Inilah Hasil Kajian Penelitian dan Pengembangan Pariwisata Berbasis Kawasan di Kabupaten Cirebon

Cirebon,- Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) bersama Badan Perencanaan dan Penelitian Pembangunan Daerah (Bapelitbangda) Kabupaten Cirebon, menggelar Diseminasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Pariwisata Berbasis Kawasan di Kabupaten Cirebon di Apita Hotel, Jumat (30/09/2022)

Peningkatan kualitas fasilitas pariwisata merupakan salah satu isu strategis nasional dan daerah yang perlu ditanggapi dengan tepat. Namun, terdapat beberapa permasalahan yang muncul dalam pengembangan industri pariwisata seperti proses sinergi antar mata rantai usaha pariwisata yang masih belum optimal.

Selain itu, destinasi wisata yang dimiliki Kabupaten Cirebon memiliki isu berlapis dan saling tarik menarik. Bahkan, fungsi-fungsi tertentu yang berkaitan dengan kepentingan pariwisata, industri dan lingkungan masih saling tumpang tindih.

BACA YUK:  Rapimnas Partai Demokrat, Seluruh Pimpinan Dukung AHY Maju Pilpres 2024

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, Kabupaten Cirebon perlu untuk melakukan pembangunan destinasi wisata kabupaten yang meliputi perwilayahan, pembangunan Daya Tarik Wisata Kabupaten (DTWK), aksesibilitas pariwisata, pembangunan prasarana umum, fasilitas umum, dan pemberdayaan masyarakat.

Arif Nurudin, M.T, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon mengatakan pengembangan pariwisata berbasis kawasan merupakan pendekatan yang paling efektif dan efesien untuk dilakukan dalam waktu dekat secara terukur.

UMC, lanjut Arif, dipercaya oleh Bapelitbangda Kabupaten Cirebon untuk melakukan penelitian dan pengembangan pariwisata berbasis kawasan di Kabupaten Cirebon.

BACA YUK:  Hadir dengan Suasana Baru, Kini Toko Emas Laura Lebih Nyaman dan Elegan

“Hasilnya nanti bisa menjadi masukan-masukan untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Cirebon,” ujar Arif.

Untuk awal, kata Arif, lokasi pelaksanaan kegiatan penyusunan kajian penelitian dan pengembangan Pariwisata berbasis kawasan dilakukan di tiga kecamatan. Yaitu, Kecamatan Gunung Jati, Kecamatan Gegesik, dan Kecamatan Jamblang.

Secara umum, DTWK yang ada di Kabupaten Cirebon terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu wisata religius, wisata alam, wisata kuliner, wisata belanja, dan wisata kearifan lokal.

“Harapannya bisa mendongkrak perekonomian Kabupaten Cirebon, bila hasil kajian ini dilaksanakan oleh pemerintah. Banyak sekali yang harus ditindaklanjuti dengan adanya hasil kajian ini,” ungkapnya.

BACA YUK:  Efek Ekonomi G20 di Indonesia: Investasi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Apalagi, kata Arif, ada program Kampus Merdeka, yang harapannya bisa memberikan kontribusi melalui kajian tersebut. Dengan anggaran yang ada di Kemendikbud, menurutnya bisa menjadikan sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan Kabupaten Cirebon.

Kebijakan pengembangan pariwisata berbasis kawasan, tambah Arif, berfungsi untuk menetapkan fokus pengembangan dengan basis kawasan yang ada. Arah kebijakan pariwisata Kabupaten Cirebon ini dirumuskan untuk menjadi pedoman dalam mengimplementasikan pembangunan daerah yang sinergis dan berkesinambungan.

“Secara ideal, arah kebijakan harus sesuai dengan fokus pembangunan. Khususnya yang berkaitan dengan tema pembangunan tahunan daerah,” pungkasnya. (HSY)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *