Penemuan Uang Palsu di Wilayah Bank Indonesia Cirebon Alami Penurunan

0
24
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, M. Abdul Majid Ikram

Cirebon,- Penemuan uang palsu di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon pada Triwulan I tahun 2019 mengalami penurunan.

1. Alami Penurunan

Aston Hotel

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, M. Abdul Majid Ikram saat temu dengan media yang berlangsung di Ruang Rapat KPw BI Cirebon, Jalan Yos Sudarso, Kota Cirebon, Rabu (22/5/2019).

Menurut Majid, temuan uang palsu sedangkan bulan April 2019 sebanyak 1.624 lembar di wilayah kerja KPw BI Cirebon.

“Kalau dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018 lalu sebanyak 2.104 lembar uang palsu,” ujar Majid.

Teja Berlian
Teja Berlian 2
Teja Berlian 3

Lanjut Majid, penemuan uang palsu setiap tahun mengalami penurunan sejak periode tahun 2015 yang bisa mencapai 16 ribuan lembar.

“Karena pada saat itu ditemukan sindikat di wilayah Kuningan dan Indramayu,” ungkapnya.

2. Program 3D

Majid menghimbau kepada seluruh masyarakat di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan) harus terus waspada terhadap penyebaran uang palsu tersebut.

“Kalau masyarakat menerima uang, khususnya uang kartal dengan pecahan besar seperti Rp. 50 ribu dan Rp. 100 ribu harus tetap di cek keasliannya dengan cara 3D (Dilihat, Diraba dan Ditrawang),” bebernya.

Karena biasanya, penyebaran uang palsu ini biasanya terjadi di pasar-pasar tradisional, pedagang kaki lima. Oleh karenanya, para pedagang tetap harus waspada terkait penyebarannya.

“Sekarang ini saja, termasuk di Kota Cirebon ditemukan ada tiga lembar uang palsu pecahan Rp. 100 ribuan,” bebernya.

“Tentunya, kita mengharapakan kesadaran masyarakat di wilayah Ciayumajakuning harus terus dijaga. Walaupun disisi lain Bank Indonesia terus melakukan edukasi kepada masyarakat melalu program 3D,” imbuh Majid.

Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Bank Indonesia Cirebon terus mendorong kepada pedagang, pengusaha restoran, hingga pedagang kaki lima, kalau bisa membekali alat pendiktesi uang palsu.

“Minimal menggunakan alat ultraviolet, yang banyak dijual dipasaran. Karena alat tersebut bisa membantu program 3D yang diedukasi kepada masyarakat,” terangnya.

3. Tidak Melihat Momentum

Sampai saat ini, kata Majid, penyebaran uang palsu di wilayah Ciayumajakuning masih ada di wilayah Indramayu dan Kuningan.

Sehingga, pihaknya menghimbau kepada seluruh masyarakat agar terus mewaspadai penyebaran uang palsu yang terjadi saat ini.

“Karena penyebaran uang palsu tidak lagi melihat momentum apakah lebaran atau tidak, tetapi sasaran penyebaran uang palsu terjadi saat ini di pasar tradisional, hingga pedagang kaki lima,” tandasnya. (AC212)