Prisoners of Belief "Narapidana Keyakinan"

0
448

Seorang terdakwa hari ini diputus untuk menjalani proses penahanan selama sepuluh tahun dan saat itu pula dia resmi menjadi narapidana. Status itu membuat dia tidak bebas lagi seperti dulu, pergerakanya dibatasi oleh dinding tinggi, kegiatannya diatur jadwal rumah tahanan dan segala hal yang dia senangi terpaksa harus direlakan. Sekalipun itu sementara tetapi hal itu sangat menyakitkan dan mengorbankan kehidupannya. Begitulah, cerita tentang apa dan bagaimana keadaaan ketika terjebak dalam jeruji penjara.

Setiap orang, tidak hanya pembaca namun banyak lagi diluar sana pasti sepakat untuk menolak ketika ditawarkan dirinya untuk dipenjara. Bahkan begitu menakutkanya kehidupan dan perampasan kebebasan di dalam penjara, membuat sebagian orang rela membayar. Mereka membayar penyidik, hakim bahkan sipir untuk tidak di penjara. Tetapi ternyata bukan hanya manusia, seekor binatang pun secara naluri tidak akan betah berada dalam penjara, meskipun penjara itu terbuat sangkar emas dan disediakan makanan terbaik. Contohnya adalah seekor burung yang selalu berusaha kabur dan lebih memilih bebas daripada tekungkung dalam sangkar.

Aston Hotel

Fenomena penjara tidak hanya persoalan penjara yang lahiriah atau penjara yang terlihat, seperti yang kita jelaskan di atas. Dimana dalam keadaan terkurung dan terbatas pergerakanya. Akan tetapi ada pula penjara yang sifatnya batiniah, yaitu penjara yang memenjarakan keyakinan. Bahkan menurut para pakar management, penjara keyakinan ini lebih berbahaya dibandingkan dengan penjara fisik. Bila hendak dikomparasi, penjara fisik masih memungkinkan adanya perubahan dalam bersikap manakala narapidana mampu berkontemplasi. Namu beda halnya dengan penjara keyakinan, jika tidak segera ditanggulangi, penjara keyakinan akan membawa pada keburukan yang terus menerus.

Saat ini, kita begitu sering mendengar berita mengenai perampokan, penjambretan bahkan yang paling vulgar adalah berita mengenai seorang manusia yang tega membunuh sesama manusia. Lalu kemudian diakhir berita tersebut dijelaskan penyebabnya, rata-rata penyebab segala kejahatan itu adalah hilangnya kepercayaan diri atau frustasi. Entah karena ekonomi, cinta ataupun konflik batin yang cenderung (dirasa) tidak pernah bisa mereka selesaikan. Bila kita telaah, sesungguhnya yang melakukan hal keji seperti itu ialah mereka yang sudah kehilangan semangatnya. Dan hilangnya semangat itu akibat dari diri yang terpenjara oleh keyakinan yang keliru. Sekalipun (mungkin) mereka terpuaskan oleh tindakanya, tetapi puas yang mereka rasakan sebatas pada kemampuan mereka lari dari masalah. Oleh-oleh dari akibat yang mereka lakukan adalah mereka kehilangan kemampuan mereka sesungguhnya(the ultimate you).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Josep Bergh, yang dijelaskan lebih lanjut di dalam buku Blink karya Malcolm Gladwel, Dia mencoba untuk melakukan sugesti kepada mahasiswanya. Mahasiswa diberikan sugesti dengan pertanyaan yang bervariasi, sebagian pertanyaan yang penuh emosi dan sebagian lagi pertanyaan yang menuntut untuk dijawab dengan positif thinking. Setelah memberikan ragam pertanyaan itu kemudian dia berusaha untuk mengetahui efek pekerjaan penelitiannya. Dia sengaja menempatkan kedua kawannya untuk mengobrol di pintu ruang kerjanya. Hasilnya, mahasiswa yang diberi pertanyaan emosi cenderung emosional, mereka marah kepada kedua temannya, mereka menyuruh pergi kedua temanya dengan emosi. Sementara mahasiswa yang diberi pertanyaan yang dengan jawaban yang positif thinking cenderung lebih sabar, mereka dengan sabar menunggu sebelum akhirnya bertemu dengannya untuk memberikan lembar jawaban.

Artinya apa, prisoners of belief atau narapidana keyakinan terbentuk oleh beberapa faktor yang satu diantaranya adalah sugesti. Narapidana keyakinan terbiasa dengan keyakinan bahwa dirinya terbatas dan apa yang diperolehnya itu sudah takdir. Dia lalu kemudian menyalahkan dirinya yang sial, orang lain yang menghalangi bahkan tuhan yang menciptakanya disalahkan. Semua terjadi karena dia kecewa, pekerjaanya (yang dilakukan baru terbatas) tidak pernah mendulang sukses yang berlebih. Hal itu berulang dan terus berulang.

Yang kedua, prisoners of belief bisa muncul karena tidak ada seseorang yang percaya kepadanya. Padahal kita tahu, bahwa bagaimanapun dalam kehidupan ini who needs something to belief atau kita selalu butuh orang yang percaya pada kemampuan kita. Pentingnya sebuah kepercayaan adalah karena kepercayaan pada akhirnya akan membentuk suatu keyakinan. Sedangkan suatu keyakinan, setidaknya menurut Karen Amstrong, terbentuk karena pengalaman. Bukan hanya keyakinan agama tetapi keyakinan bahwa kita bisa sukses. Orang yang terbiasa negatif dan memang lingkungan tidak mempercayainya, lama-lama dia terkubur dan seolah hanya menjadi mayat hidup. Dia tidak pernah bertemu (atau mencoba menemukan) pengalaman dimana Dia diberikan sambutan bahwa dia berhasil.

Layaknya di dalam sel tahanan, ada beberapa napi yang kemudian bertobat dan berkelakuan baik kemudian mendapatkan remisi. Namun ada pula yang terus menerus ragu bahkan pasrah yang kemudian membuat dia tetap jahat. Dia tidak menangkap sisi positif ketika Dia di tahan dan Dia bertemu dengan orang-orang yang percaya bahwa “kamu jahat, kamu jahat” bukan “kamu bisa lebih baik jika berubah”. Prisoners of belief pun begitu, tidak berbeda jauh, jika kita yakin pada lebih seringnya orang berkata “kamu pecundang” daripada “kamu hebat” maka kita menjadi narapidana keyakinan bahwa kita pecundang.

Kunci untuk kita lari dari prisoners of belief sebenarnya dibagi menjadi dua bagian, yang pertama carilah orang atau keadaan yang percaya pada diri kita, yang kedua latihlah diri kita sendiri.
Yang pertama, carilah orang yang fleksibel, dalam artian orang itu dapat mengatakan salah apabila kita salah dan menyanjung kita ketika kita benar. Diibaratkan seperti sebuah per dimana ketika kita jatuh orang-orang yang seperti inilah yang justru akan meloncatkan kita lebih tinggi. Kita seperti diberi imun dan kekuatan yang maksimal untuk tetap yakin pada diri kita sendiri. Kita merasa nyaman disampingnya dan melepaskan diri dari belenggu negatif.

Selanjutnya, lari dari cap prisoners of belief pun bisa dilakukan oleh diri sendiri. Dalam satu kesempatan, Prof Rhenald Kasali, guru besar Universitas Indonesia, pernah mencoba kita untuk memilih, menjadi telor atau bola bekels. Telor itu diibaratkan orang yang keras tertutup dan seolah-olah Dia bisa maju sendiri. Sedangkan bola bekels adalah orang yang fleksibel, lentur dan open minded terhadap perubahan. Bayangkan, ketika di jatuhkan ke lantai bagaimana hasilnya, tentu yang bersikap layaknya telor akan pecah sedangkan yang bersikap layaknya bola bekels ketika jatuh dia justru meloncat lebih tinggi.

Pada suatu bukunya, Napoleon Hill pernah bercerita mengenai sebuah keluarga kaya yang berencana menjadi penambang emas. Mereka mulai mencari titik-titik hasil bumi di sekitar rumahnya. Setelah dirasa pas, kemudian keluarga itu menggali. Setiap hari secara bergantian menggali dan semakin dalam. Namun ternyata galian-galian yang semakin dalam itu membuat mereka kesal dan menyerah, hingga pada akhirnya mereka menyerah untuk kemudian menjual rumah tersebut. Pemilik baru rumah itupun terkaget ketika melihat ada galian di dekat rumahnya. Dengan maksud melanjutkan, mereka pun menggali, hanya dalam kurun waktu satu jam, galian mereka berhasil memuncratkan minyak bumi.

Itulah selintas mengenai prisoners of belief narapidana batin yang kita mengiranya sederhana namun tidak pernahkah kita sadar itu masalah besar. Bukan kita tidak bisa tetapi kita yang memenjarakan keyakinan bisa dengan terus berpikir kita tidak bisa. Cerita Napoleon Hill pun dapat menjadi inspirasi untuk kita tidak pernah menyerah dan berusaha keluar dari prisoners of belief. Yakinlah bahwa keahliaan tanpa jiwa yang besar (sabar, memaafkan, tawadu) tidak akan pernah bertemu dengan tujuan. Jiwa yang besar ini adalah lawan dari prisoners of belief, yang mana kita mengenalnya dengan spirit of think outside the box. Hari ini gagal besok atau lusa, cepat atau lambat, dengan perjuangan dan semangat kita yakin kita pasti akan berhasil.

· Penulis ; Bakhrul Amal, pendiri diskusi buku Dialog Cirebon dan peminat kajian mengenai hukum dan pengembangan sumber daya manusia.