Keturunan Sultan XI Kasepuhan Cirebon, Mengukuhkan Sebagai Polmak

Cirebon,- Keturunan Sultan Sepuh XI Radja Jamaludin Aluda Tajul Arifin, Rahardjo Djali mengukuhkan diri sebagai Polmak atau Pejabat Sementara (Pjs) Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon.

Acara pengukuhan Rahardjo Djali, pria yang sempat viral di media sosial terkait penggembokan Keraton Kasepuhan Cirebon beberapa waktu lalu tersebut berlangsung di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kamis (6/8/2020).

Rahardjo mengatakan bahwa Putra Mahkota PRA Luqman Zulkaedin sebagai penerus Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan tidak sah, karena kebiasaannya sudah melenceng jauh dari kebiasaan yang ditempuh oleh pendahulu di Kesultanan Cirebon.

Baca Yuk : Video Viral Mengaku Keturunan Sultan Sepuh XI, Ini Tanggapan Sultan Sepuh XIV

BACA YUK:  Jadwal Pemadaman Listrik di Kota Cirebon, 6 Juli 2022

“Sejauh ini tidak sah, karena sudah melenceng jauh dari kebiasaan yang ditempuh oleh pendahulu di Kesultanan Cirebon,” ujar Rahardjo.

Menurut Rahardjo, pengukuhan sebagai Pejabat Sementara atau Polmak di Keraton Kasepuhan Cirebon untuk mengisi kekosongan jabatan Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon.

“Jabatan ini berakhir sampai keluarga besar berkumpul lagi untuk menentukan (sultan) yang definitif. Tetapi saya tidak bisa menentukan,” ungkapnya.

Pengukuhan sebagai Polmak, kata Rahrdjo, sudah disepakati dengan keluarga besar dari keturunan Sultan Sepuh XI dan juga mendapatkan dukungan dari beberapa pondok pesantren di Cirebon.

“Pengukuhan ini sudah disepakati keluarga besar, bahkan dari kalangan pesantren seperti Pondok Pesantren Buntet, Gedongan, Bendakerep, dan lainnya,” jelasnya.

BACA YUK:  OPINI : Agent of Change

Rahardjo menambahkan bahwa dirinya siap menerima penolakan dari pihak keluarga almarhum Sultan Arief. Namun, pihaknya juga mengapresiasi jasa Sultan Arief saat menjabat sebagai Sultan Sepuh XIV.

“Sebetulnya saya sudah lama berkomunikasi dengan Sultan Arief saat masih duduk Sultan Sepuh, tapi komunikasi ini kelihatannya buntu,” terangnya.

Pihaknya mengaku akan melakukan banyak sekali perbaikan-perbaikan di Keraton Kasepuhan.

Sementara itu, ahli Filolog dan juga Sejarah Cirebon, R. Achmad Opan Safari menjelaskan peristiwa pengangkatan Polmak dari sisi sejarah memang ada masa transisi yang terjadi beberapa kali, seperti di Keraton Kanoman dan Kasepuhan.

BACA YUK:  Program Kotaku Menjadi Destinasi Wisata Unggulan di Kota Cirebon

“Pengamatan Polmak dari sisi sejarah memang ada dan terjadi beberapa kali seperti di Keraton Kanoman dan Kasepuhan,” ujarnya

Mengenai pengangkatan Polmak Sultan Keraton Kasepuhan terhadap Rahardjo, menurut Opan tetap sah. Karena, ia memiliki garis keturunan langsung dari Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon XI.

“Beliau yang saya lihat ada garis keturunan dari perempuan. Dari laki-lakinya dia keturunan Kiyai Djali, ke Kiyai Pegambiran, terus silsilahnya ke atas, saya tidak begitu hapal, lalu ke Pangeran Sindang Garuda terus ke Sunan Gunung Jati. Ini Polmak bukan Sultan,” jelas Opan. (AC212)

(Dilihat: 33 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.