Cirebon Tanpa Tanda Baca

0
1619
Nissa Regganis

Cirebon Tanpa Tanda Baca
Oleh: Nissa Rengganis (Penulis adalah Juara II Lomba Menulis Ide “CirebonKudu Priben)

Hari-hari penuh perayaan. Upacara. Lomba-lomba. Atribut-atribut memadati jalan. Karnaval. Jargon-jargon. Kisah-kisah heroik, hingga kontes menyanyi lagu-lagu dangdut cerbonan. Semuanya menjadi. Jika kebijakan impor menjadi semacam kebiasaan para pengambil keputusan, jika reality show bernuansa dramatik-komedik sejak beberapa tahun lalu melanda media-media, dan jika masyarakat kita gemar menjadi followers atas berbagai ekspansi budaya asing, maka “idols of many thing” bergerak massif melintasi sekat-sekat segmentasi komunal dalam kebudayaan kita. Tak heran jika perayaan ke-646 kota Cirebon kerap dipadati keriuhan pesta pora yang menyeret kita keluar dari ruang sunyi, dari sebuah kota dengan ingatan-ingatan kelam, juga sejarah yang masih menunggu untuk digali.Kita terlampau haha-hihi untuk bisa menghayati sebuah kota. Kota yang gersang akan budaya literasi. Kota yang setangah hati menyajikan ruang baca dengan mengampanyekan budaya tulis dan membaca. Adakah kampanye macam ini?

Aston Hotel

Segalanya bisa terjadi disini, di kota dengan slogan-slogan kota budaya. Kota yang lebih ramai dengan kampaye pilkada ketimbang diskusi mahasiswa. Kota yang lebih memenangkan mall daripada gedung kesenian.Kota yang dipenuhsesaki manusia-manusia dunia ketiga dimana tubuhnya terguncang-guncang oleh sepi yang terseret ke mall dengan pendingin ruangan. Manusia-manusia yang di dalam kepalanya hanya ada perayaan-perayaan tanpa tahu kemenangan. Tapi, kita masih boleh bertanya: kenapa harus terjadi di sini? Kenapa pemerintah dan mereka yang turut meramaikan hari kemenangan kota Cirebon tidak membicarakan soal-soal kemasyarakatan, atau sederet panjang soal-soal kotanya yang tak kunjung selesai? Kenapa kita semua seakan membiarkan persoalan bencana, human traffiking, korupsi, konflik atas nama agama, anak jalanan merayakan hari tanpa sekolah,UMR yang di bawah rata-rata, hingga absennya taman baca di kota yang konon berbudaya ini. Persoalan inihanya lewat sambil lalu dan menjadi basi di setiap koran pagi? Kita masih terus latah merayakan dengan lomba dan segala perayaan-perayaan. Dan kata-kata Prof. Thomas C. O’Guinn pun jadi benar:twenty-first century society is all abaut celebrity. Itulah wajah kota kita hari ini.

Cirebon adalah ruang yang membutuhkan ruang. Sebuah ruang yang dinamis untukmenyatakan pikiran-pikiran, sebuah ruang yang hidup karena terus dihidup-hidupi olehpara penghuninya. Cirebon beberapa tahun ini nyaris tak memiliki itu. Semuanya seakanbergerak materialis dan serba pragmatis. Jika referensi kota budaya adalah seberapa banyak buku yang lahir dari penghuninya, seberapa banyak perpustakaan daerah atau taman baca juga ruang-ruang kreatifitas yang hidup di dalamnya, maka boleh jadi kita berduka atas apa yang ada di kota ini. Sebab kita terus dikepung berita-berita politik setiap hari. Kita terus dikejar oleh sederet peristiwa yang mencekam. Kini, kita tengah hidup dalam dunia dimana batas tidak lagi mengenal tapal, rangkaian peristiwa yang berlalu-lalang dapat seketika mengejar lalu tertinggal. Saya percaya, ketika ada ruang baca pada sebuah kota dengan segala keriuhan di dalamnya, ada beberapa diantara kita yang kelak menjadi mesin pengingat dalam gegap gempita ini.

Tengoklah Perpustakaan 400; satu-satunya perpustakaan yang dimiliki pemerintah kota Cirebon dengan jumlah pengunjung yang itu-itu saja. Dengan koleksi buku yang jadul dan ruang baca yang gak cozy bagi kalangan anak muda. Kondisi ini kemudian diperparah dengan bangkrutnya satu toko buku besar di kota budaya ini. Gersanglah proses kreatif kita, jika untuk mencari satu buku saja harus jauh-jauh menyebrang ke kota tetangga. Saya percaya pada apa yang disampaikan salah satu filsuf Yunani yang mengatakan bahwa membaca adalah cara terbaik untuk mengenal dirimu dan sekitarmu. Lantas apa yang bisakita gali perihal kota Cirebon tempat saya lahir, tumbuh besar dan mungkin beranak-pinak, jika literature (red:buku) perihal Cirebon sulit diakses. Jika perpustakaan yang satu-satunya dimiliki kota ini menjadi tempat sungil bagi kalangan anak muda. Jika orang-orang lebih gemar memiliki koleksi android dan motor baru. Sementara, buku-buku sejarah hanya disimpan dalam almari penuh debu. Semakin celaka pulajika ruang-ruang yang terus dibangun di kota ini sekadar bicara soal profit oriented. Dan pemerintah seakan membiarkan kami semua terjebak menjadi masyarakat konsumtif tanpa daya nalar berpikir kritis. Ah sial. Siapa salah siapa?

