Keluarga Korban Rudapaksa di Bawah Umur Buka Suara, ini Penjelasannya

Cirebon,- Kasus dugaan rudapaksa yang dialami anak di bawah umur oleh terduga oknum polisi di Kabupaten Cirebon kembali mencuat. Kali ini, pihak keluarga korban dan kuasa hukumnya buka suara terkait kasus tersebut.
Hetta Mahendarti Latumeten, selaku kuasa hukum korban mengatakan bahwa kasus yang dialami oleh Ibu Vi tidaklah prank, dia hanya sebuah ibu yang mencari keadilan untuk anaknya. Kasus ini, lanjut Hetta, masih berlanjut di pihak kepolisian.

“Selama saya mendampingi beliau (korban) apapun yang menjadi unek-unek, ganjalan dari prinsipal kami selalu diakomodir oleh pihak kepolisian secara cepat. Adapun hasilnya, sekarang sudah sampai diserahkan ke Kejaksaan,” ujar Hetta kepada awak media, Senin (22/11/2022).

BACA YUK:  Siswa-siswi Cirebon Wakili Jawa Barat pada Lomba Cerdas Cermat Museum Tingkat Nasional

Namun, kata Hetta, pihaknya masih menunggu dan memohon kepada Kejaksaan untuk segara kasus ini bisa P21 secepatnya. Sehingga, kasus ini bisa terang benderang di masyarakat.

“Kasus ini sebetulnya sudah terjadi sejak korban duduk di kelas 4 SD. Dan Ibu Vi sebelum menikah dengan (terduga) pelaku sudah melakukan nikah siri selama satu tahun. Jadi kalau berkembang di media bahwa Ibu Vi berbohong tentang adanya anak, itu tidak benar,” katanya.

Hetta menambahkan, kasus dugaan kekerasan seksual dan KDRT berkasnya semua sudah diserahkan kepada Kejaksaan. Pihaknya meminta kepada Kejaksaan untuk kasusnya segera diakomodir dan secepatnya bisa P21.

BACA YUK:  Bupati Imron Lepas Keberangkatan 440 Calon Haji di Asrama Haji Watubelah Sumber

“Kami baru berbicara hari ini karena kami tidak ingin kasus ini menjadi blunder. Kami ingin semua itu berjalan sesuai dengan prosedur yang ada dan kami yakin dan percaya pihak kepolisian bisa menjaga amanah kami,” ungkapnya.

Pihaknya juga berharap Kejaksaan untuk segera untuk menindaklanjuti perkara dengan menyegerakan P21. Semoga dengan penjelasan ini, kata Hetta, bisa mengakomodir segala ganjalan yang selama ini dikatakan prank, mencari sensasional, itu tidak benar semuanya.

“Kami bisa buktikan, pada saat fakta persidangan itu bisa dibuktikan bahwa dari prinsipal kami tidak mengeprank siapapun,” tegasnya. (HSY)

Bagikan:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *