OPINI : Membudayakan Sikap Gercep

Budaya atau kebiasaan merupakan sesuatu yang sering di lakukan atau di jalankan oleh seseorang di dalam kehidupan yang menjadikannya sebagai sebuah hal yang sifatnya rutin atau bahkan menjadikannya sebagai sebuah hal yang sifatnya khas. Budaya atau kebiasaan merupakan sesuatu yang identik dengan pembentukan karakter atau kepribadian yang di miliki oleh seseorang. Dalam hal ini, karakter atau kepribadian yang terbentuk itu biasanya memiliki dua kemungkinan.

Pertama adalah karakter atau kepribadian yang baik atau positif. Sedangkan kedua adalah karakter atau kepribadian yang jelek atau negatif. Dua kemungkinan ini lahir dari kebudayaan atau kebiasaan yang demikian juga (baik atau bisa disebut positif dan jelek dengan kata lain negatif). Tetapi, dalam konteks ini, kebudayaan atau kebiasaan yang patut kita istiqomahi dalam kehidupan sehari-hari tentunya adalah yang baik atau positif tadi.

Di sini pasti teman-temen sudah tahu alasan mengapa kebudayaan atau kebiasaan itu perlu atau patut di istiqomahi. Ya, tidak lain karena kebudayaan atau kebiasaan itu dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi diri, lingkungan dan lainnya dalam kehidupan ini. Nah, salah satu contoh dari kebudayaan atau kebiasaan yang saya maksud (perlu di Istiqomahi) adalah budaya atau kebiasaan gercep.

BACA YUK:  Tawarkan 9 Varian Rasa, Wingstop Juaranya Rasa Kini Hadir di Kota Cirebon

Yang belum tahu singkatan gercep, mulai sekarang harus tahu ya. Tapi, saya yakin teman-temen rata-rata pasti sudah mengetahuinya sih. Betul sekali, gercep adalah kepanjangan atau singkatan dari gerak cepat. Gercep merupakan bahasa gaul yang di gunakan untuk mengungkapkan suatu tindakan yang berlandaskan pada aksi dan keseriusan yang nyata. Bukan hanya diksi atau narasi yang sifatnya tidak sepenuh hati (serius) atau dusta.

Mengapa saya katakan bahwa budaya atau kebiasaan gercep ini perlu di istiqomahi? Sebetulnya, ini di sebabkan oleh segi kemaslahatannya terhadap keefektifan dan keoptimalan suatu kegiatan, aktivitas atau lainnya yang kita lakukan dalam kehidupan. Tentunya, konteks gercepnya ini tidak sembarangan atau asal. Melainkan harus berorientasi terhadap kepentingan bersama atau banyak orang.

Kalau konteksnya hanya pribadi atau individual, saya rasa ini malah tidak boleh di istiqomahi. Harus di lengkapi dulu, baru kemudian di seperti itukan (istiqomahi). Maksudnya di lengkapi dengan konteks yang lebih luas dan tidak sempit. Karena, konteks yang demikian hanya akan menguntungkan segelintir orang atau bahkan satuan individu saja. Bahkan, bisa jadi sampai merugikan orang atau individu lain di sekitarnya.

Ini tidak keren sama sekali. Malah menurut saya sih buruk. Karena, jatuhnya atau kecenderungannya lebih mengarah pada egoisitas dan mengabaikan elemen-elemen atau lain-lain yang ada di sekelilingnya. Budaya gercep ini harus di porsikan pada hal-hal yang tidak sempit seperti itu. Porsinya harus di tempatkan pada sesuatu yang sesuai. Dari segi kemaslahatannya, sebab akibatnya dan lain-lain. Misalnya di porsikan dalam suatu kepentingan organisasi, baik yang lingkupnya keagamaan, sosial, kepedulian dan sebagainya.

BACA YUK:  BPKN Desak Pelaku Usaha RT RW Net Ikuti Regulasi Kemenkominfo Demi Kepentingan Konsumen

Atau misalnya di porsikan dalam suatu kepentingan komunitas relawan, perkumpulan yang berorientasi pada kemajuan lingkungan (dan hal yang lebih jauh dari itu) serta lainnya. Tetapi memang, memporsikan budaya atau kebiasaan gercep dalam porsi-porsi (kepentingan dan lainnya) seperti itu memang membutuhkan dorongan, spirit dan motivasi yang kuat dan kokoh. Terutama dorongan, spirit dan motivasi dalam berbuat kebaikan (terhadap sesama dan lain-lain).

Budaya atau kebiasaan gercep ini tidak akan terbentuk atau tercipta tanpa hal-hal itu. Oleh karenanya, di sini kita mesti mengupayakan supaya hal-hal tersebut dapat terkondisikan dalam diri atau pribadi. Sebab, kalau tidak demikian, budaya atau kebiasaan kita nantinya berpotensi membelot dan malah membentuk sebuah sikap yang buruk serta memundurkan. Misalnya malas, nyaman dengan stagnansi aktivitas, dan lain-lain.

Dalam hal ini, teman-teman harus tahu bahwa sikap-sikap seperti itu sangat membahayakan dan menjerumuskan, jika dari diri kitanya menganggap gercep itu tergantung dari orang lain, maka tidak akan terealisasinya sikap itu dengan baik yang ada malah setiap kegiatan selalu ngaret atau menunda-nunda membuang waktu yang cukup banyak. Oleh karenanya, kita sendiri sangat di rekomendasikan untuk menghindari dan menjauhinya tanpa banyak alasan. Hal ini mengingat akan dampaknya atau efeknya yang dapat menyuramkan masa depan dan merusak arah atau tatanan tujuan dalam kehidupan. Sehingga, urgensi untuk menghindari atau menjauhinya pun seperti telah berubah menjadi sebuah kewajiban.

BACA YUK:  Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan, GPM di Kota Cirebon Digelar 12 Kali Dalam Setahun

Mudah-mudahan, dalam hal ini Allah meridhoi kita untuk memiliki dan menjiwai sikap gercep dalam kehidupan ya teman-teman, dan mudah-mudahan, dalam melakukannya itu kita bisa di berikan olehnya kesadaran dan keistiqomahan yang berjangka panjang atau berkelanjutan. Sehingga, dengan begitu, insya nantinya kita akan senantiasa dan semakin bisa mengefektifkan dan memaksimalkan berbagai atau bahkan seluruh urusan atau kepentingan yang ada dalam kehidupan dengan optimal. Khususnya yang melibatkan banyak orang dan ranahnya dapat membuat kemanfaatan atau kemaslahatan bagi lingkungan sekitar.

 

Penulis : Shalama Qawlam Fadila

Mahasiswa Tadris Biologi IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Bagikan:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *