Pekerjaan Rumah bagi Petahana ; Oleh Akhmad Muzadi, S.I.P

0
51
Akhmad Muzadi, S.I.P

Setelah melakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di 24 Tempat Pemungutan Suara (TPS) pasangan Azis dan Eti unggul dengan memperoleh sebanyak 2.997 suara sedangkan pasangan Bamunas dan Edo memperoleh sebanyak 2.943 suara. Hanya berselisih 54 suara berdasarkan hitung cepat dari internal pasangan Azis dan Eti. Hasil ini tentunya harus diterima oleh seluruh masyarakat Kota Cirebon terlebih oleh para pendukung pasangan Bamunas dan Edo.

Ada beberapa pekerjaan rumah yang sudah menanti dari Petahana untuk dapat bekerja dengan baik ketika sudah dilantik nantinya.

Aston Hotel

Pertama ialah memperbaiki jaringan drainase saat ini, karena memasuki musim hujan dan berdasarkan statistik BPS (Badan Pusat Statistik) Kota Cirebon tahun 2017, curah hujan pada bulan Oktober 37.0 mm3 dengan intensitas hujan sebanyak dua hari kemudian pada bulan November 66.7 mm3 dengan intensitas hujan sebanyak lima hari dan pada bulan Desember 459.4 mm3 dengan intensitas hujan sebanyak tujuh belas hari. Beberapa daerah di Kota Cirebon yang perlu diperhatikan dan mencegah terjadinya banjir ialah Majasem, Cipto, Pemuda, Sukapura, dan Perumnas. Sesuai dengan Peraturan Daerah nomor 08 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah dalam pasal 38 ayat 3 huruf (b).

Mencegah lebih baik daripada mengobati tentunya, oleh karena itu Pemkot Cirebon sudah seharusnya memperbaiki jaringan drainase agar air yang mengalir dapat berjalan dengan lancar tanpa adanya hambatan, tidak adanya Ruang Terbuka Hijau menambah parah masalah banjir tersebut, oleh sebab itu Pemkot Cirebon juga harus segera menyediakan daerah resapan air pada daerah yang memang rawan banjir tersebut.

Kedua ialah kemacetan, panjang jalan di Kota Cirebon adalah 24.540 km kemudian jumlah kendaraan di Kota Cirebon telah mencapai 181.210 unit, data-data tersebut diambil dari BPS Kota Cirebon tahun 2017.

Lebih banyaknya kendaraan dibandingkan panjang jalan merupakan salah satu dari banyaknya kemacetan yang timbul di Kota Cirebon, belum lagi ketika berada di Pasar yang tentunya banyak angkutan kota yang berhenti untuk mencari penumpang, hal ini yang seharusnya Pemkot Cirebon dapat bergerak cepat membuat jalan baru atau fly over (jalan layang) yang memang sudah sangat dibutuhkan oleh para pengguna jalan, karena kemacetan yang sudah terlalu sering dirasakan, kemudian juga ketika terdapat kereta api yang melintas sehingga menimbulkan penumpukan kendaraan, para pengguna jalan tersebut tidak sabar dalam menunggu, sehingga pengguna jalan tersebut melanggar aturan dengan melawan arus dalam menunggu kereta tersebut melintas, yang tentunya sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kecelakaan bagi pengguna jalan.

Ketiga ialah pemerataan penduduk dan pembangunan yang tidak merata, dalam data BPS Kota Cirebon Tahun 2017 bahwa kepadatan penduduk terbanyak ialah Kecamatan Harjamukti dengan presentase sebesar 34% dan yang paling sedikit ialah Kecamatan Kejaksan dengan presentase sebesar 10%. Berkebalikan dengan kepadatan penduduk, Kecamatan Kejaksan sesuai dengan Perda Nomor 08 Tahun 2012 Pasal 19 ayat 4 huruf (s) memiliki fungsi pusat pemerintahan, peribadatan, dan perdagangan serta jasa skala kecamatan, kecamatan kejaksan tentunya sebagai pusat kota atau jantung Kota Cirebon banyak memiliki gedung-gedung tinggi seperti kantor pemerintahan, hotel, mall, dan lain sebagainya yang menyebabkan pembangunan begitu cepat terjadi tetapi, begitu sangat terbalik dengan kecamatan harjamukti yang sangat jauh dari hingar-bingar pusat kota, bahkan terdapat 449 keluarga dari kelurahan argasunya kecamatan harjamukti yang rumahnya belum terdapat aliran listrik.

Peran Pemkot Cirebon sungguh sangat dibutuhkan untuk dapat melakukan pemerataan penduduk dan pembangunan yang merata agar seluruh masyarakat Kota Cirebon dapat menikmati hasil dari pembangunan.

Keempat ialah kesenjangan sosial, kemiskinan ialah problematika setiap kota/kabupaten yang berada di Indonesia, kemiskinan di Kota Cirebon mencapai presentase sebesar 9,73% menurut BPS Kota Cirebon tahun 2017, kemiskinan terjadi dari berbagai faktor yaitu pendidikan, ekonomi dan kesehatan. Dari ketiga faktor tersebut sangat erat kaitannya dengan kemiskinan. Pendidikan di Kota Cirebon apabila dilihat dari Angka Partisipasi Murni (APM) pada tahun 2016 dimulai dari Sekolah Dasar sebesar 95,53%. Sekolah Menengah Pertama 83,12%. Sekolah Menengah Atas 95,07%. Apabila berkaca dari data tersebut tentu pendidikan dapat dikatakan baik karena partisipasi yang sangat tinggi dari tiga jenjang pendidikan tersebut. Ekonomi Kota Cirebon mengalami inflasi sebesar 2,65% pada Agustus 2017 kemudian pada saat Agustus 2018 inflasi menurun menjadi 1,98% dan juga deflasi sebesar 0,32%, yang mengalami deflasi ialah makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 1,75%, tentunya ini adalah hal positif yang dialami oleh Kota Cirebon disaat kurs dollar sedang menguat dan rupiah mengalami pelemahan. Kesehatan di Kota Cirebon terdapat 266.484 kasus pada tahun 2016, kasus yang paling banyak ialah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) tidak specific sebanyak 100.607 kasus dan yang paling sedikit ialah Nasofaringitis Akut (peradangan akibat infeksi virus di saluran pernafasan atas) sebanyak 8.611 kasus.

Perlu dicermati kembali oleh Dinas Kesehatan Kota Cirebon karena ternyata udara di Kota Cirebon tidak sehat dan menjadi sarang berkembangnya virus, penularan yang terjadi akibat kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak terkait mengenai permasalahan penyakit yang dapat menular melalui kontak secara langsung maupun tidak secara langsung, sehingga menyebabkan virus tersebut menular kepada orang lain karena ketidaktahuaan dari pasien penyakit tersebut. Kesehatan menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh Pemkot Cirebon dalam mengurangi angka kemiskinan sebesar 9,73%.

Kesimpulan dari pembahasan yang telah dipaparkan di atas ialah semua permasalahan pasti mempunyai solusi dan pemecahannya, tinggal bagaimana Pemkot Cirebon berupaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Semua stakeholder yang berada di Kota Cirebon sudah seharusnya dapat membantu dan mendukung Pemkot Cirebon dalam melakukan pemecahan masalah yang dihadapi oleh Kota Cirebon. Karena, pembangunan yang paling baik manakala pemerintah mengajak masyarakat dari mulai perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan pemanfaatan hasil pembangunan. Bekerja sama, bergotong-royong bersama itu adalah salah satu ciri Bhinneka Tunggal Ika yaitu ciri dari bangsa Indonesia.