Cirebon Runners Borong Podium dalam Event SHTR 2018

0
91

Cirebon,- Cirebon Runners memborong podium di 3 kategori perlombaan lari dalam event Sentul Hill Trail Run (SHTR) 18-19 Agustus 2018. Dengan jumlah peserta 365 orang yang dibagi dalam kategori 30K, 65K, dan 100K, sudah tercatat pencapaian prestasi di komunitas ini.

Untuk kategori 30K Male, diraih oleh Margono di Podium 2, dan Hilman Maulana di Podium 3. Sedangkan kategori 65K Male, diraih oleh Daniel Jensen di posisi Podium 3 dan Bayu Raharja di Podium 4 (all category podium 1-5). Kemudian, di kategori 100K Female dijuarai oleh Grace May di Podium 1.

Aston Hotel

[Baca juga : Perjuangan Berlari Tanpa Henti Selama 23 Jam, Bawa Pelari Cirebon Runners Raih Juara SHTR Kategori 100K]

Founder Cirebon Runners, Daniel mengatakan yang terpenting adalah konsistensi. Karena dia yakin tidak ada hasil yang instant.

“Yang terpenting lainnya adalah tidak ngoyo, dalam artian jangan menambahkan jarak atau intensitas latihan lebih dari 10% setiap minggunya, agar bisa terus konsisten,” terangnya.

Termasuk dalam event ini, 8 peserta dari Cirebon Runners ikut serta. Daniel awalnya hanya menargetkan untuk kategori 30K saja, karena jarak ultra marathon susah diprediksi dan banyak faktor lain yang harus dilalui selain jarak.

[Baca juga : Suka Mendaki Sejak Kecil, Membawa Grace May Raih Berbagai Prestasi Lari]

“Karena tinggal di Cirebon sudah terbiasa panas-panasan, dan saat mendapatkan track di Sentul kemarin itu tantangan utamanya memang suhu yang relatif tinggi,” curhatnya.

Dalam lomba tertentu seperti di Sentul, Daniel mengatakan sudah terdaftar di International Trail Running Association (ITRA), sehingga pelarinya mendapatkan point. Nantinya point tersebut bisa digunakan di perlombaan internasional sebagai bukti level ketangguhan saat pendaftaran.

“Misal, Grace kemarin mendapatkan 5 point ITRA untuk jarak 100km,” imbuhnya.

Selain event tersebut, Daniel mengaku pada umumnya ada satu atau dua anggota yang mengikuti perlombaan ternama. Terkadang pilih-pilih event yang biasanya mempertimbangkan jarak tempuh. Mereka biasanya lebih sering ikut event-event di Jawa Barat, Jakarta dan Jawa Tengah.

“Dengan dibukanya Bandara Kertajati semoga semakin gampang akses race luar pulau seperti Jawa Timur, dan bisa ikutan di tempat lainnya,” ujarnya.

Sejak tahun 2015 Cirebon Runners berdiri, dan saat ini sudah ada sekitar 300an pelari yang bergabung. Namun yang aktif setiap minggunya sekitar 70-100 orang. Mereka melakukan latihan umum setiap Rabu malam, sekali latihan dalam seminggu dengan variasi program berbeda setiap minggunya. Untuk jarak larinya sendiri biasanya kisaran 5-11 km tergantung kecepatan.

Tetapi, dil uar reboan (terminologi untuk latihan Rabu malam) para pelari umumnya ketemuan di hari-hari lain untuk lari bersama sesuai program masing-masing individu. Khusus untuk lari jarak jauh (long run) biasanya dilakukan pada Minggu pagi. Dibagi dua spesialisasi, ada yang long run di berbagai desa-desa kaki gunung Ciremai, ada pula yang memilih long run berkeliling aspal kota dan kabupaten Cirebon.

“Kedepannya, melalui Cirebon Runners ini bisa terus menularkan virus lari kepada masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Kemudian, bisa membawa kebanggaan kepada warga Cirebon dengan prestasi-prestasi yang membuktikan bahwa kita tidak kalah saing dalam pertandingan level nasional maupun internasional di bidang lari,”tegasnya. (AC560)