Nikmatnya Es Cuwing dan Es Kepal Batok Gula Merah Milik Abah Uhairi 

0
277

Cirebon,- Dari Abah Uhaeri, hari ini belajar tentang arti kegigihan dan ketekunan. Melihat kerja kerasnya seakan tak kenal lelah, terus menerus menjajakan dagangannya langkah demi langkah, setiap hari.

Gerobak roda dua yang selalu didorongnya merupakan teman setia. Es Cuwing, Es Cendol, dan Es Kepal batok gula merah adalah jembatan baginya yang bisa ia tukarkan dengan rupiah.

Aston Hotel

Dia asli Cikijing, logat Sunda yang amat ketara, menjadi ciri khas pembuka obrolan siang tadi.

“Tos 20 tahun icalan es Cuwing di Cirebon, pami aslina ti Cikijing,” ungkapnya. (Sudah 20 tahun dagang es Cuwing di Cirebon, kalau aslinya sih dari Cikijing),” tuturnya.

Jika merasa capek berjalan, Abah Uhairi berhenti di jalanan yang cukup teduh. Topi dikepala pun selalu melindunginya dari panas teriknya matahari. Juga handuk yang di melintang di lehernya sesekali digunakan untuk mengusap tetesan keringat.

Usianya menginjak 68 tahun. Dia memiliki 5 orang anak dan istri di Cikijing. Setiap 10 hari sekali, Uhairi pulang menemui anak dan istrinya di Cikijing. Biasanya dia istrirahat dua atau tiga hari di kampung halamannya, lalu balik lagi ke Cirebon untuk kembali berjualan.

Menurutnya, berjualan es di Cirebon itu cocok. Sesuai dengan cuaca Cirebon yang begitu panas. Tapi, jika Cirebon dilanda hujan, Uhairi lebih memilih pulang ke Cikijing hingga cuaca kembali stabil.

Tak sepadan dengan langkah demi langkah yang dia lewati, dalam sehari Abah Uhairi rata-rata hanya mendapatkan omzet Rp200 ribu. Tapi dia selalu tersenyum dan bersyukur dengan apa yang didapatkannya.

“Tabuh 8 enjing tos mulai keliling dagang sampe sonten atanapi sase’epna. Pami nyiapkeun dagangan mah biasana saentos subuh,” terangnya. (Jam 8 pagi sudah mulai keliling dagang sampai sore atau sehabisnya. Kalau menyiapkan dagangan sih biasanya sehabis subuh),” lanjutnya.

Cuwing yang dibuatnya merupakan asli dari daun cuwing yang dibuat langsung olehnya. Tumpukan es serut dan kucuran gula merah yang amat kental menjadi pemanis yang nikmat dipadukan dengan santan dan cendol. Sangat nikmat ketika matahari sedang terik-teriknya di Cirebon.

Terpopuler

Tempat yang biasa dia lewati yakni Jalan Siliwangi, SDN Pamitran, Belakang PGC, dan kawasan pesisir Samadikun. Dia mengaku selagi tenaga masih kuat, dan diberi kesehatan, akan tetap berjualan. (AC560)