Dosen Arsitek Unpar: Merancang Bangunan yang Tidak Perhatikan Keamanan, Bisa Mendorong Terjadinya Kebakaran

Cirebon,- Ratusan peserta mengikuti Seminar Gratis Penanggulangan dan Solusi Bencana Kebakaran, yang berlangsung di Onxy Room, Aston Cirebon Hotel, Jalan Brigjen Darsono, Bypass, Cirebon, Minggu (22/9/2018).

Seminar Bencana Kebakaran yang digagas oleh Aston Cirebon Hotel & Convention Center ini mengundang dosen Arsitektur dari Universitas Parahyangan Bandung, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Cirebon, dan juga Risk Awareness Inspirator.

Salah satu dosen Arsitektur dari Universitas Parahyangan Bandung, Riyandi menyambut baik dengan adanya seminar ini, karena dapat memberikan wawasan yang positif terhadap masyarakat tentang bahaya-bahaya terkait dengan kebakaran.

BACA YUK:  Tingkatkan Kesadaran dan Solidaritas Sosial, Aston Cirebon Hotel Siap Gelar Donor Darah

Manurut Riyandi, faktor penyebab kebakaran biasanya dari faktor manusia itu sendiri, kemudian juga dari desain bangunan.

“Jadi merancanga bangunan yang tidak memperhatikan keamanan, bisa mendorong terjadinya kebakaran,” ujarnya kepada About Cirebon.

Lebih lanjut, kebakaran karena faktor manusia juga kadang suka lupa dan lalai, bahwa mungkin ada barang-barang atau material yang mudah terbakar, kemudian dari listik, hingga dari puntung rokok.

“Banyak aspek yang bisa mempengaruhi kebakaran,” terangnya.

Karena kami dari arsitektur, kata Riyandi, kita bicara terkait bangunannya. Sebenarnya, secara bangunan bisa membagi dua untuk pencegahan yaitu secara desainnya, secara pasif artinya secara bangunan tanpa ada peralatan apapun bisa menyelamatkan manusia dari kebakaran.

BACA YUK:  HUT ke-11, Aston Cirebon Hotel Bagikan Tanaman Hias Pada Tamu

“Seperti contoh bagaimana menempatkan tangga kebakaran, kemudian persyaratan-persyatan lain, jarak pencapaian, lalu cara evakuasinya seperti apa,” bebernya.

Kalau secara aktif, Riyandi mengatakan bisa menggunakan alat-alat pemadam kebakaran seperti hydrant, splingker, dan lain-lain.

“Biasanya begitu prakteknya kalau didalam membuat bangunan itu agar mencegah terjadinya kebakaran terhadap sebuah bangunan,” ujarnya.

Menurut Riyandi, pemukiman atau pertokokan yang rawan kebakaran itu karena kepadatan yang tinggi, kumuh, dan terbuat dari material-material yang memicu terjadinya percikaan api.

“Biasanya memang, daerah kepadatan tinggi itu harus menjadi fokus untuk diperhatikan. Karena, tidak hanya secara pasif saja bisa diselesaikan, tapi secara aktif pemerintah juga memberikan semacam penyuluhan dan pencegahan pemasangan hydrant untuk lingkungan,” tandasnya (AC212)

Bagikan:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *