Program Talkstainment Usung Tema Saatnya Pemuda Membangun Desa

0
33
Talkstainment di Kamba's Table

Cirebon,- Setelah sukses dengan program About Cirebon Talk, kini About Cirebon kembali menghadirkan program Talkstainment yang bekerja sama dengan EB Batik Tradisional.

Program yang didukung oleh Shelter Radio dan juga HIPMI Kota Cirebon, berlangsung di Kamba’s Table (Kawasan EB Batik), Jalan Panembahan, Kabupaten Cirebon, Sabtu (16/2/2019).

Aston Hotel

Program Talkstainment perdana ini, mengusung tema “Saatnya Pemuda Membangun Desa” dengan menghadirkan narasumber seorang Founder Kampung Domba, Duan Muwardi.

1. Mengetuk Kesadaran Generasi Muda

Pada kesempatan tersebut, Duan Muwardi menyampaikan kepada para peserta yang hadir pada program Talkstainment bahwa bagaimana mengetuk kesadaran kepada generasi muda, generasi penerus untuk menyadari bahwa tanggung jawab untuk membangun desa adalah anak-anak muda.

Teja Berlian
Teja Berlian 2
Teja Berlian 3

“Jadi, kita jangan banyak menghabiskan energi kita untuk sesuatu yang tidak bernilai,” ujarnya kepada About Cirebon usai acara.

Lanjut Duan, kita juga jangan banyak menggantungkan pada apa pun, seperti menggantungkan kepada pemerintahan, menggantungkan pada modal, atau menggantungkan pada teman yang banyak.

“Tapi lebih kepada kita buka mindset kita, kita buka kesadaran kita bahwa, kita harus hidup dan memberdayakan desa kita agar desa kita maju sebagai, katakanlah tempat kita lahir dan harus benar-benar dibangun oleh para pemuda,” bebernya.

2. Contoh Kecil Mengembangkan Desa

Duan mengatakan, contoh kecil untuk memgembangkan desa yaitu seperti mengatasi persoalan sampah. Persoalan sampah, menurutnya, kalau mengandalkan dari Dinas Lingkungan Hidup sampai tahun berapapun tidak akan mudah terealisasi.

“Tapi, kita bentuk seperti kelompok anak muda atau komunitas di desa tersebut agar punya kas misalnya, kita kumpulkan barang-barang bekas di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan begitu, minimalnya mengurangi timbunan sampah yang ada disekitar dan organisasi desa punya kas,” terang Duan.

Setelah memiliki kas, lanjut Duan, barulah bentuk manajemen seperti bank sampah, masyarakat menjadi nasabahnya kemudian ditulis dibuku rekeningnya, kemudian masyarakat akhirnya punya tabungan uang sampah.

“Yang nanti, tabungan itu bisa ditukar, misalnya dengan beras, minyak, atau pun dengan uang,” ujarnya.

“Lama-lama nanti, sampah memecah persoalan sampah di desa tersebut bisa terealisasi. Itu contoh kecilnya,” kata Duan.

3. Hidup Harus Bermakna

Pada kesempatan tersebut, Duan berpesan, untuk anak-anak muda sebetulnya kita harus bertanya pada diri kita. Kita hidup, kata Duan, apakah untuk hal-hal yang biasa saja atau untuk hidup yang biasa-biasa saja, atau untuk sekedar hidup.

 

“Kalau teman-teman sadar, kita ini hidup harus bergerak dan bermakna, sehingga nanti dari situ kita akan punya sesuatu yang akan kita berikan kepada masyarakat sekitar dan lingkungan,” kata Duan.

“Kita harus bangun mereka, ajak mereka dan tentunya harus dari diri kita sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, Duan menambahkan, bangunlah jiwa kita, perbanyak hal-hal yang postif terhadap kita dan ajak teman-teman dengan cara yang fleksibel, sesuai dengan passion teman-teman kita.

“Jadi, ayo maju, ayo kita bergerak untuk desa kita, dan supaya hidup kita lebih bermakna,” tandasnya. (AC212)