Sekolah Alam Wangsakerta Hadir untuk Kemajuan Masyarakat

0
41

Cirebon,- Berawal dari group diskusi bersama-sama dengan teman-temannya, seorang relawan wanita asal Kabupaten Cirebon, Farida Mahri membuka sekolah alam untuk anak-anak yang putus sekolah dan kurang mampu.

Sekolah alam tersebut bernama Sekolah Alam Wangsakerta yang berlokasi di Blok Karang Dawa, Desa Setupatok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.

Aston Hotel

Farida, selaku Ketua Yayasan Wangsakerta mengatakan kepada teman-temannya saat itu, jika diskusi saja menurutnya hanya bersifat wacana dan tidak memiliki wujud nyata.

“Kalau kita hanya diskusi dan berbicara panjang lebar untuk keadilan, untuk masyarakat, maka kita harus berbuat sesuatu,” ujarnya saat ditemui About Cirebon, Senin (21/1/2019).

1. Ingin Membuktikan dalam Kegiatan Nyata

Teja Berlian
Teja Berlian 2
Teja Berlian 3

Sekolah alam yang berada di perbatasan kota dan kabupaten Cirebon ini menempati tanah milik seseorang teman group diskusinya.

Saat itu, kata Farida, teman di group diskusi tersebut menawarkan tanah milik orang tuanya di beberapa daerah, termasuk tanah yang digunakan sekarang.

“Setelah kita survei beberapa tempat, akhirnya kita memutuskan memilih tempat disini, karena kita lihat tanahnya gersang dan menurut kami tempat ini jauh juga dari jangkauan orang,” terangnya.

“Kami ingin membuktikan, kalau di tanah gersang ini kita bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

2. Berkeliling Mengajak Masyarakat

Setelah memutuskan untuk memilih tempat di Blok Karang Dawa, Desa Setupatok ini, Farida bersama dengan teman-temannya mencoba mendekati masyarakat, terutama kaum muda untuk bertani.

“Pelan-pelan saya berusaha mendekati masyarakat Karang Dawa dan saya melihat masih banyak anak muda disini tidak sekolah, tidak memiliki kegiatan dan masih melakukan kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat,” bebernya.

“Kemudian saya berpikir bagaiamana anak-anak disini ada kegiatan, termasuk ibu-ibunya. Karena, kami pikir yang namanya mendidik anak-anak, kalau orang tuanya tidak dirangkul itu susah,” imbuhnya.

Setelah itu, Farida bersama rekannya mencoba berkeliling dan menawarkan kepada masyarakat untuk sekolah di Sekolah Alam Wangsakerta. Saat menawarkan kepada masyarakat, Farida mengaku bahwa sekolah alam ini merupakan sekolah paket.

“Saya mengusahakan yang ingin ujian bisa sekolah paket. Akhirnya saya bersama teman yang memiliki PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di Plumbon, untuk bekerja sama dengan Sekolah Alam Wangsakerta,” ugkapnya.

3. Arah Sekolah Alam Wangsakerta

Pembelajaran yang diberikan oleh Sekolah Alam Wangsakerta ini, mungkin sedikit berbeda dengan sekolah-sekolah, atau dengan lembaga pendidikan lainnya.

Pasalnya, pihak Yayasan Wangsakerta ini inginnya, bagaimana sekolah atau lembaga pendidikan itu bisa berkontribusi kepada kemajuan desa, bukan hanya untuk individu sendiri-sendiri.

“Karena, Yayasan Wangsakerta sendiri punya visi mewujudkan masyarakat yang cukup energik, cukup pangan, mampu mengembangkan teknologi sendiri, dan informasi,” kata Farida.

“Jadi, yang kami ajarkan disini itu integral dengan kebutuhan kampung itu sendiri, seperti persoalan pangan, energi, seni budaya dan lain sebagainya,” tegas Farida.

Farida pun mencontohkan cara pembelajaran di Sekolah Alam Wangsakerta ini seperti bagaimana cara membuat pupuk, sehingga setiap anak akan diberikan petak untuk menanam.

“Agar masyarakat disini itu mandiri, bukan apa-apa harus beli. Jadi mereka harus mengurangi beban hidup mereka sendiri seperti apa,” ujarnya.

“Sehingga target untuk kemandirian anak dapat tercapai dengan bekal yang diberikan,” tambahnya.

4. Menyediakan Sekolah Paket

Sekolah Alam Wangsakerta yang dibentuk pada bulan Oktober tahun 2017 tersebut, menampung lebih dari 20 anak putus sekolah dengan pendamping tiga orang.

Walaupun masuk dalam kategori sekolah alam, Sekolah Alam Wangsakerta ini bekerja sama dengan PKBM untuk menyelenggarakan sekolah Paket A, B, dan C.

“Untuk urusan belajar mengajarnya disini, tetapi untuk ujiannya di PKMB di Plumbon yang sudah bekerja sama dengan kami,” kata Farida.

Sekolah Alam Wangsakerta mulai melakukan aktivitas belajar mulai pukul 14.00 sampai dengan 17.00 setiap hari Senin sampai dengan Jumat.

Untuk tim pengajar, kata Farida, karena sifatnya sukarela, tim pengajar terbuka untuk umum.

“Namun, untuk tim pengajar kita atur, agar setiap bulannya bisa bergantian untuk mengajar,” ungkapnya.

5. Memerlukan Buku Tulis dan Alat Pertanian

Walapun sudah berjalan hampir dua tahun, Sekolah Alam Wangsakerta ini diakui masih terkendala dengan kurangnya sarana untuk praktek dan buku bacaan.

“Kami masih terkendala dengan buku tulis, buku bacaan dan ala-alat belajar teknologi yang masih jadi kendala, misalnya untuk cangkul, linggis dan alat-alat pertanian lainnya. Selama ini masih menggunakan uang pribadi, karena belum banyak bantuan,” ungkapnya.

Menurut Farida, kami juga membutuhkan alat-alat pengembangan teknologi seperti mesin pencacah sampah, mesin pembakaran dan lainnya.

“Jadi, kalau kita ingin maju ya kita harus punya alat-alat seperti itu,” tandasnya. (AC212)