"Ngomong Ayam" Dalam Rangka Festival Budaya Gotrasawala Cirebon

Cirebon, 1 Desember 2014,- Kalau kita ngobrol ngalor-ngidul atau bicara ‘tinggi’ dan ‘sulit’dicerna awam ( bhs jw –ndakik-ndakik ), maka omong kosong semacam ituoleh orang Cirebon dikatakan Ngomongayam ( bahasa-ayam ). Mengapa omong-kosong disebut Ngomongayam? Saya tidak tahu. Bisa saja di sinidijelaskan soal gomongayam, tapi saya harus siap-siap dicap;sedangNgomongayam.

 

Ngomongayam di sini, adalah judul pertunjukkan Teater Ider-ideran ( Teater Jalanan; Street Teater )teater yang dipentaskan dalam bentuk pawai ( bhs Crb – ider-ideran ).

Teater Ider-ideran Ngomongayam akan bergerak dari Lapangan Kebumen ( Lapangan Jean Henri Dunant ) melewati jalan depan gedung BAT, Kanoman, Keprabonan, Pulasaren, Masjid Agung Ciptarasa dan berakhir di Panggung Utama yang terletak di halaman depan dalam Keraton Kesepuhan.

BACA YUK:  Jelang 17 Agustus, Kajian Milenial Cirebon Undang Sunu Matta

 

Teater Ider-ideran Ngomongayam akan berproses setiap hari dari tanggal 1 sampai 4 Desember 2014 di Kota Cirebon, waktunya Selepas Senja ( ba’da magrib ). Dalam proses selama 4 hari penonton akan menyaksikan perubahan Teater Ider-ideran Ngomongayam dari tahap satu sampai tahap empat atau puncak.

 

Teater Ider-ideran Ngomongayam menyampaikan gambaran persoalan kebudayaan Bangsa Indonesia yang diakibatkan oleh kegagalan budaya bahasa. Persoalan Kebudayaan Indonesia yang hingga saat ini tak juga kunjung jelas sosok dan jati dirinya.

 

Bahasa Indonesia yang lahir pada tahun 1928 dalam perjalanannya untuk mencapai wujud kebudayaan bangsa yang utuh, telah sejak lama ‘tersesat’ di ‘pasar politik’ kekuasaan. Disebabkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa bangsa telah kehilangan dan dihilangkan ruh-nya, yaitu budaya bahasa-bahasa nusantara yang berasal dari pulau jawa, sumatera, kalimantan, sulawesi, maluku, bali, nusatenggara, papua dan pulau-pulau lainnya.

BACA YUK:  Penguatan Perfilman Nasional Butuh Dukungan Semua Pihak, Termasuk Pelajar 

 

Dengan alasan Bahasa Nasional, budaya bahasa nusantara unsur utama bahasa Indonesia, dipinggirkan. Bahasa nusantara dancuma dianggap sebutir fonem atau bahkan dianggap nonfonemik; sekedar bunyi,suara masa silam yang hanya membebani laju kemajuan.

 

Jatidiri budaya nusantara yang sesungguhnya adalah leksikon budaya bangsa dan harus menjadi kerangka batin ( language acquisition device ) bangsa Indonesia, terbuang percuma dan kini merana jadi barang antik di loakan.

 

Saat undang-undang otonomi daerah lahir di tahun 2000, semakin nampak jelas bagaimanadi antara bahasa nusantara semakin keras saling sikut di antara mereka, bertarung memperebutkan kapling di ruang bahasa nasional. Ruang bahasa sebagai ruang kekuasaan bukan ruang kebudayaan. Perebutan yang menjadikan Indonesia terus semakin didominasi oleh gagasan budaya politik dan tak kunjung mewujud menjadi gagasan kebudayaan yang utuh.

BACA YUK:  Sambut Hari Jadi Cirebon ke-653, Kelurahan Drajat Gelar Drajat Bersholawat dan Doa Bersama

 

Dalam kondisi kebingungan budaya seperti itu, apa pun yang diproduksi wacana hanyajadi wacana dan wacana. Hiruk-pikuk percakapan tentang banyak hal hanyalah gumam saja, dengungkawanan lebah di sarang madu.

(Dilihat: 17 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.