Nashrudin Azis: Kirab Budaya Cap Go Meh, Upaya Pelestarian Budaya

0
70

Cirebon,- Ribuan masyarakat memadati acara puncak tahun baru Imlek Cap Go Meh tahun 2570 atau 2019, yang berlangsung di Vihara Dewi Welas Asih, Jalan Kantor, Kota Cirebon, Selasa (19/2/2019).

Perayaan Cap Go Meh tahun ini dimeriahkan sebanyak 15 joli atau tandu yang membawa patung dewa dewi, karakter Song Go Kong, Kereta Kencana Keraton Singhapura, Liong, Barongsai, hingga diramaikan juga dari sanggar tari Sekar Pandan Keraton Kacirebonan.

Aston Hotel

Pembukaan kirab budaya Cap Go Meh yang dibuka oleh Wali Kota Cirebon, Drs. Nashrudin Azis, dimeriahkan bukan hanya masyarakat etnis Tionghoa saja, namun juga seluruh lapisan masyarakat membaur dan menyemarakkan perayaan Cap Go Meh tahun ini.

1. Diikuti 15 Joli 

Pembina Vihara Dewi Welas Asih, Yan Siskarteja mengatakan perayaan kirab budaya Cap Go Meh tahun ini diikuti sebanyak 15 joli dari berbagai daerah di wilayah III Cirebon.

Teja Berlian
Teja Berlian 2
Teja Berlian 3

“Tuan rumah Vihara Dewi Welas Asih sendiri hanya ada 6 joli, sembilan jolinya lainnya dari wilayah III Cirebon seperti dari Jatibarang, Ciledug, Klenteng Talang, Sindanglaut,” ujar Yan saat ditemui About Cirebon di sela-sela acara.

Pihaknya berharap, tahun imlek 2570 atau 2019 ini semoga berkah, selamat, dijauhkan dari berbagai bencana, dan Cirebon khususnya tambah makmur, serta warganya senantiasa sejahtera.

2. Simbol Shio Babi Tanah

Lanjut Yan, harapan di tahun 2570 dengan shio babi tanah bisa makmur, sejahtera, dan damai.  Shio babi tanah juga merupakan simbol kemakmuran.

Dari dulu, kata Yan, keragaman yang ada di Cirebon sangat baik sekali, tidak pernah membedakan suku, bangsa, agama, dan juga status.

“Disini (Vihara Dewi Welas Asih) semuanya sama dan bersatu, tidak hanya warga Tionghoa saja, tapi seluruh lapisan masyarakat berbaur bersama,” terangnya.

3. Sebagai Pelestarian Budaya

Sementara itu, Wali Kota Cirebon, Drs. Nashrudin Azis mengatakan Kirab Budaya Cap Go Meh selain ritual bagi warga Tionghoa, kegiatan ini juga sebagai upaya pelestarian budaya.

“Didalam kegiatan Cap Go Meh ini, ada unsur-unsur budaya yang menurut saya menarik untuk bisa kita sikapi,” ujar Azis kepada About Cirebon.

Hal ini, lanjut Azis, menunjukan bahwa Kota Cirebon sebagai kota yang majemuk, yang masyarakatnya beraneka ragam, suku, bangsa, ras dan lain sebagainya, kebebasan dalam mengekspresikan seni budaya maupun kegiatan keagamaanya berjalan dengan baik.

“Ini yang membuat saya merasa bersyukur kepada Allah SWT,” ungkap Azis.

4. Berbaur Menjadi Satu

Menurut Azis, kegiatan Kirab Budaya Cap Gi Meh merupaka kegiatan tahunan yang setiap tahunnya terlihat semakin meningkat pengelolaan acara Cap Go Meh di Kota Cirebon.

“Tentunya, setiap tahun acara Cap Go Meh di Cirebon lebih baik, tertib, dan semarak, artinya menunjukan bahwa penganut agama menghayati betul makna dari kegiatan Cap Go Meh ini,” terang Azis.

Dengan adanya acara Cap Go Meh, kata Azis, yang kemudian pesertanya bukan saja warga Tionghoa, tetapi beraneka ragam agama, suku berbaur menjadi satu.

“Ini menunjukan bahwa tingkat kerukunan umat beragama di Kota Cirebon tidak ada masalah,” tutup Azis. (AC212)