Masa Angkutan Libur Natal dan Tahun Baru, Daop 3 Cirebon Kerahkan Sarana Ekstra di Titik Rawan Bencana

Cirebon,- Menghadapi masa angkutan libur natal 2018 dan tahun 2019, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Oprasional (Daop) 3 Cirebon menyiagakan seluruh sarana, prasarana dan SDM yang dimilikinya.

Dari aspek prasarana, seperti tahun-tahun sebelumnya, KAI menyiagakan alat material untuk siaga (Amus) di daerah-daerah yang rawan bencana alam.

“Tenaga flying gank, Petugas Penilik Jalan (PPJ) Ekstra, Penjaga Jalan Lintas (PJL) Ekstra, dan petugas posko daerah rawan juga disiagakan di sepanjang lintas untuk mencegah terjadinya gangguan perjalanan KA,” ujar Vice President Daop 3 Cirebon, Ida Hidayati usai memimpin apel gelar pasukan di Stasiun Kejaksan, Kota Cirebon, Rabu (19/12/2018).

BACA YUK:  Pj Bupati Cirebon Lakukan Penanganan Pembersihan Sampah Liar di Sungai Jamblang

Lanjut Ida, meskipun jumlah PJL ditingkatkan, PT KAI dengan tegas mengimbau kepada seluruh masyarakat pengguna jalan untuk tetap mematuhi rambu-rambu di pelintasan sebidang.

“Namun kita sudah mengantisipasi bila terjadi rawan bencana karena faktor alam, seperti bersih-bersih lintas dan penanganannya,” bebernya.

Sementara itu, Manager Humas Daop 3 Cirebon, Krisbiantoro menjelaskan titik rawan karena faktor alam seperti tanah amblas di wilayah Daop 3 Cirebon ada tiga titik.

“Tiga titik rawan amblasan karena faktor alam terletak antara stasiun Kadokan Gabusan – Trisi, Kadokan Gabus – Cilegeh, dan Jatibarang – Telaga Sari,” ujarnya kepada About Cirebon.

BACA YUK:  Mulai 1 Mei 2024, PT KAI Daop 3 Cirebon Berlakukan Harga Tarif Khusus

Sedangkan untuk faktor lain, kata Krisbiantoro, seperti keamanan dan ketertiban serta terjadinya temparan atau dijalur yang tidak dijaga di daerah paling sering terjadi antara Tanjung Rasa – Pabuaran, Jatibarang – Kertasmaya, Cangkring – Cirebon, dan Losari – Tanjung.

“Selama tahun 2018 sebanyak 13 kejadian temperan dengan 8 korban meninggal dunia dan luka berat 5 orang,” jelasnya.

Dibanding dengan tahun 2017, kata Kris, terdapat 25 kejadian dengan 10 orang meninggal dunia, dua orang luka berat, dan empat orang luka ringan.

BACA YUK:  Puluhan Botol Miras Hasil Operasi Pekat Berhasil Disita Satresnarkoba Polresta Cirebon

“Untuk mengantisipasi amblesan, di daerah rawan kita menurunkan kecepatan 80 km/jam, petugas ekstra di daerah rawan, alat dongkrang, bantalan kayu dan AMUS yang isinya prancah, batu pasir yang sudah dikarungi,” tandasnya. (AC212)

Bagikan:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *