Pengrajin Terompet di Desa Jamblang Mulai Menurun, Ini Sebabnya

Cirebon,- Sejak isu bakteri dua tahun lalu, pengrajin terompet di Desa Jamblang, Blok Tegala, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon mulai menurun produksinya.

Sebelum isu tersebut mencuat, jelang tahun baru salah satu pengrajin bisa menjual terompet hingga 2-3 ribu kodi terompet. Namun, saat ini hanya bisa menjual 500 kodi saja.

Carti, salah satu pengrajin terompet di Desa Jamblang, Blok Tegala, Kabupaten Cirebon mengatakan produksi terompet sejak tahun 2018 mulai menurun, hal tersebut karena adanya isu bakteri dan juga bahan yang digunakan menggunakan tulisan Arab.

“Produksi saat ini merupakan sisaan tahun kemarin. Ini bahan-bahannya pakai yang tahun lalu,” ujar Caeti saat ditemui About Cirebon, Rabu (18/12/2019).

BACA YUK:  Alfamart Kirimkan Bantuan untuk Korban Banjir di Desa Melakasari Kabupaten Cirebon

Sebelum adanya isu tersebut, kata Carti, bisa memproduksi terompet hingga 2 sampai 3 ribu kodi setiap tahunnya untuk malam pergantian tahun.

“Dulu bisa sampai 2 sampai 3 ribu kodi, tapi sekarang cuma bisa produksi 500 kodi,” ungkapnya.

Menurut Carti, setiap menjelang pergantian tahun, masyarakat sekitar hampir semuanya membuat terompet. Namun sekarang banyak yang beralih menjual mainan untuk anak-anak.

“Waktu itu saya bisa mempekerjakan sampai 7 orang, karena banyaknya permintaan terompet. Tapi sekarang hanya mengerjakan sendiri, itu juga sambil jualan dirumah,” terang Carti.

BACA YUK:  Pj Wali Kota Cirebon Akan Optimalkan Lapangan Kebumen

Sementara itu, Abdulah, anak pertama dari Carti yang juga perajin terompet mengatakan bahwa dari tahun 2005 sampai tahun 2017 mulai ramai produksi terompet di wilayahnya. Namun, karena ada isu-isu terkait bakteri dan juga isu haram membunyikan terompet produksi mulai menurun sejak tahun 2018.

“Mulai tahun 2018 penjualan terompet mulai menurut drastis, yang sebelumnya bisa mencapai 3 ribuan kodi, sekarang hanya 500 an kodi,” ungkapnya.

Tahun lalu, lanjut Abdulah, para pengecer saja menjual satu kodi terompet butuh waktu semalam untuk menjualnya. Berbeda dengan dua tahun lalu dalam semalam bisa menjual sampai 10 kodi.

BACA YUK:  Revitalisasi dan Pemeliharaan Museum Benteng Vredeburg, Upaya IHA dalam Mengoptimalisasi Fasilitas dan Pelayanan Publik di Museum

“Bahan-bahan pembuatan terompet saja masih banyak sisa dari tahun lalu. Kalau masih bisa digunakan mungkin bisa membuat terompet 1.000 kodi,” kata Abdulah.

Dengan sepinya pesanan terompet, Abdulah sehari-hari membuat dan menjual mainan anak-anak hingga keluar Cirebon seperti Brebes, Tegal, hingga Pati menggunakan motor.

“Juala mainan ini berbeda dengan membuat terompet, walaupun untung kecil tetapi omset yang didapat besar,” tutupnya. (AC212)

Bagikan:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *