Hasil Jualan Daun Pisang, Dasiri Raup Omzet Hingga Rp4 Juta dalam Sehari

0
421
Dasiri, penjuan daun pisang di Jalan Pagongan Kota Cirebon.

Cirebon,- Berjualan jauh hari demi hari, membawa Dasiri, selama 20 tahun menjalani profesinya tersebut. Daun pisang bagi wanita asal Kapetakan Kabupaten Cirebon ini menjadi pundi-pundi yang bisa menyekolahkan ke-5 anaknya hingga kuliah.

Setiap hari, satu angkot daun pisang dibawa dari Kapetakan ke Jalan Pagongan Kota Cirebon untuk dijual. Mulai dari pukul 16.00 sampai dengan 21.00 WIB, lapaknya selalu ramai didatangi para pencari daun.

Aston Hotel

“Akeh wong tuku godong kanggo didol maning, kanggo gawe botok roti, lemper, lontong lan sejene, (banyak yang beli daun untuk dijual lagi untuk dibuat botok roti, lemper, lontong dan lainnya) ” ungkap Dasiri dengan bahasa Cirebon di sela-sela aktivitas berjualan.

Lapaknya persis di sebelah kiri setelah perempatan Pagongan. Harga per iketnya bervariatif mulai dari Rp 5.000, Rp7.000, Rp10 ribu, dan Rp15 ribu. Tergantung ukuran dan kualitas daunnya.

Bisanya para pelanggan memilih sendiri, atau meminta langsung jenis daun yang diinginkan. Tak jarang pula pelanggan yang tawar menawar saat Dasiri menentukan harga. Hal ini sangat lumrah terjadi ketika pembeli berusaha mendapatkan harga yang lebih murah.

Berkat ketelatenannya berjualan selama 20 tahun, saat ini lapaknya sudah memiliki banyak pelanggan. Bahkan Dasiri mengatakan beberapa pelanggannya ada yang datang dari Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan ada pula sesekali dari Bandung.

Dalam sehari, Dasiri mengaku bisa mendapatkan omzet hingga Rp4 juta.

“Lamun lagi rame dagangane ya sedina oli patang juta, lamun sepi pisan ya rong juta,” ujarnya.

Kesehariannya, mulai pagi sampai siang hari, suami beserta anak dan mantunya membantu membereskan daun menjadi satu ikat dengan ukuran yang sama. Dengan begitu, Dasiri bisa dengan rapih dan lebih simpel saat berjualan.

Sore dan malam hari, sang suami siap siaga mengantar dan menjemputnya. Dasiri tidak berjualan sendirian, melainkan bersama anaknya secara bergiliran.

Rupanya, profesi menjual daun pisang ini sudah sejak jaman neneknya, turun temurun selama berpuluh-puluh tahun. Perkembangan penjualan dirasakan oleh Dasiri beberapa tahun belakangan ini. Dia menceritakan bahwa dulu jualannya tidak seramai sekarang.

“Bengen sih masih sepi, langane bae setitik. Tapi ya sekien wis pada weruh, langgane akeh dagangane dadie rame,” tambahnya.

Cuaca hujan tidak menyurutkan semangatnya. Wanita berusia 50 tahun ini tetap berjualan memenuhi kebutuhan pelangganya. Memang tidak seramai biasanya, namun pelanggan setianya tetap saja datang walaupun cuaca hujan. Lapak berjualannya pun tidak digelar seperti hari-hari biasa, lebih dekat dengan tembok ruko-ruko agar daun tidak terkena air hujan.

“Prei dagang biasane rayaan bae. Sejene sih dagang unggal dina. Lamun sakit ya angger dagang, tapi sing dagangan anak, soale wis pada paham regane,” tutupnya. (AC560)