Nostalgia Jajanan Jadul, Yuk Intip Geblog dan Kawan-kawannya

Cirebon,- Nostalgia dengan masa lalu, tentunya tidak lupa dengan jajanan jadulnya dong. Apalagi, kalau bukan geblog, candil, klepon, plenyon dan growol atau orog-orog yang tentunya mayoritas berbahan dasar tepung-tepungan dan singkong.

Mungkin zaman telah berubah, namun resep jajanan jadul tak pernah berubah. Seperti geblog ireng yang berbahan dasar singkong yang dihaluskan kemudian dipukuli hingga kenyal yang juga dicampur dengan abu dari jerami atau daun pisang.

Kemudian, ketan gurih yang tentunya dari ketan bercampur santan, lalu klepon yang berbahan dasar tepung ketan yang diberi pewarna hijau pandan dan berisi gula merah, growol yang berbahan dasar tepung gaplek singkong, dan masih banyak lagi. Tidak lupa juga dengan topping yang beragam seperti blondoh (santan kelapa yang dimasak), gula kelapa, dan kinca.

BACA YUK:  Buku “Loper Koran Jadi Jenderal” Dibedah, Dudung Memang Tokoh Inspiratif

Sebagai salah satu penjual jajanan jadul di Pasar Pronggol, Pegambiran, Lemahwungkuk, Kadini mengakui, tidak ada perubahan resep sejak neneknya dahulu. Berawal berjualan di Kanoman kemudian beralih ke Pasar Pronggol, Kadini mengungkapkan pelanggannya tak pernah berkurang.

“Masih banyak yang nyari, pelanggan yang biasa di Kanoman juga selalu kesini walau saya sudah 8 tahun disini. Alhamdulillah-nya walau terkadang sisa juga, cuma sedikit jadi buat makan sendiri di rumah,” ungkapnya, Sabtu (6/8/2022).

Adapun harga yang dipatok cukup murah mulai dari Rp. 1.000 per item hingga Rp. 3.000 item campuran. Berjualan di pagi hari hingga jelang dzuhur, Kadini paling tidak mengantongi keuntungan kotor sebesar Rp. 200.000.

BACA YUK:  Info Loker : Aini Griya Pengantin

Salah satu penjual jajanan pasar Kadini, yang biasa menjajakan dagangannya di pasar Jalan Pronggol, Kutasirap, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk menuturkan, sudah kurang lebih 8 tahun berjualan. Namun, peminatnya hingga hari ini masih cukup banyak. Karena, setidaknya keuntungan kotor yang ia peroleh perharinya itu mencapai Rp.200.000.

Sudah turun temurun berjualan, sebagai generasi ke-3 yang juga merupakan asli Celancang akui, dalam pembuatan jajanan jadul ini secara keseluruhan menghabiskan 12 kilogram bahan baku.

“Habis 12 kilogram, terus bikinnya itu 6 jam tapi hari ini bikin jualan besok, gitu,” katanya.

BACA YUK:  KNPI Kota Cirebon, Rumah Besar Para Pemuda untuk Bentuk Karakter Kepemimpinan dan Kepedulian Sosial

Tak pernah mau berhenti, Kadini akui ingin terus melestarikan jajanan jadul yang merupakan, warisan almarhumah neneknya.

“Nggak lah, lanjut diusahakan turun ke anak warisan almarhumah nenek juga,” tutupnya. (SUB)

(Dilihat: 75 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.