Inilah 5 Cara Mengatasi Deflasi Ekonomi

Pemerintah dan Bank Indonesia biasanya menargetkan inflasi sekitar 3% sampai 5% untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Jika inflasi meningkat terlalu tinggi, maka menghasilkan peningkatan harga pasar yang tajam, pengetatan moneter dan kebijakan fiskal bisa diberlakukan. Jika proses tersebut berbalik, dalam hal ini terjadi deflasi, maka pengenduran kebijakan moneter dan fiskal lah yang diterapkan. Kedua kebijakan ini bagaimanapun bisa mengalami kesulitan penerapan, tergantung dari aspek teknis dan batasan dunia keuangan di lapangan.

Deflasi kadang kala bisa menjadi masalah ekonomi serius yang menghasilkan krisis keberlanjutan pada resesi dan depresi. Saat harga jatuh atau diprediksi jatuh di masa yang akan datang, bisnis dan masyarakat akan memilih untuk menyimpan uang mereka, dibandingkan belanja atau berinvestasi. Hasilnya adalah penurunan permintaan, dan akhirnya memaksa bisnis untuk mengurangi produksi dan menjual pasokan lebih banyak, dimana harga akan turun lebih drastis.

Pengangguran dan hasil PHK bisa lebih sulit mencari lowongan pekerjaan. Pada akhirnya perusahaan tidak bisa mmebayar cicilan hutang, menyebabkan kebangkrutan dan terjadi kelangkaan kredit dan likuiditas lebih lanjut. Skenario ini sangat menakutkan, dan pemerintah akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari hal seperti ini terjadi. Berikut 5 cara yang bisa dilakukan pemerintah dalam mengatasi deflasi ekonomi dalam suatu negara.

BACA YUK:  Inilah Mie Koclok yang Patut Dinikmati Saat di Cirebon

Kebijakan Moneter

Operasi Pasar Terbuka (OPT)

Dalam OPT, Bank Indonesia bisa membeli surat berharga yang dijual di pasar, dan sebagai gantinya, memberikan uang tunai kepada penjual. Dengan begini, terjadi peningkatan pasokan uang tunai sekaligus mendorong belanja masyarakat. Sama halnya dengan barang sekalipun, dalam prinsip ekonomi, nilai uang sendiri ditentukan oleh ketersediannya. Jika pasokan uang tunai meningkat, maka nilainya bisa turun. Setiap Rupiah bisa membeli lebih sedikit dan harga barang bisa naik, alih-alih menurun.

Menurunkan Capaian Suku Bunga

Bank Indonesia bisa menurunkan target suku bunga dalam kredit jangka pendek dalam sektor keuangan. Jika suku bunga tinggi, maka biaya dalam sektor keuangan lebih tinggi untuk meminjam dana yang dibutuhkan untuk mencapai kebutuhan operasi harian.

BACA YUK:  Jadwal Samsat Keliling P3DW Ciledug Kabupaten Cirebon, 5 - 10 September 2022

Suku bunga jangka pendek juga mempengaruhi suku bunga jangka panjang, jadi jika capaian ditingkatkan, maka pinjaman rumah misalnya juga bisa meningkat biayanya. Menurunkan tingkat suku bunga bisa mempermudah peminjaman uang sehingga mendorong investasi baru. Masyarakat juga bisa lebih mudah membeli rumah baru dengan mengurangi biaya bulanan rumah tangga mereka.

Suku Bunga Negatif

Alat ini termasuk tidak lumrah dilakukan. Suku bunga negatif berarti penyimpan uang di bank harus membayar, alih-alih mendapat bunga seperti biasanya. Saat ini diterapkan, masyarakat akan memiliki kecenderungan untuk belanja baik dalam hal konsumtif, investasi aset bahkan proyek yang menghasilkan keuntungan.

Kebijakan Fiskal

Meningkatkan Belanja Negara

Ekonom seringkali menggunakan kebijakan fiskal untuk meningkatan agregat permintaan dan menarik keluar ekonomi suatu negara dari periode deflasi. Jika masyarakat dan bisnis berhenti belanja, maka tidak ada insentif bagi perusahaan untuk membayar karyawan mereka. Pemerintah bisa menjadi pengganti. Bahkan meminjam uang untuk dibelanjakan dalam defisit fiskal. Bisnis dan karyawan mereka bisa menggunakan uang negara untuk investasi dan belanja sampai harga mulai kembali meningkat bersamaan dengan permintaan barang.

BACA YUK:  80 UMKM di Ciayumajakuning Meriahkan CEF 2022 di Kota Cirebon

Memotong Pemasukan Pajak

Jika pemerintah memotong pemasukan pajak, akan lebih banyak pendapatan yang dirasakan bisnis dan masyarakat. Dimana efek dari kelebihan pasokan uang yang seharusnya masuk ke kas negara. Satu resiko dari penurunan pajak dalam periode resesi adalah pendapatan negara secara keseluruhan bisa turun, dimana bisa memaksa pemerintah untuk menahan belanja dan bahkan hutang. Kebijakan ini masih memiliki pro dan kontra akan keberhasilannya secara langsung dalam menstimulasi ekonomi pasar.

Kesimpulan

Saat melawan deflasi, sedikit lebih sulit dibandingkan inflasi, dimana pemerintah dan Bank Indonesia memiliki kebijakan khusus yang bisa digunakan untuk menstimulasi permintaan dan pertumbuhan ekonomi. Resiko perputaran deflasi bisa mengarah pada hasil negatif yang merugikan semua pihak. Walaupun pada awalnya, masyarakat bisa senang dengan meningkatnya nilai mata uang.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *