Mitos Patung Perawan Sunti yang Berkembang di Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Cirebon, – Dibalik keindahan dan kemegahannya, Taman Air Goa Sunyaragi, Cirebon memiliki mitos yang melegenda. Di salah satu sudutnya, tepatnya di depan mulut Goa Peteng terdapat sebuah tunggul batu yang disebut dengan Perawan Sunti.

Mitosnya, pengunjung khususnya perempuan yang masih perawan dilarang untuk menyentuh tunggul batu tersebut, karena diyakini sulit mendapatkan pasangan atau jodoh.

Menurut Pemerhati Sejarah dan Budaya Cirebon sekaligus Pengelola Goa Sunyaragi,Puja Jauhari mengatakan mitos tersebut sangat santer dibicarakan oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Namun pada kenyataan tidak benar sama sekali, karena mitos erat kaitannya dengan sugesti.

BACA YUK:  RSD Gunung Jati Tindak Lanjuti Arahan Pj Wali Kota Cirebon Usai Sidak

Lanjut Puja Jauhari, definisi dari perawan sunti adalah seorang gadis yang tidak menikah sampai akhir hayatnya.

” Selain itu, ini juga bermakna seorang gadis yang hamil atas seizin Allah SWT tanpa melalui hubungan suami istri”, tuturnya.

Dalam sejarah Cirebon, diceritakan ketika Sunan Gunung Jati diundang ke negeri Tartar oleh Kaisar Oh Hong Jin, ditantang apakah anaknya yang bernama Oeng Tien hamil atau tidak. Lalu dijawabnya hamil, maka atas kuasa Allah ucapan tersebut menjadi kenyataan. Padahal sayembara itu sudah direkayasa.

BACA YUK:  Inilah Upaya Pemkab Cirebon Tingkatkan Iklim Investasi

Oeng Tien ketika itu berpura-pura hamil dengan memakai baskom yang terbuat dari kuningan. Puja Jauhari menjelaskan
patung perawan sunti menyiratkan makna filosofis yang mendalam sejak berabad-abad yang lalu.

Oleh karena itu, jika seorang wanita hamil harus jelas siapa bapaknya atau suami wanita itu. Keberadaan patung perawan sunti tidak diketahui secara pasti. Berdasarkan beberapa sumber disebutkan sudah ada bersamaan dengan dibangunnya Goa Sunyaragi, dan ada pula yang menyebutkan sejak tahun 1604.

Saat ini patung tersebut tersimpan di museum. Patung aslinya berwujud seorang putri yang wajahnya mirip orang Tionghoa. (Nurjanah)

Bagikan:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *