Mengaku Takut Mati Saat Belum Menjadi Hafidz

0
112
Rafi Yasakha

Cirebon,- Begitu mulia keinginan seorang Hafidz asal Tegal ini. Rafi Yasakha (16 tahun) sukses menuntaskan hafalan Al-Qur’an di usia 15 tahun pada 2017 lalu.

Menghafal Al-Qur’an sudah dimulai sejak Rafi duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu dia mulai menghafal juz 30 dan 29. Tamat SD, Rafi sudah hafal 2 juz.

Aston Hotel

“Dari SD saya mulai suka menghafal, kemudian waktu Mamah lihat tayangan televisi ada yayasan Daarul-Qur’an, mamah bilang pengen anaknya hafal Qur’an. Dari situ saya lanjutkan SMP di PPPA Daarul Qur’an dan pengen hafal Qur’an,” jelas pria kelahiran Tegal, 24 Februari 2002 ini.

Rafi yang merupakan anak pertama dari 3 bersaudara ini tergerak dengan sendirinya untuk belajar Al-Qur’an. Meski menahan rindu kepada orang tua, dia tetap menjalani pesantren dengan sungguh-sungguh.

Awal masuk pesantren, Rafi memulai hafalan dari juz urutan pertama. Setiap waktu dia habiskan bersama Al-Qur’an. Begitu dekatnya dia bersama Al-Qur’an dan mampu menyelesaikannya pada awal semester kelas 10 SMA. Perjalanan dan lika liku bersama Al-Qur’an pun pernah dia lalui.

“Pernah satu waktu di juz 18 surah Al-Hajj saya merasa tidak mampu menyelesaikan hafalan walaupun cuma satu halaman. Lama sekali untuk masuk kedalam ingatan, sampai saya frustasi,” ungkap pemilik hobi sepak bola itu.

Rupanya Rafi memendam rindu kepada kedua orang tuanya saat itu. Ditambah, ada beberapa masalah pertemanan dihadapi. Tapi, seiring waktu berjalan dia mampu melaluinya. Termotivasi oleh keinginan dan cita-citanya menjadi seorang hafidz muda. Rafi pun merupakan santri terbaik di angkatannya, karena berhasil menyelesaikan hafalan termuda.

Ketika satu langkah menuju satu juz terakhir yaitu saat di juz 27, Rafi mengaku pernah takut mati. Dia takut diberikan umur yang pendek saat dia belum menuntaskan diri sebagai Hafidz.

“Saya kepikiran kalau saya meninggal duluan sebelum Hafidz gimana nih?,” ucapnya. Lalu ketakutan itu Rafi alihkan dengan menelfon Mamahnya dan memohon restu.

“Mah, doakan Rafi satu juz lagi selesai. Rafi pengen traktir teman-teman satu angkatan kalau khatam,” ujar Rafi kepada sang Mamah.

Dengan penuh rasa bangga, Mamahnya pun mengiyakan keinginan anaknya. Karena memiliki seorang anak penghafal Al-Qur’an adalah dambaan setiap ibu muslimin di seluruh dunia.

Selang beberapa waktu, Rafi berhasil mengalahkan ketakutannya. Dan saat ini dia menjadi seorang imam muda yang diutus oleh PPPA Daarul Qur’an ke Cirebon. Mengisi berbagai kegiatan selama Ramadan dengan masyarakat Cirebon.

Terpopuler

Inilah Putaran Jalan di Pantura Kota Cirebon yang Ditutup Selama Arus Mudik Lebaran 2018

Pintu Tol Ciledug Resmi Dibuka
Wow! Kereta Sleeper Siap Beroperasi 12 Juni 2018

Dia menjadi seorang imam solat tarawih di beberapa daerah, dan disambut hangat oleh warga dan jamaah setempat. (AC560)