Jumat, 5 Maret 2021

Mendambakan Keadilan Sosial

Populer

Kapal Legendaris KRI Dewaruci Singgah di Pelabuhan Cirebon

Cirebon,- Kapal legendaris KRI Dewaruci bersandar di Pelabuhan Muara Jati Cirebon, sejak Minggu (28/02/2021). Kedatangan kapal tersebut dalam rangka...

Polres Cirebon Kota Berhasil Amankan Empat Pelaku Pengeroyokan Gerombolan Bermotor

Cirebon,- Video aksi gerombolan bermotor yang terjadi pada Minggu (28/2/2021) viral di media sosial (medsos). Dalam video tersebut, terekam...

Sensasi Makan Durian Montong Petik Langsung dari Pohon di Kopi Montong

Cirebon,- Berada di ketinggian 150 meter di atas permukaan laut (MDPL), agrowisata durian Kopi Montong yang berlokasi di Sindang...

Sukageuri View Cocok Jadi Destinasi untuk Berakhir Pekan⁣

Kuningan,- Sejak diresmikan Januari 2017, Sukageuri View menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kuningan. Dengan suguhan panorama alam...

Menggali Potensi dan Bakat Siswa, SMAN 1 Susukan Gelar Fashion Carnaval

Cirebon,- SMA Negeri 1 Susukan (SMANSUS) menggelar Fashion Carnaval, Kamis (25/2/2021). Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah tersebut, digelar...

Syukur Alhamdullilah, saya beruntung tergolong warga Indonesia yang bisa menikmati nikmatnya kemerdekaan Indonesia. Namun sayang setriliun sayang, tidak semua sesama warga Indonesia seberuntung saya. Masih banyak warga Indonesia belum bisa menikmati nikmatnya kemerdekaan Indonesia. Kenyataan tersebut merupakan bukti tak terbantahkan bahwa sila ke lima Pancasila yaitu Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Indonesia belum terejawantahkan di persada Nusantara masa kini. Untuk sementara ini Keadilan Sosial hanya hadir secara terbatas untuk sebagian kecil rakyat Indonesia.

 

KEBERPIHAKAN

Loading...

Berdasar dukungan dari para sahabat  seperti Prof. Frans Magnis Suseno, Prof. Mahfud MD, Prof. Salim Said, Dr. Yasonna Laoly, aktivis senior Haryono Kartohadiprojo S.H, pejuang kemanusiaan Ignatius Sandyawan Sumardi, pejuang kebudayaan Aylawati Sarwono dll, saya sempat mencoba ikut berpihak kepada para warga yang belum menikmati nikmatnya kemerdekaan Indonesia. Maka saya berupaya ikut mencegah jangan sampai warga Bukit Duri digusur secara sempurna melanggar hukum. Namun kemudian saya harus menghadapi kenyataan bahwa diri saya cuma seorang insan manusia yang tidak berdaya apa pun. Terbukti pada tanggal 28 September 2016, saya tak berdaya mencegah warga Bukit Duri digusur secara sempurna melanggar hukum akibat  de facto  mau pun  de jure  tanah dan bangunan yang digusur masih dalam proses hukum di Pengadilan Negeri mau pun PTUN. Tidak kurang dari Prof Mahfud MD dan DR. Yasonna Laoly menegaskan bahwa tanah dan bangunan yang masih dalam proses hukum dilindungi undang-undang agar jangan disentuh apalagi digusur dengan alasan apa pun juga. Jika nekad digusur berarti penggusur melakukan pelanggaran hukum secara sempurna.

BACA YUK:  Gerakan Sedekah Pangan Nasional untuk Kedaulatan Pangan Bangsa

 

PN & PTUN

Namun rasa sedih yang menyelinap ke lubuk sanubari saya agak terhibur setelah kemudian PN mau pun PTUN resmi memenangkan gugatan warga Bukit Duri. Saya berbesar hati bahwa keadilan telah dipersembahkan kepada warga Bukit Duri yang telah terlanjur jatuh menjadi korban penggusuran secara sempurna melanggar hukum atas nama pembangunan. Meski kemudian para pendukung kebijakan penggusuran rakyat gigih melancarkan serangan jurus public relations demi pembunuhan karakter warga Bukit Duri rame-rame dihujat sebagai para pemberontak yang subversif melakukan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah. Malah saya sebagai pihak yang berpihak kepada rakyat tergusur juga tak ketinggalan ikut habis-habisan dihujat sebagai tua bangka botak buncit bau tanah ingin melestarikan kemiskinan. Bahkan kemudian pihak tergugat melakukan naik banding ke Pengadilan Tinggi.

