Keterbatasan Fisik Tidak Menjadi Halangan, Pria Ini Membuat Miniatur dari Bambu

0
26

Cirebon‎,- Mustofa (27) pemuda asal Desa Guwa Lor, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon yang memiliki keterbatasan fisik ini mampu menyulap bambu menjadi kerajinan yang memiliki nilai tinggi.

Dengan keterbatasan dan kelebihan yang dimilikinya, Mustofa mencoba mengubah hidupnya menjadi pengrajin miniatur dan tidak menggantungkan kehidupannya pada orang lain.

Aston Hotel

1. Sejak 2016

Mustofa terserang polio saat masih balita, namun semangatnya untuk berusaha dan tidak mencari belas kasihan orang yang patut diacungi jempol.

Sebelum menjadi pengrajin miniatur dari bambu, Mustofa pernah usaha jual beli kandangan dan juga pakan ternak. Tetapi, pada tahun 2014 dirinya memutuskan untuk berhenti.

Teja Berlian
Teja Berlian 2
Teja Berlian 3

“Setelah berhenti usaha itu (kandang dan pakan ternak), saya balik lagi jadi pengrajin miniatur dari bambu,” ujarnya, Senin (29/4/2019).

Menurut Mustofa, dirinya sudah bergelut dengan bambu sejak tahun 2016 sebenarnya, dan sekarang produk kerajinan yang dibuatnya bisa bersaing dengan produk lainnya.

“Alhamdulillah, produk saya banyak yang suka, bahkan ada TKI yang bekerja di luar negeri banyak yang pesan,” terangnya.

2. Media Sosial

Produk kerajinan yang dibuat Mustofa, kini mampu bersaing dengan produk-produk lainnya. Tak heran, karyanya bisa diterima dan diakui oleh masyarakat luas.

Menurut Mustofa, kerajinan yang dibuatnya dipasarkan juga melalui media sosial. Tetapi, yang memasarkannya adalah sahabat dekatnya.

“Saya dibantu sahabat saya namanya Ubaidilah, dia yang memasarkan di media sosial,” terangnya.

Awalnya, kata Mustofa, Ubaidilah datang kerumah dan memesan kerajinan yang dibuat olehnya. Kemudian, Ubaidilah yang bantu dirinya memasarkan hasil karyanya.

“Alhamdulillah ada temen yang mau bantu masarin,” ungkapnya.

3. Harga Terjangkau

Harga yang ditawarkan untuk satu kerajinan bambu yang dibuat Mustofa dibandrol mulai dari Rp. 150 ribu sampai Rp. 300 ribu.

“Untuk harga tergantung tingkat kesulitannya, seperti miniatur rumah gadang,” ujarnya.

Menurut Mustofa, untuk pemesan masih di area wilayah Jawa Barat, tapi juga ada sejumlah TKI yang di Taiwan, Hongkong, dan Australia.

“Ini berkat pemasaran dari sahabat saya yang menjualnya lewat media sosial,” tandasnya. (AC212)