Jumat, 24 Januari 2020

Ini Makna dan Filosofi Siraman Panjang di Keraton Kasepuhan Cirebon

Populer

Geger Penemuan Mayat Wanita Tanpa Busana di Jalan Wiratama Cirebon

Cirebon,- Mayat wanita tanpa busana ditemukan warga di Jalan Wiratama, Kecematana Kedawung, Kabupaten Cirebon, Minggu (19/1/2020) siang. Warga yang pertama...

Pengembang Perumahan Bersubsidi di Kabupaten Cirebon Terancam Mandeg

Cirebon,- Forum Komunikasi Pengembang Perumahan Cirebon (FKPPC) memberikan pernyataan terkait permasalahan pemberian hak guna bangunan atas tanah yang akan...

Asyiknya Berwisata di Grand Maerakaca Semarang

Semarang,- Waktu tempuh dari Cirebon ke Semarang semakin cepat, baik menggunakan kereta api maupun menggunakan kendaraan mobil yang memakan...

Rusak Tanaman Padi, Petani di Kabupaten Cirebon Berburu Tikus

Cirebon,- Banyaknya hama tikus yang merusakan tanaman padi, puluhan petani di Blok Krapyak, Desa Panguragan Kulon, Kecamatan Panguragan, Kabupaten...

Sasar Kaum Milenial, CSB Mall Akan Buka Opus Ware House Dengan Konsep Kekinian

Cirebon,- Awal tahun 2020, tenant yang ada di CSB Mall sudah mencapai 100 persen. Namun awal tahun ini, akan...

Cirebon,- Jelang Maulid Nabi SAW, Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar tradisi Siraman Panjang dan buka bekasem ikan, yang berlangsung di Dalem Arum Keraton Kasepuhan, Senin (4/11/2019).

Siraman panjang dan buka bekasem ikan ini dilaksanakan setiap tanggal 5 Maulud di Keraton Kasepuhan Cirebon.

1. Tradisi Siraman Panjang dan Buka Bekasem Ikan

Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, P.R.A. Arief Natadiningrat menjelaskan tradisi Siraman Panjang adalah mencuci sembilan piring, 40 piring pengiring, dua buah guci, dan dua gelas yang usianya sudah 700 tahun.

Loading...

“Piring-piring tersebut biasa dipakai oleh Wali Songo dulu. Dan ini dicuci setiap setahun sekali pada tanggal 5 Maulud,” ujarnya kepada About Cirebon usai prosesi Siraman Panjang.

Lanjut Sultan, piring-piring tersebut nantinya akan digunakan pada tanggal 12 Maulud untuk upacara Panjang Jimat, yaitu dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan Cirebon.

“Jadi, piring-piring ini nanti untuk tempatnya nasi jimat,” jelasnya.

Setelah melaksanakan siraman panjang, prosesi dilanjut dengan tradisi buka bekasem ikan. Bekasem ikan ini dimasukan kedalam guci dan ditutup rapat dengan rempah-rempahan yang sudah dibuat sejak tanggal 5 Safar dan dibuka pada 5 Maulud.

“Setelah didiamkan selama satu bulan, bekasem ikan ini dikeluarkan, lalu dibersihkan. Nantinya bekasem ikan ini dimasak bersamaan dengan nasi jimat untuk disuguhkan pada upacara panjang jimat,” bebernya.

“Nasi jimat ini akan dibacakan doa, sholawatan, dan kitab barjanji di Langgar Agung Keraton Kasepuhan,” imbuhnya.

2. Makna dan Filosofi Siraman Panjang

Makna dari siraman panjang, menurut Sultan, bahwa setiap kita ingin melakukan kegiatan, amal ibadah, dan setiap akan mengadakan sesuatu itu selalu kita bersuci terlebih dahulu.

“Ini adalah awal dari dalam peringatan Maulid Nabi SAW, dan kita awali dengan bersuci terlebih dahulu yaitu dengan mencuci piring-piring yang akan digunakan dalam upacara panjang jimat,” terangnya.

“Sehingga, makna dan filosofinya kita harus bersuci atau berwudhu, atau mandi didalam mengawali kegiatan,” tambahnya.

3. Sudah Berjalan Ratusan Tahun

Tradisi Siraman panjang dan buka bekasem ikan merupakan tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun, dan sampai saat ini terpelihara di Keraton Kasepuhan Cirebon.

“Prosesi ini juga sebagai menjaga adat dan tradisi budaya kita. Ini adalah kekayaan khazanah budaya kita,” ungkapnya.

Pihaknya berharap, keraton-keraton lain dan pusat-pusat budaya yang ada di Indonesia, memelihara adat dan tradisi ini.

4. Tahun Ini Sembilan Piring Keluar

Pada prosesi siraman panjang tahun ini, kata Sultan, kesembilan piring ini dikeluarkan untuk dibersihkan. Biasanya, tiap tahun hanya tujuh piring yang dikeluarkan.

“Untuk tahun ini istimewa, sembilan piring keluar untuk dibersihkan. Karena yang bisa mengeluarkan kesembilan piring tersebut hanya di tahun Wawo dan Dal,” kata Sultan.

Kemudian, untuk 40 piring pengiring yang dibersihkan kesemuanya ada tulisan kaligrafi, yang berkalimat Toyibah dan Sholawat.

“Yang dibersihkan juga ada dua guci dan dua gelas,” terangnya.

Tradisi mencuci sembilan piring, 40 piring pengiring, dua buah guci, dan dua gelas yang usianya sudah 700 tahun.

5. Berebut Air

Usai melaksanakan tradisi siraman panjang, masyarakat yang hadir langsung berebut air pencucian piring-piring tersebut.

Menurut Sultan, warga yang berebut air itu karena, mereka meyakini bahwa air ini mencuci piring yang berkalimatkan toyibah, dan piring-piring tersebut dibacakan sholawat, doa dan kitab barjanji setiap 12 robiulawal, dapat barokahnya.

“Setiap tahunnya, masyarakat yang hadir tidak hanya dari wilayah Cirebon saja, bahkan ada yang dari luar seperti Surabaya, Jakarta, Subang, Bandung, dan dari mana-mana,” pungkasnya. (AC212)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Jelang Imlek, Bank Indonesia Cirebon Hadirkan Layanan Penukaran Uang

Cirebon,- Dalam rangka Hari Imlek tahun 2020, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon menghadirkan mobil penukaran uang, yang...

Kendalikan Harga Komoditas, TPID dan Bank Indonesia Cirebon Gelar Pasar Murah

Cirebon,- Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Cirebon bersama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon menggelar pasar murah komoditas yang berlangsung di...

Komisioner OJK Minta OJK Daerah Terus Intensifkan Investasi Bodong

Cirebon,- Keberadaan Kantor OJK (Otoritas Jasa Keuangan) di daerah memegang peranan yang sangat penting sebagai ujung tombak dalam mengeksekusi berbagai program dan kebijakan strategis...

Perkembangan Ekonomi di Wilayah Ciayumajakuning Menunjukkan Pertumbuhan Positif

Cirebon,- Perekonomian Indonesia pada tahun 2019 menghadapi tantangan yang tidaklah ringan. Perlambatan ekonomi global sudah mulai kita rasakan, khususnya dalam aktivitas perdagangan luar negeri...

Arief Budi Wibisono Kini Jabat Kepala OJK Cirebon Gantikan Muhammad Lutfi

Cirebon,- Budi Arief Wibisono resmi menggantikan Muhammad Lutfi sebagai Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon.Acara pelantikan dan serah terima jabatan Kepala OJK Cirebon dari...

More Articles Like This