Sabtu, 5 Desember 2020

Senin Besok, Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon Akan Pertemukan Pihak Terkait Rusaknya Situs Matangaji

Populer

Istri Sunjaya Purwadisastra, Hj. Wahyu Tjiptaningsih Terpilih Jadi Wakil Bupati Cirebon

Cirebon,- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cirebon menetapkan Hj. Wahyu Tjiptaningsih sebagai Calon Terpilih Wakil Bupati Cirebon sisa...

Crab 1818 Hadirkan Promo Bapper, Harga Lebih Murah ⁣

Cirebon,- Restoran Pelopor Bancakan Seafood pertama di Kota Cirebon, Crab 1818 kembali menghadirkan promo untuk pelanggan.⁣ ⁣ Crab 1818 yang berlokasi...

Kandang Ayam Hadir di Cirebon, Tawarkan Menu Olahan Ayam dan Pilihan Sauce

Cirebon,- Resto Kandang Ayam kini hadir meramaikan kuliner di Kota Cirebon. Bertempat di Jalan Sudarsono, Kota Cirebon, Resto Kandang...

Mulai Desember, Pegawai di Pemkab Cirebon Gunakan Batik Mande Praja Caruban

Cirebon,- Pemerintah Kabupaten Cirebon telah menetapkan Batik Mande Praja Caruban sebagai batik baru untuk seluruh pegawai di Pemerintahan Kabupaten...

Bupati Cirebon Terkonfirmasi Positif Covid-19

Cirebon,- Bupati Cirebon, Drs. H. Imron terkonfirmasi positif Covid-19 setelah dilakukan tes usap atau swab pada Selasa (1/12/2020). Hal tersebut...

Cirebon,- Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon, dr. Tresnawaty meninjau langsung Situs Petilasan Matangaji yang berada di kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jumat (21/2/2020).

Situs Petilasan Matangaji merupakan situs bersejarah Sultah Kasepuhan V, Sultan Muhammad Sofiudin atau yang dikenal dengan Sultan Matangaji. Namun, kondisi saat ini petilasan tersebut sudah rata dengan tanah.

“Secara pribadi saya prihatin yah, karena besar di Cirebon sedih banget bukti nyata sejarah Kota Cirebon menjadi seperti ini,” ujar dr. Tresnawaty saat ditemui About Cirebon di lokasi.

Loading...

Secara kedewanan, lanjut Tresnawaty, harus melakukan sesuatu tindakan dan diberesi segera. Karena kalau dilihat situs tersebut, sebagian sudah hancur dan tertimbun.

BACA YUK:  HSI Management Cirebon Salurkan Al-Quran Kepada Panti Asuhan dan Non Panti Yatim Piatu

“Saya sempat konsultasi, apakah ini bisa diberesi atau tidak. Kalau memang bisa diperbaiki, sekalian saja diperbaiki dan betul-betul dibatasi inilah situs bersejarah,” terangnya.

“Ini juga harus dijadikan situs yang resmi dan diakui oleh pemerintah dan harus dilestarikan. Anggap saja ini sudah rusak, tapi kalau ada kesempatan untuk diperbaiki, ya diperbaiki dan dijadikan pelajaran untuk kita semua,” tambahnya.

Pihaknya berharap, kedepan kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali. Kalau ini yang pertama di Kota Cirebon, jadikan kejadian ini terakhir di Kota Cirebon.

dr. Tresnawaty menegaskan bahwa hari Senin besok akan dijadwalkan bertemu dengan pihak terkait untuk membicarakan langkah kedepan untuk menangani Situs Petilasan Matangaji.

“Kami akan memanggil pihak-pihak terkait hari Senin (24/2) untuk mendengarkan dan akan memberikan deadline waktu. Kalau tidak ada deadline waktu, nanti lupa,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Sudrajat, selaku Sejarahwan Cirebon mengungkapkan bahwa kejadian ini sebagai suatu keprihatinan kami sebagai masyarakat Kota Cirebon karena bisa terjadi seperti ini.

BACA YUK:  Lestarikan Lingkungan Hidup, Mandiri Syariah Tanam 1000 Pohon di Area Masjid Tol Cipularang

“Ini pembelajaran yah. seperti yang disampaikan dr. Tresnawaty kejadian ini yang pertama dan terakhir kali di Kota Cirebon,” ujarnya.

Pihaknya menghimbau dan memberikan deadline waktu untuk dikembalikan dan dijadikan situs petilasan Matangaji menjadi permanen. Ini merupakan bukti sejarah untuk anak cucu kita, bahwa Cirebon memiliki catatan sejarah yang sangat besar.

“Saya menghimbau kepada para pengembang, jangan seenaknya saja. Demi kepentingan bisnis, namun menghancurkan dan menghilangkan situs bersejarah,” katanya.

Sudrajat menambahkan bahwa Kota Cirebon dengan luas kurang lebih 40 KM persegi, ada ratusan situs. Namun yang sudah terdaftar menjadi situs cagar budaya melalui SK Wali Kota maupun SK Provinsi dan Pusat, baru sekitar 70-an.

“Namun masih banyak situs yang belum didaftarkan menjadi situs cagar budaya. Karena kaitannya dengan anggaran, sebuah tempat yang dijadikan sebuah situs harus ada pertanggungjawaban,” bebernya.

“Minimal juru pemelihara untuk pemeliharaan. Nah, ini kedepannya sebagai pembelajaran agar kita kembali mendata dan mendorong untuk segera dijadikan situs cagar budaya yang terdaftar,” pungkasnya. (AC212)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Bupati Imron Pimpin Kabupaten Cirebon Secara Virtual

Cirebon,- Tiga hari pasca positif Covid-19 Bupati Cirebon, Drs. H. Imron kini menjalani isolasi mandiri dan tetap menjalankan roda...

Setiap Akhir Pekan di Bulan Desember, KA Argo Cheribon dan Ranggajati Beroperasi

Cirebon,- Libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 (Nataru) PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasional (Daop) 3 Cirebon akan mengoperasikan KA Argo Cheribon...

Apresiasi Kepada Pelanggan, Telkomsel Hadirkan To the POIN Festival

Jakarta,- Jelang perayaan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, Telkomsel kembali memberikan program spesial kepada seluruh pelanggan setia dengan menggelar program To the POIN...

En’s Wedding Festival Secara Virtual Berlangsung Sukses

Cirebon,- En's Virtual Wedding Festival 2020 yang diselenggarakan oleh En's Collections dari tanggal 16-30 November 2020 sukses digelar. Selama 15 hari berlangsung yang diikuti sebanyak...

More Articles Like This