Senin, 25 Mei 2020

Kisah Nenek Aminah, Penjual Celengan Berbahan Tanah Liat di Trusmi

Populer

H-3 Lebaran Idulfitri Kendaraan Roda Dua Padati Jalur Pantura Cirebon

Cirebon,- H-3 menjelang Hari Raya Idulfitri, Jalur Pantura Cirebon dipadati kendaraan roda dua dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah,...

Tetap Dukung PSBB, Grage Mall dan Grage City Mall Memilih Buka Sehabis Lebaran

Cirebon,- Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Cirebon di perpanjang mulai hari ini tanggal 20 Mei - 2...

Bila Masih Ditemukan Warga Mudik, Polresta Cirebon Akan Putar Balik Kendaraan

Cirebon,- Pemerintah telah mengeluarkan larangan mudik lebaran pada Hari Raya Idul Fitri tahun 2020 ini guna mencegah penyebaran virus...

PSBB Tahap Kedua, Pusat Perbelanjaan Boleh Buka Normal

Cirebon,- Pemerintah Daerah Kota Cirebon telah memutuskan untuk memperpanjang masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kota Cirebon mulai...

Masjid Raya At-Taqwa dan Masjid Sang Cipta Rasa Tidak Menggelar Salat Id

Cirebon,- Pemerintah Daerah Kota Cirebon telah memperpanjang masa PSBB tahap kedua selama 14 hari kedepan.PSBB tahap kedua sudah dimulai...

Cirebon,- Namanya Aminah sudah bertahun-tahun berjualan celengan berbahan tanah liat yang dibentuk ayam. Di usianya yang senja yaitu 85 tahun, Nenek Aminah tetap tersenyum, tak ada gelisah dan mengeluh.

Jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya di Arjawinangun ke tempat berjualan di Jalan Trusmi Komplek Batik Cirebon. Saat matahari baru menampakkan sinarnya, Nenek Aminah sudah bergegas menaiki elf menuju Trusmi pukul 06.00 WIB. Turun dari elf, Nenek Aminah menaiki becak yang dibayarnya Rp5.000 untuk menuju komplek batik trusmi, depan BT Batik Trusmi Cirebon.

Seakan tak ingin kalah semangat dengan sinar matahari yang semakin meninggi, Nenek Aminah selalu mencari tempat ternyamannya untuk berjualan. Hanya lapak yang teduh dan ramai lalu lalang orang menjadi tempatnya berjualan.

“Baka ning kene panas, pindah mana sing teduh,” ucapnya. (Kalau disini panas, pindah kesana (sebrangnya) yang lebih teduh).

Loading...

Satu persatu pembeli menghampiri. Biasanya yang membeli ibu-ibu bersama anaknya. Sang ibu membeli celengan, mainan masak-masakan, atau peralatan pembuat serabi di lapak Nenek Aminah untuk anaknya.

Murah saja, hanya Rp10 ribu per barang, bisa mendapatkan celengan, masak-masakan anak kecil, atau alat pembuat serabi. Semua dagangan Nenek Aminah adalah milik tetangganya.

Dari satu barang, nenek aminah hanya mendapatkan kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000. Tak sebanding dengan jualannya sejak pukul 06.00 sampai 16.00 WIB. Belum lagi, kalau dagangannya tidak laku banyak, Nenek Aminah kadang ditegur oleh pemiliknya.

Sang suami yang dicintainya sudah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Dia berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri. Dia berjualan untuk menyambung hidup, dan untuk makan sehari-hari.

“Dagang sekien kuh duite go mangan unggal dina,” ucapnya saat ditanya About Cirebon. (Dagang begini itu uangnya untuk makan sehari-hari).

Selama perbincangan, Nenek Aminah selalu melantunkan puji-pujian (biasanya puji-pujian pengantar lagu saat hendak ibadah sholat subuh). Dia melantunkan puji-pujian berbahasa Cerbonan yang berisi mengajak orang untuk ingat solat dan ibadah. Dalam pujian tersebut juga terdapat sepenggal kisah tentang jika seseorang meninggal dunia, orang tersebut hanya sendiri gelap didalam kubur.

Dengan rona bahagia, tersenyum, tak ada sedih di raut wajahnya. Bahkan puji-pujian menjadi teman saat dia menunggu pelanggan menghampiri.

Ternyata sejak beberapa tahun lalu, mata sebelah kanan Nenek Aminah ini sudah tak bisa lagi melihat. Mata sebelah kirinya pun pandangannya mulai kabur, namun dia tetap semangat berjualan. Nenek Aminah mengatakan sudah beberapa kali berobat ke Puskesmas tidak ada hasil. Karena memang matanya butuh penanganan serius. Dia pun tidak mengerti penyakit apa yang dideritanya itu.

Dia menceritakan bahwa dia memiliki satu orang anak laki-laki, dan 5 orang cucu. Anak semata wayangnya pun kerja serabutan dan istrinya sudah meninggal dunia.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nenek Aminah ini yaitu: Ketika keyakinan kuat, sejauh dan seberat apapun tantangannya, tetap bisa teratasi. Nenek Aminah ini mengajarkan tentang ‘ikhlas’.

Terpopuler

Bagaimana seorang manusia harus bersyukur dengan apa yang dimiliki, jangan mudah putus semangat dan selalu ingat untuk beribadah. (AC560)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Satu Pasien Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Kabupaten Cirebon Sembuh

Cirebon,- Gugus Tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon mengumumkan satu pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Cirebon sembuh.Berdasarkan hasil...

Slamet Anak Sebatang Kara yang Tinggal di Rumah Hampir Ambruk

Cirebon,- Slamet (15) asal Blok Singkil 2 RT 02 RW 07, Desa Astanajapuran Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, kondisinya terlihat memperihatinkan.Pasalnya, Slamet merupakan anak yatim...

Kasus Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Kabupaten Cirebon Bertambah Satu Lagi

Cirebon,- Gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon mengumumkan adanya penambahan satu pasien baru terkonfirmasi positif Covid-19, Sabtu (23/5/2020).Sehingga, total pasien terkonfirmasi positif Covid-19...

H-2 Jelang Lebaran Idulfitri, Polresta Cirebon Terus Lakukan Penyekatan Selama 24 Jam

Cirebon,- H-2 jelang Hari Raya Idulfitri tahun 2020, jajaran Polresta Cirebon bersama dengan unsur lainnya terus melakukan penyekatan di wilayah Kabupaten Cirebon.Kapolresta Cirebon, Kombes...

Polresta Cirebon Musnahkan Ribuan Minuman Keras Hasil Razia

Cirebon,- Polresta Cirebon memusnahkan barang bukti sepuluhan ribu botol minuman keras (miras) berbagai jenis hasil razia.Pemusnahan yang dihadiri Forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) Kabupaten...

More Articles Like This