Minggu, 11 April 2021

Senin Besok, Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon Akan Pertemukan Pihak Terkait Rusaknya Situs Matangaji

Populer

Di Depan Toko Karomah Anak, Para Pedagang Kecil itu Berjuang Melawan Pandemi⁣⁣

⁣Cirebon,- Jam hampir menunjukkan pukul 10.00 pagi, laki-laki separuh baya itu tampak bergegas mendorong gerobak Es Cendol Bandung menuju...

Diundur, Pembukaan Alun-Alun Kejaksan Jadi 12 April 2021

Cirebon,- Operasional Bus Rapid Transit (BRT) dan Alun-alun Kejaksan rencananya akan dilaunching Rabu (7/4/2021). Namun, karena ada beberapa hal...

Berawal dari Marketing Hotel, Rintis Usaha Baru di Bidang Kuliner⁣

Cirebon,- Mengawali usaha dari nol merupakan suatu tantangan tersendiri bagi Siti Mutmainah . Setelah bertahun-tahun lamanya berkarir di dunia...

Aston Cirebon Hotel Kembali Hadirkan Kampoeng Ramadhan

Cirebon,- Setelah tahun lalu tidak menghadirkan Kampoeng Ramadhan, tahun ini Aston Cirebon Hotel & Convention Center kembali menghadirkan Kampoeng...

Wakili Cirebon, Carissa Dinobatkan Jadi Puteri Cilik Jawa Barat Budaya 2021⁣

⁣Cirebon,- Carissa Aretha Zara yang merupakan perwakilan Cirebon untuk mengikuti ajang Puteri Cilik Jawa Barat, mendapatkan Juara 3rd Runner...

Cirebon,- Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon, dr. Tresnawaty meninjau langsung Situs Petilasan Matangaji yang berada di kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jumat (21/2/2020).

Situs Petilasan Matangaji merupakan situs bersejarah Sultah Kasepuhan V, Sultan Muhammad Sofiudin atau yang dikenal dengan Sultan Matangaji. Namun, kondisi saat ini petilasan tersebut sudah rata dengan tanah.

“Secara pribadi saya prihatin yah, karena besar di Cirebon sedih banget bukti nyata sejarah Kota Cirebon menjadi seperti ini,” ujar dr. Tresnawaty saat ditemui About Cirebon di lokasi.

Loading...

Secara kedewanan, lanjut Tresnawaty, harus melakukan sesuatu tindakan dan diberesi segera. Karena kalau dilihat situs tersebut, sebagian sudah hancur dan tertimbun.

BACA YUK:  Asal Mula dan Keindahan di Balik Curug Bangkong Kuningan ⁣ ⁣

“Saya sempat konsultasi, apakah ini bisa diberesi atau tidak. Kalau memang bisa diperbaiki, sekalian saja diperbaiki dan betul-betul dibatasi inilah situs bersejarah,” terangnya.

“Ini juga harus dijadikan situs yang resmi dan diakui oleh pemerintah dan harus dilestarikan. Anggap saja ini sudah rusak, tapi kalau ada kesempatan untuk diperbaiki, ya diperbaiki dan dijadikan pelajaran untuk kita semua,” tambahnya.

Pihaknya berharap, kedepan kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali. Kalau ini yang pertama di Kota Cirebon, jadikan kejadian ini terakhir di Kota Cirebon.

dr. Tresnawaty menegaskan bahwa hari Senin besok akan dijadwalkan bertemu dengan pihak terkait untuk membicarakan langkah kedepan untuk menangani Situs Petilasan Matangaji.

“Kami akan memanggil pihak-pihak terkait hari Senin (24/2) untuk mendengarkan dan akan memberikan deadline waktu. Kalau tidak ada deadline waktu, nanti lupa,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Sudrajat, selaku Sejarahwan Cirebon mengungkapkan bahwa kejadian ini sebagai suatu keprihatinan kami sebagai masyarakat Kota Cirebon karena bisa terjadi seperti ini.

BACA YUK:  Aston Cirebon, Hotel Pertama di Cirebon yang Jalani Vaksinasi

“Ini pembelajaran yah. seperti yang disampaikan dr. Tresnawaty kejadian ini yang pertama dan terakhir kali di Kota Cirebon,” ujarnya.

Pihaknya menghimbau dan memberikan deadline waktu untuk dikembalikan dan dijadikan situs petilasan Matangaji menjadi permanen. Ini merupakan bukti sejarah untuk anak cucu kita, bahwa Cirebon memiliki catatan sejarah yang sangat besar.

“Saya menghimbau kepada para pengembang, jangan seenaknya saja. Demi kepentingan bisnis, namun menghancurkan dan menghilangkan situs bersejarah,” katanya.

Sudrajat menambahkan bahwa Kota Cirebon dengan luas kurang lebih 40 KM persegi, ada ratusan situs. Namun yang sudah terdaftar menjadi situs cagar budaya melalui SK Wali Kota maupun SK Provinsi dan Pusat, baru sekitar 70-an.

“Namun masih banyak situs yang belum didaftarkan menjadi situs cagar budaya. Karena kaitannya dengan anggaran, sebuah tempat yang dijadikan sebuah situs harus ada pertanggungjawaban,” bebernya.

“Minimal juru pemelihara untuk pemeliharaan. Nah, ini kedepannya sebagai pembelajaran agar kita kembali mendata dan mendorong untuk segera dijadikan situs cagar budaya yang terdaftar,” pungkasnya. (AC212)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Kolega Barbershop Dengan Service dan Barberman No. 1 Kini Hadir di Cirebon ⁣⁣

⁣Cirebon,- Kolega Barbershop kembali melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka cabang di berbagai daerah. Kali ini, Kolega Barbershop yang berpusat...

Di Depan Toko Karomah Anak, Para Pedagang Kecil itu Berjuang Melawan Pandemi⁣⁣

⁣Cirebon,- Jam hampir menunjukkan pukul 10.00 pagi, laki-laki separuh baya itu tampak bergegas mendorong gerobak Es Cendol Bandung menuju area depan Toko Karomah Anak,...

Jelang Bulan Puasa, WKM Kuningan Gelar Gowes Munggahan

Cirebon,- Menjelang bulan ramadhan, Warung Kopi Manis (WKM) Kuningan yang berlokasi di Jalan Ir. Soekarno, Kabupaten Kuningan (samping Kuningan Islamic Center) gelar gowes bersama,...

Saung Kopi Gowes Akan Kembangkan Wisata Sawah⁣

Cirebon,- Saung Kopi Gowes (Sakowes) yang beralamat di Jalan Raya Cirebon Girang - Desa Sarwadadi No. 5 Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon resmi melakukan Grand...

More Articles Like This