Kolaborasi At-Taqwa Center dan Cirebon Tiket, Gelar Wisata Religi Jelajah Tajug Kuno Kota Cirebon

Cirebon,- Masjid Raya At-Taqwa Kota Cirebon berkolaborasi dengan Cirebon Tiket by About Cirebon menggelar wisata religi masjid atau tajug kuno di Kota Cirebon, Sabtu (2/12/2023). Wisata religi ini mendatangi 6 tajug kuno di Kota Cirebon yang dibangun pada abad ke-14.

Dengan menggunakan mobil Cirebon Tour on Bus (Citros), trip masjid kuno ini diawali dari Masjid Raya At-Taqwa Kota Cirebon atau Tajug Agung. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Tajug Abang Panjunan, Tajug Jagabayan, Tajug Pejlagrahan, Tajug Nyi Mas Pakungwati dan Tajug Pangeran Kejaksan.

Penanggung Jawab sekaligus tour guide pada kegiatan ini, H. Syaeful Badar, MA mengatakan paket wisata religi jelajah tajug kuno abad ke-14 ini sudah diluncurkan sejak tahun 2020 yang lalu. Namun untuk hari ini, lanjut Badar, berkolaborasi dengan Cirebon Tiket by About Cirebon.

“Biasanya wisata religi tajug kuno ini kami pasarkan dengan paket rombongan maksimal 25 orang. Tetapi untuk hari ini, inisiatif dari About Cirebon menggagas dengan membuka open trip yang bisa diikuti oleh perorangan,” ujar Badar kepada About Cirebon.

BACA YUK:  Tingkatkan Kunjungan Wisatawan, Pemda Kota Cirebon Kembangkan Konsep Travel Pattern

“Kami juga membuka untuk rombongan agar waktunya bisa fleksibel. Jadi kami memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses wisata jelajah tajug kuno,” tambahnya.

Terkait hadirnya wisata religi jelajah tajug kuno abad ke-14 di Kota Cirebon, menurut Badar, untuk merubah paradigma bahwa wisata religi itu terkesan mengunjungi makam, situs, atau petilasan. Padahal Cirebon di samping ada wali, ada bangunan-bangunan yang dulu digunakan para wali sebagai titik awal dakwah, yaitu tajug.

“Tajug itu artinya sing ditata lan dijugjug, jadi kalau ingin menata hati tempatnya di tajug. Para wali mendirikan tajug ini pertama sebagai tempat awal berdakwah dan bisa jadi tempat tinggal,” katanya.

Tajug-tajug kuno di Kota Cirebon, kata Badar, ada sejak abad ke-14 sampai sekarang kondisinya masih utuh dan terawat dengan baik. Pertama ada Tajug Pangeran Kejaksan atau tajugnya Jaksa Agung yang bernama Syarif Abdurahim yang diangkat oleh Sunan Gunung Jati sebagai jaksa agung di pemerintahan Kesultanan Cirebon.

BACA YUK:  IPB Cirebon Gelar Seminar Internasional Bareng Mantan HR L'Oreal

Kemudian ada Tajug Abang Pangeran Panjunan yang berada di kawasan kampung arab.

“Di Kampung Arab ini tidak hanya bermukim satu etnis, tapi ada beberapa etnis lain. Tajug Abang Pangeran Panjunan ini pada abad 18-19 dijadikan pusat pemberangkatan haji,” jelas Badar.

Istimewa dari Tajug Abang Pangeran Panjunan, menurut Badar, dulunya menjadi pusat gerabah yang saat ini pindah ke Sitiwinangun.

Tak hanya itu, yang menarik lagi ada juga Tajug Jagabayan. Tajug ini merupakan pos penjagaan yang kemudian oleh Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati dijadikan tajug Jagabayan atau yanh dikenal saat ini tajug tolak bala.

“Dahulu para wali mendirikan tajug bukan hanya sebagai tempat untuk solat, tetapi sebagai pusat pendidikan, pusat dakwah, bahkan Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau Tajug Nyi Mas Pakungwati dijadikan pusat pemerintahan. Setia hari Kamis malam Jumat kliwon dulu biasa dijadikan tempat rapat yang dinamakan Seba Kliwonan,” katanya.

BACA YUK:  Wabup Ayu Ajak Pemangku Kepentingan Kerja Sama Tangani Stunting

“Jadi, ini yang kemudian saya mencoba merubah paradigma, bahwa Cirebon ada peninggalan yang justru diharapkan orang berziarah itu ke masjid,” pungkasnya.

Sementara itu, Agus Gineer, selaku Pengelola Cirebon Tiket yang juga Founder About Cirebon mengatakan open trip wisata religi jelajah tajug kuno ini disambut antusias masyarakat. Sejak dibuka open trip di awal November 2023 kuota cepat terpenuhi.

“Tidak membutuhkan waktu lama, sejak dibuka open trip di awal November 2023, kuotanya langsung terpenuhi sebanyak 25 orang,” ujarnya.

Untuk pendaftaran open trip ini, kata Agus, dilakukan secara online menggunakan website Cirebontiket.id. Untuk tiket wisata religi ini hanya dibandrol Rp. 60 ribu.

“Dengan harga Rp. 60 ribu, peserta wisata religi jelajah tajug kuno ini sudah mendapatkan snack, jasa tour guide dan naik mobil Citros,” pungkas Agus. (HSY)

Bagikan:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *