Keluar dari Comfort ZoneONE

“Saya mau belajar untuk tidak terlalu banyak meminta pada orang tua”

Ungkapan singkat dari seorang pemuda yang sedang duduk bersama teman-temanya di sebuah gardu lusuh tempat biasa warga ronda. Dengan gagah dan tanpa malu kata-kata itu keluarkan untuk menunjukan bahwa dia telah mandiri. Sudah mampu menghidupi, bekerja dan melakukan segala-galanya sendiri. Mungkin itulah yang saat ini kita kenal dengan keluar dari zona aman (comfort zone).

Suatu saat saya pernah mengunjungi sebuah pondok pesantren yang begitu terkenal di Magelang.  Pesantren itu bernama Pondok Pesantren Pabelan, didirikan pada masa kemerdekaan oleh Mbah Hamam dan kini diasuh oleh anaknya yang bernama Mohammad Najib Amin. Ketika itu, di tengah obrolan tentang agama Pa Najib berbicara “Cuma ada dua yang tidak berubah di dunia kecuali Allah dan perubahan-perubahan itu sendiri”.

Kata-kata itu secara langsung membawa ingatan saya tentang “comfort zone” atau zona aman. Ya, zona aman tidak mungkin terjadi tanpa sesuatu yang di sebut dengan perubahan. Dulu merangkak kini berjalan, dulu susah mengucap huruf “r” kini begitu lancar beradu argument, dulu disiapkan kini menyiapkan sendiri. Artinya ada banyak hal yang berubah, dari keadaan yang sebenarnya lebih aman menuju keadaan yang lebih sulit dan kita menikmati itu karena kita memang selalu ingin tahu.

Manusia mampu mengalami fase perubahan karena memiliki beberapa faktor. Faktor-faktor ini kemudian di rangkum menjadi 4 (empat) hal oleh buletin Harvard Bussines Review edisi 2008. Hal-hal itu meliputi keinginan memiliki lebih, keinginan untuk mengikat, keinginan untuk memahami dan keinginan untuk mempertahankan. Secara singkat keinginan itu di definisikan sebagai berikut :

BACA YUK:  Solusi Islam Menghentikan Kaum Pelangi

a.Keinginan memiliki lebih 

Manusia pada dasarnya memiliki sifat tidak pernah merasa puas dan itu sudah di jelaskan dalam berbagai macam kitab suci. Manusia selalu mencari hal-hal baru yang dia belum miliki walaupun sesungguhnya tidak di butuhkan. Keinginan memiliki lebih ini juga tidak bisa dilepaskan dari apa yang dimiliki oleh manusia yaitu nafsu.

b.Keinginan untuk mengikat

Setiap manusia selalu merasa bahagia apabila dia memiliki banyak teman. Kemudian untuk mempertahankan hubungan itu, dibentuklah suatu ikatan. Dengan saling mengikat manusia merasa memiliki kekuatan.

c.Keinginan memahami

Setelah lelah menjalani segala hal di dunia ini. Manusia kemudian merasa ingin memahami. Memahami siapa dirinya, dari mana dia berasal dan untuk apa dia hidup.

d.Dan keinginan mempertahankan

Pada akhirnya manusia cenderung ingin selalu mempertahankan apa yang dia miliki.

Poin a dan b mungkin adalah faktor utama mengapa manusia selalu ingin melakukan hal yang lain. Dengan sifat selalu ingin lebih mereka kemudian mereka mencoba keluar dari zona aman dan menjalani hidupnya yang baru. Hidupnya yang baru ditopang dengan suatu ikatan dan terbentuklah dia menjadi manusia sesungguhnya. Dua hal itu yang kemudian membawa kita ke perubahan.

BACA YUK:  Solusi Islam Menghentikan Kaum Pelangi

Yang membedakan manusia dengan binatang adalah karena manusia itu al insanu hayawanun natiq makhluk yang berakal. Binatang tahu mana ikan yang segar dan sudah busuk tetapi manusia tahu apa yang terkandung di dalamnya, tahu bahwa ikan mampu membuat cerdas. Kucing selalu tahu bahwa mereka selalu dalam bahaya bila bertemu dengan anjing, tetapi mereka tidak pernah mencoba berkumpul dan perang melawan anjing.

Lalu sama halnya dengan nyamuk yang tahu mana manusia yang memiliki banyak darah. Akan tetapi nyamuk tidak pernah mencoba untuk mengumpulkan darah-darah itu menjadi satu agar mereka tidak sibuk mencari darah dimalah hari. Atau tikus yang selalu berulang-ulang terjebak pada jebakan tikus tanpa memberi tahu temanya tentang bahaya jebakan tikus. Itulah bedanya akal binatang dan manusia, manusia selalu dinamis sedangkan binatang statis.

Perubahan tidak lain terbentuk oleh keinginan keluar dari zona aman dengan menggunakan kreatifitas melalui akal. Keinginan ini yang kemudian menghidupkan akal untuk kreatif dan mencoba sesuatu yang baru. Keinginan ini pula yang kemudian membawa manusia pada pemahaman baru tentang hidup, yang membedakanya dengan binatang. Tanpa keinginan untuk keluar dari zona aman artinya manusia telah mendzholomi otaknya. Otak yang diberikan pada dirinya dan menjadinya makhluk yang unggul.

BACA YUK:  Solusi Islam Menghentikan Kaum Pelangi

Pemuda diatas mungkin  hanya mengeluarkan ungkapan kosong. Tetapi dengan mengucapkan keinginanya untuk mandiri, dia secara langsung gelisah dan ingin perubahan. Perubahan itupun tentunya untuk dia yang lebih baik. Untuk mencapai perubahan yang dia ingin, pemuda itu kemudian menggunakan otaknya untuk melakukan hal baru dan secara perlahan mengembangkan kreatifitas.

Kegelisahan yang pemuda itu alami adalah kegelisahan yang Thomas Alva Edison juga alami. Keinginan perubahan yang dimiliki pemuda itu juga adalah keinginan yang Alexander Grahambell juga ingini. Tata caranya menggunakan otak kemudian mencoba memahami juga sama dengan apa yang dirasakan Issac Newton. Semuanya ditemukan oleh benang merah yang kita kenal dengan perubahan.

Thomas Alva Edison dengan kegilisahanya pada gelap, dengan sigap bekerja keras untuk menciptakan lampu. Grahambell dengan imajinasinya tentang obrolan jarak jauh akhirnya mampu menciptakan telepon. Issac Newton pun diawali dari rasa bingungnya mengapa semua benda itu jatuh kebawah, maka ditemukanlah teori grafitasi.

Ciptakanlah rasa gelisah dan keingan untuk mencoba keluar dari zona aman. Dengan memiliki rasa itu kita akhirnya akan mampu mencoba hal-hal baru. Temukan passion kita dan tekuni, lalu jelajahi segala hal dengan imajinasi. Tidak ada perubahan tanpa tindakan, tidak ada tindakan tanpa niat, tidak ada niat tanpa rencana untuk keluar dari comfort zone.

Penulis : Bakhrul Amal

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *