Kisah Nenek Aminah, Penjual Celengan Berbahan Tanah Liat di Trusmi

0
292
Nenek Aminah

Cirebon,- Namanya Aminah sudah bertahun-tahun berjualan celengan berbahan tanah liat yang dibentuk ayam. Di usianya yang senja yaitu 85 tahun, Nenek Aminah tetap tersenyum, tak ada gelisah dan mengeluh.

Jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya di Arjawinangun ke tempat berjualan di Jalan Trusmi Komplek Batik Cirebon. Saat matahari baru menampakkan sinarnya, Nenek Aminah sudah bergegas menaiki elf menuju Trusmi pukul 06.00 WIB. Turun dari elf, Nenek Aminah menaiki becak yang dibayarnya Rp5.000 untuk menuju komplek batik trusmi, depan BT Batik Trusmi Cirebon.

Aston Hotel

Seakan tak ingin kalah semangat dengan sinar matahari yang semakin meninggi, Nenek Aminah selalu mencari tempat ternyamannya untuk berjualan. Hanya lapak yang teduh dan ramai lalu lalang orang menjadi tempatnya berjualan.

“Baka ning kene panas, pindah mana sing teduh,” ucapnya. (Kalau disini panas, pindah kesana (sebrangnya) yang lebih teduh).

Satu persatu pembeli menghampiri. Biasanya yang membeli ibu-ibu bersama anaknya. Sang ibu membeli celengan, mainan masak-masakan, atau peralatan pembuat serabi di lapak Nenek Aminah untuk anaknya.

Murah saja, hanya Rp10 ribu per barang, bisa mendapatkan celengan, masak-masakan anak kecil, atau alat pembuat serabi. Semua dagangan Nenek Aminah adalah milik tetangganya.

Dari satu barang, nenek aminah hanya mendapatkan kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000. Tak sebanding dengan jualannya sejak pukul 06.00 sampai 16.00 WIB. Belum lagi, kalau dagangannya tidak laku banyak, Nenek Aminah kadang ditegur oleh pemiliknya.

Sang suami yang dicintainya sudah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Dia berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri. Dia berjualan untuk menyambung hidup, dan untuk makan sehari-hari.

“Dagang sekien kuh duite go mangan unggal dina,” ucapnya saat ditanya About Cirebon. (Dagang begini itu uangnya untuk makan sehari-hari).

Selama perbincangan, Nenek Aminah selalu melantunkan puji-pujian (biasanya puji-pujian pengantar lagu saat hendak ibadah sholat subuh). Dia melantunkan puji-pujian berbahasa Cerbonan yang berisi mengajak orang untuk ingat solat dan ibadah. Dalam pujian tersebut juga terdapat sepenggal kisah tentang jika seseorang meninggal dunia, orang tersebut hanya sendiri gelap didalam kubur.

Dengan rona bahagia, tersenyum, tak ada sedih di raut wajahnya. Bahkan puji-pujian menjadi teman saat dia menunggu pelanggan menghampiri.

Ternyata sejak beberapa tahun lalu, mata sebelah kanan Nenek Aminah ini sudah tak bisa lagi melihat. Mata sebelah kirinya pun pandangannya mulai kabur, namun dia tetap semangat berjualan. Nenek Aminah mengatakan sudah beberapa kali berobat ke Puskesmas tidak ada hasil. Karena memang matanya butuh penanganan serius. Dia pun tidak mengerti penyakit apa yang dideritanya itu.

Dia menceritakan bahwa dia memiliki satu orang anak laki-laki, dan 5 orang cucu. Anak semata wayangnya pun kerja serabutan dan istrinya sudah meninggal dunia.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nenek Aminah ini yaitu: Ketika keyakinan kuat, sejauh dan seberat apapun tantangannya, tetap bisa teratasi. Nenek Aminah ini mengajarkan tentang ‘ikhlas’.

Terpopuler

Bagaimana seorang manusia harus bersyukur dengan apa yang dimiliki, jangan mudah putus semangat dan selalu ingat untuk beribadah. (AC560)