Pembangunan PLTU Cirebon 2 Sudah 71 Persen, Teknologi Akan Gunakan Ultra Super Critical

Cirebon,- Sampai awal tahun 2020, pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Cirebon unit 2 secara keseluruhan sudah mencapai 71 persen.

Pembangunan PLTU Cirebon unit 2 dengan memakan anggaran 2,2 Milyar US Dollar ini direncanakan rampung pada Februari tahun 2022.

Wakil Direktur Utama Cirebon Power, Joseph Pangalila mengatakan secara keseluruhan progres pembangunan PLTU Cirebon unit 2 sudah mencapai 71 persen. Pembangunan sudah meliputi perencanaan, pondasi, jety, boiler, tiang pancang, hingga cerobong.

“Secara keseluruhan dihitung dari perencanaan hingga saat ini sudah mencapai 71 persen,” ujarnya saat ditemui di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon, Rabu (29/1/2020).

BACA YUK:  BPRS HIK Parahiyangan Kolaborasi dengan BPRS TID dan BPR HW Aceh Dukung Pembiayaan Sindikasi Perumahan Adhigana Group

Lanjut Joseph, pertumbuhan 72 persen bukan saja yang dilihat dari kasat mata, tidak hanya secara fisik tapi ada proses-proses di belakangnya, seperti proses pengadaan dan desain masuk di dalam keseluruhan progres pembangunan.

“Secara fisik atau kontruksi, pembangun PLTU Cirebon unit 2 saat ini progresnya mencapai 59,38 persen,” katanya.

Pihaknya berharap, seluruh proses pembangunan PLTU Cirebon unit 2 bisa berjalan lancar terus, sesuai dengan rencana dan jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya.

PLTU Cirebon unit 2 berkapasitas 1.000 MW, menurut Joseph, menggunakan teknologi yang lebih canggih dibanding dengan PLTU Cirebon unit 1. Karena, teknologi yang akan digunakan PLTU Cirebon unit 2 menggunakan teknologi ultra super critical.

BACA YUK:  Ada 11 Kegiatan Selama Bulan Ramadan di Masjid Raya At Taqwa Kota Cirebon, ini Rinciannya

“Teknologi yang digunakan nanti menggunakan teknologi ultra super critical. Teknologi ini dapat mengurangi emisi pembakaran batu bara,” pungkasnya.

Selain itu, pihaknya memastikan bahwa pasokan batu bara yang akan digunakan untuk PLTU Cirebon unit 2 berkalori rendah antara 4.000 sampai 4.600 Kkal/kg.

“Karena teknologi ultra super critical menggunakan temperatur lebih tinggi, maka batu bara habis terbakar,” pugkasnya. (AC212)

(Dilihat: 7 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.