Sabtu, 19 Oktober 2019

Kisah Nenek Aminah, Penjual Celengan Berbahan Tanah Liat di Trusmi

Populer

Mahasiswa UPH Berikan Pelatihan di Desa Wisata Gerabah Sitiwinangun

Cirebon,- Guna mendukung pengembangan desa wisata, Universitas Pelita Harapan (UPH) memberikan pelatihan kepada masyarakat di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang,...

Tim Densus 88 Amankan Seorang Terduga Teroris Di Kota Cirebon

Cirebon,- Tim Densus 88 Anti Teror mengamankan seorang terduga teroris di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Minggu (13/10/2019)...

Tim Densus 88 Anti Teror Kembali Tangkap Terduga Teroris di Kota Cirebon

Cirebon,- Tim Densus 88 Anti Teror kembali mengamankan seorang terduga teroris di wilayah hukum Polres Cirebon Kota, Senin (14/10/2019)...

Densus 88 Temukan Bahan Untuk Bom Racun Kimia di Cirebon

Cirebon - Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri terus melakukan gerilya memberantas jaringan teroris di wilayah Cirebon Jawa Barat....

Puluhan Peserta Dari Berbagai Daerah Ikuti Kejuaran Nasional Cirebon Brewers Championship 2019

Cirebon,- Puluhan peserta dari berbagai daerah mengikuti Cirebon Brewers Championship #CBrC2019 yang diselenggarakan oleh Cirebon Coffee Event, Sabtu (12/10/2019). Event...

Cirebon,- Namanya Aminah sudah bertahun-tahun berjualan celengan berbahan tanah liat yang dibentuk ayam. Di usianya yang senja yaitu 85 tahun, Nenek Aminah tetap tersenyum, tak ada gelisah dan mengeluh.

Jarak yang cukup jauh dari tempat tinggalnya di Arjawinangun ke tempat berjualan di Jalan Trusmi Komplek Batik Cirebon. Saat matahari baru menampakkan sinarnya, Nenek Aminah sudah bergegas menaiki elf menuju Trusmi pukul 06.00 WIB. Turun dari elf, Nenek Aminah menaiki becak yang dibayarnya Rp5.000 untuk menuju komplek batik trusmi, depan BT Batik Trusmi Cirebon.

Seakan tak ingin kalah semangat dengan sinar matahari yang semakin meninggi, Nenek Aminah selalu mencari tempat ternyamannya untuk berjualan. Hanya lapak yang teduh dan ramai lalu lalang orang menjadi tempatnya berjualan.

“Baka ning kene panas, pindah mana sing teduh,” ucapnya. (Kalau disini panas, pindah kesana (sebrangnya) yang lebih teduh).

Satu persatu pembeli menghampiri. Biasanya yang membeli ibu-ibu bersama anaknya. Sang ibu membeli celengan, mainan masak-masakan, atau peralatan pembuat serabi di lapak Nenek Aminah untuk anaknya.

Murah saja, hanya Rp10 ribu per barang, bisa mendapatkan celengan, masak-masakan anak kecil, atau alat pembuat serabi. Semua dagangan Nenek Aminah adalah milik tetangganya.

Dari satu barang, nenek aminah hanya mendapatkan kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000. Tak sebanding dengan jualannya sejak pukul 06.00 sampai 16.00 WIB. Belum lagi, kalau dagangannya tidak laku banyak, Nenek Aminah kadang ditegur oleh pemiliknya.

Sang suami yang dicintainya sudah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Dia berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri. Dia berjualan untuk menyambung hidup, dan untuk makan sehari-hari.

“Dagang sekien kuh duite go mangan unggal dina,” ucapnya saat ditanya About Cirebon. (Dagang begini itu uangnya untuk makan sehari-hari).

Selama perbincangan, Nenek Aminah selalu melantunkan puji-pujian (biasanya puji-pujian pengantar lagu saat hendak ibadah sholat subuh). Dia melantunkan puji-pujian berbahasa Cerbonan yang berisi mengajak orang untuk ingat solat dan ibadah. Dalam pujian tersebut juga terdapat sepenggal kisah tentang jika seseorang meninggal dunia, orang tersebut hanya sendiri gelap didalam kubur.

Dengan rona bahagia, tersenyum, tak ada sedih di raut wajahnya. Bahkan puji-pujian menjadi teman saat dia menunggu pelanggan menghampiri.

Ternyata sejak beberapa tahun lalu, mata sebelah kanan Nenek Aminah ini sudah tak bisa lagi melihat. Mata sebelah kirinya pun pandangannya mulai kabur, namun dia tetap semangat berjualan. Nenek Aminah mengatakan sudah beberapa kali berobat ke Puskesmas tidak ada hasil. Karena memang matanya butuh penanganan serius. Dia pun tidak mengerti penyakit apa yang dideritanya itu.

Dia menceritakan bahwa dia memiliki satu orang anak laki-laki, dan 5 orang cucu. Anak semata wayangnya pun kerja serabutan dan istrinya sudah meninggal dunia.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nenek Aminah ini yaitu: Ketika keyakinan kuat, sejauh dan seberat apapun tantangannya, tetap bisa teratasi. Nenek Aminah ini mengajarkan tentang ‘ikhlas’.

Terpopuler

Bagaimana seorang manusia harus bersyukur dengan apa yang dimiliki, jangan mudah putus semangat dan selalu ingat untuk beribadah. (AC560)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Enam Bulan Dipantau, Kapolres Cirebon Raih Penghargaan Dari Lembaga Kajian Strategi Kepolisian Indonesia

Cirebon,- Kapolres Cirebon AKBP Suhermanto mendapat penghargaan dari Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi), Kamis (17/10/19) malam. Penyerahan penghargaan tersebut...

Meningkatkan Kualitas Peliputan Wartawan, Dewan Pers Gelar Workshop di Cirebon

Cirebon,- Pemilu Legislatif serta Pemilu Presiden & Wakil Presiden tahun 2019 telah dilaksanakan pada 17 April 2019. Hasil pemilu yang telah ditetapkan KPU, merupakan...

Peringati HUT TNI ke-74 dan Hari Santri Nasional, Kabupaten Cirebon Gelar Doa Untuk Negeri

Cirebon,- Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke-74 dan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2019, Pemerintah Kabupaten Cirebon bersama TNI-Polri, pesantren dan...

Densus 88 Temukan Bahan Untuk Bom Racun Kimia di Cirebon

Cirebon - Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri terus melakukan gerilya memberantas jaringan teroris di wilayah Cirebon Jawa Barat. Terbaru, Tim Densus menangkap 2...

Driver Ojol Asal Cirebon Dapat Skuter Vespa dari Program Undian Smartfren WOW

Cirebon,- Raut muka bahagia terpancar dari wajah Sucipto Kusumo, warga asal Blok Petapean RT/RW 016/006 Palimanan Timur, Kabupaten Cirebon.Pasalnya, Sucipto tengah berbahagia bisa membawa...

More Articles Like This