BACA YUK:  Batu Lawang, Suguhkan Wisata Alam dan Bebatuan yang Menarik Untuk Diabadikan⁣ ⁣

 

PENGADILAN TINGGI

Ternyata Pengadilan Tinggi juga sepaham dengan Pengadilan Negeri dan PTUN untuk memenangkan gugatan rakyat kecil. Maka rasa bersyukur saya bertambah dengan rasa bangga bahwa negara saya ternyata merupakan negara hukum yang menjunjung tinggi keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga hukum idak tajam ke bawah sambil tumpul ke atas. Saya bangga bahwa bangsa Indonesia telah mempersembahkan keadilan secara adil sesuai sosok patung Dewi Keadilan memegang neraca keadilan dengan mata tertutup sehingga tidak pandang bulu terhadap siapa pun juga yang dianggap melanggar hukum apalagi secara sempurna. Namun pihak tergugat tetap gigih tidak mau menyerah kalah maka kembali naik banding kali ini ke Mahkamah Agung.

 

MAHKAMAH AGUNG

Kali ini, saya benar-benar kena batunya!  Ternyata Mahkamah Agung sama sekali tidak sepaham dengan Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi mau pun Pengadilan Tata Usaha Negara. Secara sempurna bertolak belakang dengan vonis PN, PT dan PTUN, ternyata MA memenangkan pihak tergugat yang sudah divonis bersalah oleh majelis hakim PN, PTUN dan PT. Vonis MA disambut dengan sorak-sorai gegap-gempita oleh para pendukung kebijakan menggusur rakyat namun di sisi lain disambut deraian air mata para warga miskin yang telah kehilangan tempat bermukim akibat digusur secara sempurna melanggar hukum atas nama pembangunan.

 

BANJIR

Pada musim musibah banjir, juga tampak jurang kesenjangan sosial. Ada warga yang beruntung karena kebetulan bermukim di kawasan yang bebas banjir namun ada pula yang kurang beruntung akibat kebetulan bermukim di kawasan berlangganan banjir. Yang kurang beruntung masih terbagi menjadi dua nasib. Yang bernasib kurang beruntung kebanjiran namun kebetulan bernasib cukup berada bisa langsung mengungsi ke hotel. Yang bernasib kurang beruntung kebanjiran sambil juga kebetulan bernasib miskin terpaksa harus pasrah tidak bisa mengungsi ke hotel.  Segenap fakta itu makin meyakinkan saya bahwa Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia sebagai sila Pancasila memang belum terwujud.  Saya bersyukur sebagai warga negara Indonesia beruntung dapat ikut menikmati nikmatnya kemerdekaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia. Namun saya merasa prihatin bahwa belum semua warga Indonesia seberuntung saya. Masih banyak sesama rakyat  Indonesia belum dapat ikut menikmati nikmatnya kemerdekaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia. Sila ke lima Pancasila untuk sementara ini masih berbunyi Keadilan Sosial Untuk Sebagian Kecil Rakyat Indonesia  saja. Insha Allah, kita semua sebagai warga bangsa Indonesia segera menghentikan perilaku saling membenci, saling melecehkan, saling menghujat, saling memfitnah demi bersatupadu dalam gigih berjuang mengejawantahkan sila ke lima Pancasila menjadi kenyataan di persada Nusantara nan gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta raharja. MERDEKA !

BACA YUK:  Komisi I DPRD Kota Cirebon Minta BRT Segera Dioperasikan
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Pemkab Cirebon dan Baznas Bangun Rumah Tidak Layak Huni

Cirebon,- Bupati Cirebon, Drs. H. Imron bersama Baznas Kabupaten Cirebon meninjau sekaligus meresmikan rumah tidak layak huni di Desa...

Operasi Jaran 2021, Polresta Cirebon Ungkap Kasus Pencurian Kendaraan Bermotor

Cirebon,- Selama Operasi Jaran 2021, Satreskrim Polresta Cirebon berhasil mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor. Operasi Jaran berlangsung dari tanggal 22 Februari sampai 3 Maret...

Bersama Charly Setia Band, Bupati Cirebon Jalani Vaksinasi Covid-19⁣

Cirebon,- Bupati Cirebon Drs. H. Imron menerima vaksin Covid-19. Pemberian vaksin dilakukan di Pendopo Bupati Cirebon, Jalan RA Kartini, Kota Cirebon, Rabu (3/3/2021) malam.⁣ ⁣ Pemberian...

Hari Ketiga, 899 Personel Polresta Cirebon Sudah Divaksinasi Covid-19

Cirebon,- Ratusan personel Polresta Cirebon dan Polsek jajaran telah menjalani vaksinasi Covid-19. Pemberian vaksin kepada para personel tersebut dilaksanakan di Poliklinik Polresta Cirebon sejak...

More Articles Like This