Mahfud MD: Gerakan Suluh Kebangsaan Untuk Meredakan Ketegangan di Masyarakat

Cirebon,- Gerakan Suluh Kebangsaan yang dimotori oleh Prof. Dr. Mahfud MD dan beberapa aktivis mengadakan Jelajah Kebangsaan, yang bekerja sama dengan PT. KAI (Persero).

Jelajah Kebangsaan yang berlangsung dari Merak hingga Banyuwangi akan diadakan di sembilan stasiun. Stasiun Cirebon Kejaksan menjadi titik ketiga untuk diselenggarakannya Dialog Kebangsaan seri III, yang berlangsung di Halaman Stasiun Kejaksan Kota Cirebon, Selasa (19/2/2019).

Dialog kebangsaan seri III di Stasiun Cirebon Kejaksan bertajuk Mengokohkan Kebangsaan: Merawat Moderasi Beragama bersama Prof. Dr. Moh Mahfud MD, Alissa Wahid, KH. Husen Muhammad, Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M.Ag, dan perwakilan Sultan Kanoman Cirebon.

1. Latar Belakang Digagasnya Suluh Kebangsaan

Menurut Mahfud, munculnya gagasan Kegiatan Suluh Kebangsaan ini, karena kesadaran kita bahwa sekarang timbul masalah menjelang pemilu itu, perpecahan antar ikatan primodial, munculnya politik identitas, kemudian pemilu itu sebagai sarana atau ajang untuk bermusuhan, bukan mencari pemimpin.

“Maka kami muncul untuk mengantisipasi dan meredakan ketegangan-ketegangan yang ada di masyarakat,” ujar Mahfud usai acara.

Sekarang, kata Mahfud, pemilu itu seakan-akan menimbulkan pertengkaran antara pendukung si A dan B, agama ini agama itu, suku, dan ras itu sudah mulai muncul.

“Itu baru gejala memang, belum penyakit yang sesungguhnya, tapi kami muncul agar itu tidak menjadi penyakit bagi bangsa ini,” ungkapnya.

BACA YUK:  Arus Balik Lebaran 2022, Kendaraan Melintas di GT Palimanan Masih Tinggi

2. Tujuan Suluh Kebangsaan

Jelajah Kebangsaan yang di adakan di sembilan stasiun, diantaranya diawali dari stasiun Merak, Stasiun Gambir, Stasiun Cirebon, Stasiun Purwokerto, Stasiun Yogyakarta, Stasiun Solo Balapan, Stasiun Jombang, Stasiun Surabaya Gubeng, dan berkahir di Stasiun Banyuwangi.

Lebih lanjut Mahfud menjelaskan, tujuan utama Suluh Kebangsaan adalah meneguhkan kembali semangat dan kecintaan terhadap Indonesia sebagai wujud ikrar kebangsaan dan kenegaraan.

Hal yang pertama, kata Mahfud, menguatkan kembali ikrar mengawal Pancasila sebagai asas kebangsaan yang final dan kokoh dengan membincangkan masalah-masalah apa yang berpotensi melemahkannya.

Kedua, meneguhkan kembali bahwa kebhinekaan adalah kodrat yang perlu disyukuri dan dirayakan sebagai anugerah dari kebangsaan.

“Yang perlu dibincangkan adalah aspek- aspek “pembeda” apakah yang mengganggu “perbedaan” yang selama ini mampu dirangkai sebagai mosaic yang indah dan membahagiakan,” terangnya.

“Dan ketiga, merawat moderasi keagamaan yang telah melahirkan ‘jembatan emas’ sekaligus fondasi kebangsan yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” beber Mahfud.

3. Perpecahan Dimulai Karena Perbedaan Agama

Dialog Kebangsaan seri III yang diselenggarakan di Cirebon mengusung tema Merawat Moderasi Beragama, Mahfud menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman dari berbagai negara, perpecahan itu bisa dimulai karena perbedaan agama, seperti di India dan Pakistan pecah karena agama.

Ada juga perpecahan karena daerah, Bangladesh dan Pakistan pecah karena perbedaan kaya miskin, ada Kashmir masih ribut, dan rohingya.

BACA YUK:  HIPMI Kota Cirebon Gelar Kegiatan Sosial "Rabana"

“Persoalaan agama banyak disitu. Nah kita di Indonesia sudah merumuskan satu bentuk negara Kesatuan, yang didalam agama itu saya menerangkan dari sudut agama Islam tentang negara kesatuan ini,” terangnya.

“Agar yang suka menggunakan Islam untuk menakut-nakuti orang itu paham, dan orang-orang yang merasa takut kepada gerakan-gerakan islam paham juga. Ngga usah takut, karena Islam sebagai agama yang dalam konsep kenegaraannya menganut namanya Islam yang moderat,” imbuh Mahfud.

4. Harus Bernegara

Selain itu, Mahfud menambahkan yang tidak boleh menakut-nakuti orang lain, tidak boleh menekan orang lain, tapi harus bekerja sama. Tidak boleh menganggap orang lain salah karena perbedaan agama, tidak boleh itu di dalam Islam.

“Dimana ini dasarnya? Di dalam Islam itu ada ajaran tentang khilafah, tetapi tidak ada ajaran tentang sistem khilafah. Bedakan nih ajaran sebagai prinsip dan sistem sebagai implementasi,” jelas Mahfud.

Menurut Mahfud, Islam itu mengatakan setiap manusia secara fitrah pasti bernegara. Apa perlunya negara? Agar bisa melaksanakan perintah Tuhan dengan baik anda harus punya negara.

“Oleh sebab itu, jangan hidup mau dijajah, karena penjajahan itu tidak akan menyebabkan anda bisa beribadah dengan baik,” kata Mahfud.

5. Gandeng PT. KAI

Sementara itu, Mahfud sangat mengapresiasi atas kerja sama, dukungan, dan kepuedulian KAI terhadap keutuhan dan kokohnya NKRI.

BACA YUK:  Jadwal Donor Darah di Kota Cirebon : 25 Mei 2022

Namun, lanjut Mahfud, tidak hanya bekerjasama dengan PT. KAI, untuk itu kita semua gandeng, bukan hanya KAI tetapi perguruan tinggi, pesantren, LSM, kita gandeng semua bersama-sama.

“Kebetulan sekarang bersama KAI,” ujar Mahfud.

Menurut Mahfud, KAI juga harus kita perkenalkan kepada masyarakat bahwa KAI itu sekarang, karena Indonesia merdeka dan sudah maju kita punya KAI yang bagus sekarang.

“Untuk kelas ekonomi masih punya, kelas eksekutif punya, dan macama-macam kita sudah punya tidak kalah dengan negara-negara maju, serta sekarang juga ketepatan KAI bagus sekali,” kata Mahfud.

Pihaknya berharap, kerjasama KAI dengan Gerakan Suluh Kebangsaan bisa berlanjut terus dalam kegiatan lain demi cita-cita bersama dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Selain itu, Vice Presiden (VP) Daerah Operasional (Daop) III Cirebon, Tamsil Nurhamedi mengatakan bahwa KAI senantiasa mendukung kegiatan yang positif dalam rangka memupuk rasa berkebangsaan Indonesia bagi masyarakat di berbagai kota di Indonesia, melalui pendekatan yang ringan namun kreatif dan membumi.

“Dengan diadakannya kegiatan ini oleh Gerakan Suluh Kebangsan, dapat menguatkan dan menyebarluaskan semangat positif kebangsaan Indonesia melalui jalur kereta api,” harapnya. (AC212)

(Dilihat: 8 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.