Ini Makna Hari Santri Menurut Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan

Cirebon,- Kita Negara Kesatuam Republik Indonesia menghormati, tentunya adat yang ada di Indonesia, termasuk adanya Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober.

Menurut Sultan Sepuh XIV, PRA. Arief Natadiningrat mengatakan kita harus bersyukur bahwa bagaimana santri bisa dihormati dan diangkat.

“Dan itu saya kira, sesuai dengan sejarahnya bahwa di Cirebon ini Sunan Gunung Jati sesuai dengan amanatnya Isun Titip Tajug lan Fakir Miskin,” ujarnya kepada About Cirebon di Keraton Kasepuhan, Sabtu (20/10/2018).

“Dari Tajug inilah, dari pesantren inilah, bagaimana kita membangun bangsa dan negara, membangunan akhlak, kebaikan, silaturahmi, kesatuan dan kesatuan,” imbuhnya.

BACA YUK:  Peringati HSN 2022, Dema IAIN Syekh Nurjati Cirebon Adakan Dialog Santri Internasional

Oleh karena itulah, kata Sultan, yang disebut santri adalah, bahwa kita harus tetap belajar belajar walaupun sudah tua.

“Walaupun sudah tua ya tetap santri, karena kita harus belajar terus menerus, sampai kita meninggal itu ya belajar. Karena itulah disebut hari santri,” terangnya.

Untuk meramaikan Hari Santri Nasional, PBNU bekerja sama dengan Keraton Kasepuhan menggelar Festival Tajug.

Kegiatan Festival Tajug akan berlangsung selama tiga hari, mulai hari ini Sabtu 20 Oktober sampai 22 Oktober 2018 di Alun-alun Kasepuhan, Kota Cirebon.

BACA YUK:  Info Loker! Lowongan Kerja Terbaru Untuk Posisi Staff Event Organizer

Pada pembukaan Festival Tajug tersebut, turut hadir Sultan Sepuh XIV P.R.A. Arief Natadiningrat, Rais Aam PBNU KH. Miftahul Ahyar, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum, Pj Wali Kota Cirebon Dedi Taufik, Ketua Pelaksana KH. Mustofa Aqiel Siradj, para santri dan santriwati, serta para tamu undangan. (AC212)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *