Menjadi Cirebon Oleh: A. Sobi Mutohari

0
202
A Sobi Mutohari

Orang Cirebon?

Saya adalah orang Cirebon yang belajar di Kota Bandung selama kurang lebih enam tahun. Ketika ditanya dari mana asal saya, saya menjawab dari Cirebon. Kemudian biasanya orang yang bertanya tersebut akan melanjutkan pertanyaannya, seperti misalnya pertanyaan soal etnis dan bahasa saya apa? Ini saya rasa bukan pertanyaan yang sensitif, bertendensi rasis atau SARA. Cirebon memang menarik dari segi etnis dan bahasa. Maka, untuk menjawab pertanyaan tersebut saya dengan mantap menjawab “ Saya orang Cirebon dan di sana saya berbahasa Cirebon”.

Ketika pulang ke Kota Cirebon atau bertemu teman lain yang juga orang Cirebon, ternyata saya menemukan jawaban-jawaban lain untuk pertanyaan di atas. Terkadang orang Cirebon masih gamang dalam menyebutkan dirinya, mereka ragu-ragu, mereka masih terjebak dalam dikotomi etnis dan bahasa yang ada di Pulau Jawa; Sunda-Jawa. Kalau tidak Sunda, ya Jawa. Padahal mereka sudah bertahun-tahun atau bahkan sejak kecil tinggal di Cirebon. Bahasa Jawa tidak bisa, bahasa sunda pun hanya tahu “teh, teu dan maneh” tetapi enggan menyebut diri sebagai Cirebon.

Aston Hotel

Ini memang tidak sepenuhnya salah mengingat mungkin etnis Cirebon adalah minoritas di pulau ini sehingga kadang merasa inferior. Para ahli juga masih terus memperdebatkan apakah etnis Cirebon adalah etnis tersendiri yang terpisah baik dari Sunda maupun Jawa, atau etnis ini adalah bagian dari Jawa atau Sunda. Saya sebenarnya mempertanyakan relevansi perdebatan ini dalam ranah kebudayaan.

Etnis adalah Istilah Kebudayaan

Robert E. Park, seorang sosiolog pada 1920-an menjelaskan bahwa meskipun ras adalah salah satu yang mempengaruhi etnis, namun banyak kriteria lainnya dalam pembentukan suatu etnis seperti agama, bahasa, identifikasi politik dan lainnya. Dalam hal ini Ia melandaskan etnis sebagai kebudayaan (culture). Sementara itu sosiolog lain, Max Weber menegaskan bahwa etnis bersifat künstlich (buatan, konstruksi sosial). Karena etnis adalah istilah kebudayaan alih-alih biologis, etnis tidak dapat dikalkulasi secara rigid melalui DNA atau struktur tulang manusianya, etnis dibaca melalui pembacaan secara kualitatif terhadap kelompok sosial ini. Etnis dapat dianalisis melalui bahasa yang digunakan, tradisi berpakaian, pemahaman, keyakinan, karakteristik kebudayaan, sejarah, dialek/aksen bahasa dan lainnya di luar aspek biologis.

Atas landasan bahwa etnis adalah istilah kebudayaan maka ada atau tidak adanya Etnis Cirebon dapat ditempuh melalui pembacaan kebudayaan pula. Mengingat etnis adalah istilah kebudayaan artinya masih ada ruang bagi kelompok sosial ini untuk menempatkan posisinya. Kalau secara budaya saja orang Cirebon tidak mengakui atau bangga bahwa dirinya anggota masyarakat ini, bagaimana bisa etnis Cirebon eksis dan dikenal? Bagaimana bisa Cirebon diakui sebagai etnis tersendiri? Orang-orang Cirebon pertama harus mengakui dahulu bahwa dirinya adalah anggota kelompok Cirebon. Paling tidak, itu dahulu strategi kebudayaannya. Kita mengasosiasikan diri sebagai orang Cirebon.

Menjadi Cirebon

Kalau sudah mengakui dan teguh bahwa dirinya orang Cirebon yang berbahasa Cirebon lalu apa? Lalu bagaimana? Ini merupakan pertanyaan yang seru untuk membaca kembali diri kita secara kritis.

Coba lihatlah sekitar, setidaknya lihatlah kota ini, Kota Cirebon ini. Inikah kota yang dibangun oleh orang Cirebon? Seperti inikah karakteristik etnis Cirebon dalam mengelola ruang hidupnya? Banjir, kotor, semrawut dan lain sebagainya. Ada teroris yang ditangkap di kota ini, geng motor yang sadis, preman-preman di tempat strategis, pengemis dan kemiskinan di objek-objek wisata. Ruang baca yang minim dan usang. apakah seperti ini esensi kebudayaan kita? Saya rasa tidak. orang Cirebon untuk menjadi Cirebon seutuhnya harus menggali ulang teks-teks sejarah Cirebon, pelajari leluhur Cirebon seperti Sunan Gunung Jati dan tokoh-tokoh lainnya untuk menjadi orang Cirebon yang ideal. Bagaimana kira-kira apabila leluhur tersebut melihat Kota ini sekarang? Apakah mereka, leluhur kita akan bangga dengan warga-warga yang bersembunyi di dalam dinginnya mall, mereka yang bersembunyi karena di luar sangat panas dikarenakan pohon-pohon yang sudah jarang? Apa mereka akan bangga atau justru menangis sedih? Identifikasi etnis berkaitan erat dengan kesamaan leluhur dan sejarah. Perlu menengok ke belakang dan berkaca pada keadaan yang kita buat sekarang untuk nantinya diaplikasikan dalam keseharian mendatang.

Pertanyaan lain yang muncul dalam pikiran saya sebagai konsekuensi peneguhan diri sebagai orang Cirebon adalah: apakah kebanggaan dan penghayatan sebagai etnis Cirebon merupakan bentuk fanatisme kelompok? Ini memang riskan terjadi. Namun saya rasa apabila kita membaca kembali sejarah dan karakteristik sosial budaya Cirebon ini tidak akan terjadi. Masyarakat Cirebon terbangun dari heterogenitas, pencampuran dan akulturasi budaya terjadi selama berabad-abad di tanah ini. Kita dapat melihat ini dari kebudayaan material Cirebon seperti Kereta Kencana Paksi Naga Liman yang sangat menunjukkan pencampuran budaya mulai dari Mesir, Tiongkok dan India.

Bukti-bukti lain yang menggambarkan pluralitas Cirebon sangat banyak. Ada masyarakat yang berasal dari Tiongkok, ada pula yang berasal dari Timur tengah, dari pasundan dari Jawa dan sebagainya bersatu-padu di tanah ini dan membentuk kebudayaan tersendiri yaitu Cirebon—Orang Cirebon. Menjadi orang Cirebon adalah menjadi orang yang toleran, terbuka dan tidak fanatik. Ini bukan hanya cita-cita namun sudah menjadi bukti sejarah.

Penutup

Strategi kebudayaan “menjadi Cirebon” adalah perlu, untuk menunjukkan bahwa etnis ini memang benar-benar eksis. pembacaan dan penghayatan secara kritis anggota masyarakat Cirebon terhadap sejarah dan leluhur-leluhurnya menjadi langkah selanjutnya untuk mengenali diri kita sendiri. Setelah membaca kemudian memproyeksikan dan melakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi Cirebon yang ideal. Menjadi Cirebon seutuhnya.

Penulis adalah Jaka Madya dan Budaya Kota Cirebon 2018

Bagikan:
Signup for the newsletter