Istana Kerang

Kita tahu, dewasa ini budaya baca-tulis di kalangan pelajar kian memudar. Pesatnya kemajuan teknologi dan semakin mudahnya interaksi tidak dibarengi dengan penguatan kreatifitas. Di sekolah-sekolah, misalnya, nyaris tidak kita temukan ruang-ruang dimana para siswa dapat mengekspresikan kecenderungan-kecenderungan kreatifnya. Terutama sekali kreatifitas literasi. Sekalipun kita tahu, membangun budaya literasi dan ruang diskusi di kota yang lebihmemenangkan swalayan-swalayan daripada gedung kesenian atau ruang-ruangpertunjukan memang bukanlah perkara gampang. Saya sadar betul bahwa saya dan kita semua memang tengah hidup di kota yangdipenuhsesaki berita pilkada, pohon-pohon yang membangkai, dengan anak-anak mudanya gemar tawuran dan merasa jagoan dengan menjadi geng motor, juga bercita-cita menjadi makelar.

Dari kegaduhan itu adakah diantara kita yang berupaya menepi dan mencari ruanguntuk tempat berbagi dan mendalami segela fenomena yang begitu cepat datang pergi. Adakah?Kemanakah kita harus menziarahi naskah-naskah kuno Cirebon yang adiluhung itu? Jika kabar buruknya bahwa ada sekitar 300-an teks kuno yang memiliki nilai bersejarah kini tersebar di berbagai lembaga di Inggris. Sialnya, si Werner Kraus, sosiolog antropolog Jerman itu melontarkan pertanyaan pedas; bila teks –teks naskah itu dikembalikan ke Indonesia, sanggupkah merawatnya? Astaga. Bahkan keraguan ini bukan hanya dating dari diri saya. Inilah persoalannya, alih-alih membicarakan soal ruang, roh dari ruang itu saja sudah bergentayangan di Negara bukan Indonesia. Bagaimana kabar Cirebon berikut naskah-naskah kunonya? Dimana perpustakaan penuh buku itu?

Jika boleh jauh melompat pada Perang Dunia II yang meninggalkan puing-puing dan kemuraman hingga melahirkan karya-karya penuh penderitaan, duka lara dan keputusasaan akan hidup, barangkali hari ini kita pun tengah berada di sebuah kota yang sakit. Sebuah kota yang telah menemui masa yang lebih muram dari apa yang di alami Srintil dalam rekaman Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Sebuah kota yang lebih absurd dari apa yang ditulis Albert Camus. Sebuah kota yang memaksa kita untuk menyaksikan ratusan peristiwa mengerikan dan tragis yang jauh melebihi batas imajinasi para pereka cerita. Anak membunuh ibunya, memperkosa adiknya, memutilasi tubuh ayahnya hingga berakhir pada adegan membakar rumah dan dirinya sendiri. Atas segala yang terjadi hari ini, di sebuah kota yang kita huni, mungkinkah kita masih punya sisa-sisa harapan dan optimisme untuk melawan kota yang hampir runtuh ini. Atau kita memilih untuk membiarkannya. Melupakannya. Meninggalkan yang mati, dan ziarah ke kota lain yang mungkin menjanjikan.

Dari segala tetek-bengek perbincangan ini, satu yang saya tegaskan: Cirebon butuh tanda baca. Cirebon harus tumbuh dan ramai dibarengi dengan lahirnya ruang-ruang baca. Saya tidak meminta mall dengan penuh pendingin ruangan. Tidak juga meminta bangunan apartemen yang tinggi menjulang. Saya hanya meminta keseriusan pemerintah kota untuk membuka ruang baca; ruang yang dipenuhsesaki buku-buku dan sederet peristiwa kebudayaan. Semoga akanada hari dimana kota ini sepi dari perbincangan politik praktis. Semoga akan ada hari dimana orang-orang tengah asik membaca dan berjelajah pada sejarah yang minta untuk digali. Boleh saja ini kota jadi kota wisata. Tapi sesekali bolehkah kami memiliki wisata ilmu? Pak, percayalah buku adalah sebaik-baiknya perjalanan. Dan membaca adalah upaya setiap orang untuk menolak amnesia.
Cirebon butuh ruang baca!
Cirebon butuh tanda baca!
**Nissa Rengganis perempuan kelahiran kotaCirebon, 08 September 1988. Menyelesaikan studi Jurusan Ilmu Politik di Universitas Negeri Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Semasa kuliah aktif di Teater Sianak dan mengelola Komunitas Terang Sore yang fokus pada isu pendidikan dan kampanye budaya membaca. Menulis puisi dan esai. Beberapa karyanya dimuat di media lokal dan antologi bersama “Bulan Pecah: 2011. “Jakarta Literare Festival, 2011”, “Penyair Jawa Barat Kontemporer, 2012”. “Sauk seloko-Pertemuan Penyair Nusantara, 2012. “Negeri Abal-Abal: Antologi Penyair Indonesia Negeri Poci-4”, 2013. “Penyair Perempuan KPPI-2014” “Puisi untuk HAM”. Antologi puisi tunggalnya “Manuskrip Sepi” meraih penghargaan dan menang sayembara puisi terbaik Hari Puisi Indonesia 2015. Menyelesaikan pascasarjana Hubungan Internasional di UGM konsentrasi Global Humanitarian Diplomacy. Bersama teman-temannya mendirikan dan mengelola Komunitas Rumah Kertas—rumah sastra yang diisi muda-mudi Cirebon. Ia bergentayangan di twitterland @NissRengganis