Jelang Maulid Nabi Muhammad, Keraton Kasepuhan Gelar Tradisi Siraman Panjang dan Buka Bekasem

Cirebon,- Jelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar tradisi siraman panjang dan tradisi buka bekasem, Jumat (23/10/2020).

Tradisi siraman panjang merupakan tradisi pencucian piring Wali yang dilaksanakan setiap tanggal 5 Maulud yang tahun ini jatuh pada tanggal 23 Oktober 2020.

Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA. Luqman Zulkaedin mengatakan dalam rangka memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW, setiap tahunnya Keraton Kasepuhan menggelar tradisi siraman panjang dan juga buka bekasem.

“Tradisi siraman panjang dilaksanakan setiap tanggal 5 Maulud setiap tahunnya dalam rangka Maulud Nabi Muhammad SAW,” ujar Luqman.

BACA YUK:  Wali Kota Cirebon Minta PDAM Berikan Pelayanan Terbaik Bagi Pelanggan

Luqman menjelaskan, dalam siraman panjang tahun ini ada 7 piring Wali yang dicuci, karena tahun ini adalah tahun Jim Akhir. Namun, selain tahun Jim Akhir biasanya mengeluarkan 9 piring Wali.

“Setiap tahun Dal dan tahun Wawo maka 9 piring Wali dikeluarkan semua untuk dicuci. Selain tahun itu biasanya hanya 7 piring saja yang dicuci,” bebernya.

Pada acara tradisi siraman panjang tahun ini, ada 7 piring wali, 38 piring pengiring, 2 guci, dan 2 gelas. Menurut Luqman, piring-piring tersebut dihiasi kaligrafi nama Allah dan kalimat Toyibah.

“Piring-piring tersebut usianya sudah 700 tahun. Selama ini disimpan di museum pusaka,” jelasnya.

BACA YUK:  Gelar Seni Pasanggrahan Kembali Digelar di Goa Sunyaragi

Sehingga, kata Luqman, rangkaian iring-iringan siraman panjang dimulai dari Museum Pusaka menuju ruang Gebyos melalui dalem arum. Kemudian acara siraman berlangsung di ruang Kaputren.

Makna dari siraman panjang ini, kata Luqman, setiap kita mulai kegiatan maupun ibadah harus bersuci terlebih dahulu.

“Setiap mulai kegiatan atau ibadah kita harus bersih, harus mandi, harus wudhu, agar kegiatan kita dan ibadah kita dalam keadaan bersih dan suci,” ungkapnya.

Karena dalam kondisi Pandemi dan anjuran pemerintah, Luqman menjelaskan bahwa tradisi siraman panjang dilaksanakan dengan protokol kesehatan dan dilakukan secara terbatas.

BACA YUK:  Kolaborasi dengan MVP Pictures, Telkomsel MAXstream Hadirkan Film Baby Blues Bertemakan Keluarga

“Tradisi ini hanya dihadiri Wargi, para abdi dalem, kaum masjid agung, masyarakat Magersari dan lain-lain,” jelasnya.

Setelah prosesi siraman panjang, kegiatan dilanjut dengan tradisi membuka dua guci bekasem ikan yang dipimpin oleh RA Ratih Marlina.

Bekasem ikan merupakan ikan kakap yang diberi rempah dan dimasukan kedalam guci selama sebulan mulai tanggal 5 safar yang lalu sampai hari ini 5 Maulud.

“Bekasem ikan ini dicuci kemudian di jemur. Setelah itu dimasak di dapur Maulud bersama nasi jimat yang akan dihidangkan pada 12 Maulud,” pungkasnya. (AC212)

(Dilihat: 14 pengunjung)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.