pakai becak,” ungkap Nenek Diah.

Rupanya sang suami berprofesi sebagai pengayuh becak. Keduanya kompak, bahkan suami pun biasanya mangkal di tempat yang sama.

Sebelumnya, jualan serabi ini digeluti oleh orang tua dari Nenek Diah. Berpuluh-puluh tahun juga jualan serabi, dan kemudian dilanjutkan oleh Nenek Diah saat orang tuanya meninggal dunia.

“Dulu, awal saya jualan, jalanan ini masih banyak pohon-pohon besar, sekarang sudah gedung semua,” ungkapnya sembari menunjuk ke arah ruko-ruko di sekitaran Jalan Siliwangi.

Mengandalkan tungku serabi, kekhasan seakan terus dijaga. Serabinya pun berukuran besar, empuk, dan mengenyangkan. Harganya terjangkau hanya Rp2000 untuk yang original. Nenek Diah membuat serabi dengan 4 rasa, yaitu original, manis Rp3.000, Dage Rp3.000, dan serabi telur ceplok Rp5.000. Gorengannya pun murah-murah, hanya Rp1.000 per buah.

Di hari biasa, Nenek Diah menyiapkan 3 kilogram adonan serabi. Sedangkan hari Minggu, dia menyiapkan 5 kilogram adonan, karena banyak yang lalu lalang saat Car Free Day. Dia berjualan maksimal sampai pukul 09.00 WIB.

“Kalau gak habis, biasanya serabi dibawa ke Pasar Pagi, jualan disana yang sudah jadi,” tambahnya.

Saat ini, dengan semakin banyaknya penjual serabi, Nenek Diah mengaku penjualan menurun. Dulu, dia menyiapkan banyak adonan, bahkan pengunjung pun rela antri di pagi hari. Tetapi, Dia banyak bersyukur, bahwa pelanggan setia masih tetap jajan serabi kepadanya.

“Jualan serabi sekarang banyaknya anak muda, masaknya pakai kompor, bukan tungku,” ujarnya.

Rasa syukur itulah yang membawa Nenek Diah tetap sehat wal afiat. Bahkan di usianya yang sekarang sudah berkepala 7, Nenek Diah masih memiliki indera pendengaran yang tajam. Suaranya pun tegas, dan enak diajak berbincang.

“Dulu sih jualan sampai antri yang jajan, tapi ya disyukuri bae, Allah sing ngatur rezeki,” ucapnya sambil tersenyum.

Terpopuler

Nenek Diah memiliki 5 anak yang sudah berumah tangga. Bahkan ada anaknya yang tinggal di Sumatra, Bogor, dan lainnya. Cucunya sekarang sudah 12 orang, dan buyutnya sudah ada 7 orang. Jika lebaran, mereka kumpul dan menjadi obat penawar rindu bagi Nenek Diah dan Kakek Tarman. (AC560)