Mitos Buaya Putih di Lawang Sanga Cirebon

0
493
Sungai Krian.

Cirebon,- Lawang Sanga atau pintu sembilan yang berada di belakang Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon, tepatnya di pinggir Sungai Kriyan di RT 9 RW 2 Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kota Cirebon, merupakan cagar budaya yang dibangun sekitar tahun 1677 Masehi.

Dalam naskah negara Kertabumi, Lawang Sanga dibangun dalam rangka persiapan infrastruktur Gotrasawala yang dilaksanakan oleh Pangeran Wangsakerta pada masa Sultan Sepuh I Syamsudin Martawawijaya.

Aston Hotel

Lawang Sanga disiapkan untuk berlabuhnya perahu dan pintu masuk bagi para utusan dari kerajaan-kerajaan di Nusantara untuk menerima upeti, yang pada waktu itu memang jalur lautlah yang aman bagi perjalanan.

Namun, Lawang Sanga memiliki mitos tentang buaya putih yang sering muncul di Sungai Kriyan tepat di depan Lawang Sanga.

Lurah Keraton Kasepuhan Cirebon, Mochamad Maskun mengatakan sosok buaya putih yang berada di Lawang Sanga merupakan jelmaan putra dari Sultan Sepuh I yaitu Sultan Syamsudin Martawawijaya.

“Namun buaya putih tersebut tidak buas, tetapi kalau ada buaya dari luar baru diserang,” ujarnya kepada About Cirebon.

Maskun menjelaskan, putra Sultan Syamsudin yang dijelma menjadi buaya putih bernama Elang Angka Wijaya. Pada saat itu, putranya tidak menurut perintah dari orang tuanya.

“Putranya itu punya kebiasaan kalau makan tengkurep, sudah dikasih tau baik-baik tetapi tetap tidak menuruti perintah orangtunya,” bebernya.

“Akhirnya sudah dikasih tau berulang-ulang kali, orangtuanya jengkel dan mengucap yang seharusnya tidak boleh diucapkan. Sebab, pada waktu itu Sultan kalau mengucap seciduh nyata,” imbuhnya.

Sebelum berada di Sungai Kriyan, kata Maskun, jelmaan buaya putih tersebut berada di komplek Keraton Kasepuhan di kolam wadasan. Namun saat sudah besar buaya putih tersebut berpindah ke Sungkai Kriyan depan Lawang sanga.

“Sampai sekarang saja, ritual untuk memberika makan buaya putih di Sungai Kriyan masih dilakukan tiap Suro, kalau tidak salah,” katanya. (AC212)