Inilah Tradisi Tawurji di Keraton Kanoman Cirebon

Cirebon, 30 November 2016,- Ratusan warga mengikuti tradisi Tawurji yang digelar pada Rebo Wekasan atau hari Rabu di akhir bulan Sapar yang berlangsung di Keraton Kanoman, Kota Cirebon, Rabu (30/11/2016).

Warga rela berdesakan untuk mendapatkan saweran tradisi tawurji. Mereka berharap mendapatkan berkah pada akhir bulan Sapar dan menyambut datangnya bulan maulid.

Ratusan warga yang sudah menanti di depan Jinem Keraton Kanoman langsung masuk kedalam Jinem saat Sultan Kanoman ke-XII, Sultan Raja Mochammad Emirudin yang didampingi Pangeran Patih Qodiron dengan dua perwakilan keluarga membawa nampan besar berisi uang recehan.

BACA YUK:  Info Loker! Lowongan Kerja PPPA Daarul Qur'an Cirebon Terbaru Januari 2023

Sebelum saweran uang receh, Keluarga Keraton membacakan doa Assyuro sambil bersenandung “Tawurji Selamat panjang umur” kemudian Sultan langsung menyawerakn uang receh bercampur beras kepada warga yang hadir.

Pangeran Patih Qodiron mengatakan, Keraton Kanoman selalu mengadakan Tradisi Tawurji setiap tahunnya yang bertepan di hari Rabu akhir bulan Sapar. Tawurji ini adalah sebuah tradisi turun menurun dari jaman para wali.

Tawurji ini bermakna untuk mensejahterkanan masyarakat atau warga setempat dan Alhamdulillah Keraton Kanoman masih menggunakan pepakem tradisi ini.

BACA YUK:  Mie GET Cirebon, Sajian Kuliner Indomie Viral Kerap Didatangi Food Vlogger Terkenal

“Bahwasannya ini adalah keniatan dari seorang pemimpin untuk mensejahterakan masyarakatnya melalui Tawurji ini,” ujarnya kepada About Cirebon.

Warga berebut uang receh tradisi Tawurji di Keraton Kanoman Cirebon.

Warga berebut uang receh tradisi Tawurji di Keraton Kanoman Cirebon.

Selain itu, Juru Bicara Keraton Kanoman Ratu Raja Arimbi Nurtina usai tradisi tawurji menambahkan, dilakukan Tawurji bertepatan dengan tanggalan Jawa Rebo Wekasan yang jatuh pada minggu terakhir di bulan Safar.

Rebo Wekasan diyakini banyak sekali cobaan-cobaan ataupun bencana yang menimpa kita. Sehingga kita dianjurakn untuk bisa berbagi bersedekah kemudian berdoa supaya kita bisa menjalani ujian-ujian tersebut dan terhindar dari bencana.

BACA YUK:  Polres Cirebon Kota Kirimkan Bantuan dan Tenaga Konselor ke Kabupaten Cianjur

Tradisi Tawurji juga erat kaitannya dengan mitos dimusnahkannya ajaran Syech Siti Jenar, yang dianggap menyesatkan ajaran Islam. Ketika Syeh Siti Jenar dieksekusi pada bulan Safar 5 abad yang lalu. Maka 40 anak asuhnya menjadi yatim dan telantar.

“Dari tradisi Tawurji ini memberi makna agar masyarakat peduli terhadap fakir miskin, untuk saling berbagi rizki kepada sesama sesuai dengan kemampuan masing-masing,” pungkasnya. (AC212)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *